mahasiswi
1 bulan lalu · 59 view · 3 min baca menit baca · Pendidikan 98752_78071.jpg
acch.kpk.go.id

Pendidikan Antikorupsi untuk Selamatkan Generasi Emas Indonesia

Perkembangan ekonomi yang makin maju di dunia tampaknya masih belum dapat dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia. Makin tinggi bantuan dana yang diberikan pemerintah untuk pembangunan bangsa, menjadi peluang bagi koruptor untuk mencuri uang negara. 

Melansir data yang dikeluarkan oleh  The Word Economic Forum, Indonesia berada pada posisi 80 negara terkorup di dunia tahun 2018. Melihat tingginya posisi Indonesia dalam daftar negara terkorup di dunia, menunjukkan bahwa korupsi masih menjadi salah satu musuh terbesar pembangunan di Indonesia. 

Berdasarkan data ICW tahun 2018, Indonesia harus mengalami kerugian negara hingga Rp5,6 triliun. Jumlah yang fantastis mengingat masih banyak penduduk Indonesia yang menunggu bantuan negara untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

Oknum penggerak korupsi di Indonesia sangat mengejutkan, mereka adalah pemimpin-pemimpin dan wakil negara yang dipilih oleh masyarakat untuk menyejahterakan bangsa, namun ternyata mencuri pundi-pundi uang negara dan digunakan untuk menyejahterakan diri mereka sendiri. menyedihkan, bukan? Mengingat pemimpin adalah panutan bagi seluruh masyarakat. 

Tingginya angka korupsi ini menyebabkan banyaknya orang mempertanyakan di mana sikap jujur dan budi luhur para tersangka korupsi. Apakah mereka tidak mengerti dampak dari korupsi? Atau tidak dibekali dengan moral dan hati nurani yang bersih? Pertanyaan yang terus muncul setiap tersangka korupsi tertangkap satu per satu. 


Berbagai pencegahan dilakukan oleh negara untuk menyelamatkan penerus bangsa dari jiwa korupsi agar tidak tertanam dalam diri pemuda Indonesia dan menjadi hal biasa dalam kehidupan. Kajian mengenai bahaya dari korupsi juga secara intensif disajikan bagi pelajar hingga mahasiswa.

Pemerintah, organisasi masyarakat, dan para tenaga pendidik melakukan pendekatan dengan media interaktif untuk menayangkan dampak dari korupsi untuk kembali meluruskan moral pemuda agar tidak mengikuti jejak koruptor di Indonesia ke balik jeruji besi karena tergoda dengan kekuasaan dan harta.

Pendidikan antikorupsi digencarkan kembali pada kurikulum pendidikan nasional, mulai dari tahap sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Jenis-jenis penyampaiannya disesuaikan dengan tingkat pemahaman tiap jenjang sekolahnya.

Penyampaian pendidikan antikorupsi disajikan dengan berbagai cara. Ada yang dalam bentuk media agar menarik, diskusi dan debat bagi mereka yang suka menyuarakan pendapatnya, dengan tujuan mencari solusi langkah apa yang seharusnya dilakukan untuk menurunkan angka korupsi di Indonesia.

Pendidikan antikorupsi ini diharapkan mampu memberikan kesadaran pada setiap warga negara betapa bahayanya korupsi bagi kelangsungan perekonomian negara. Mulailah dengan menghargai setiap proses yang dialami, bukan hanya berdasarkan nilai saja. Karena pada kenyataannya, pendidikan Indonesia masih berorientasi pada hasil tidak pada proses.

Secara sosial, seluruh keluarga Indonesia diharapkan mampu memberikan edukasi yang tepat mengenai moral antikorupsi. Dimulai dari hal kecil, setiap orang tua mampu menumbuhkan rasa kejujuran dan menjaga tanggung jawab yang dilimpahkan kepada anak-anaknya.

Penanaman etika dan moral yang baik sejak kecil sangat dibutuhkan karena ketika dewasa mereka akan memandang suatu permasalahan sesuai dengan apa yang dipelajari saat kecil, mengenai apa yang benar dan apa yang tidak. 

Kisah pendidikan antikorupsi yang dilakukan di rumah diceritakan oleh Mutia Hatta, anak sulung Bung Hatta. Ia mengisahkan kalau mobil RI-2 hanya dipakai oleh ayahnya, termasuk ibunya pun tidak diperbolehkan menaiki mobil RI-2, kecuali untuk acara kenegaraan.

Pola asuh antrikorupsi ini akan lengkap jika diimbangi dengan pola hidup sederhana meskipun serba ada. Pola hidup sederhana ini akan menjadi pagar pelindung bila diserang dengan uang, karena orang yang sederhana akan bersyukur dengan apa yang dimiliki dan diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa serta tidak mengambil uang yang bukan haknya.

Perbaikan kondisi pendidikan dan pola asuh antikorupsi orang tua di rumah dengan dukungan pemerintah harus terus dilakukan secara konsisten dan sinergis untuk menghasilkan output maksimal. 

Pencegahan terbentuknya mental yang menghalalkan segala cara untuk meningkatkan kekayaan diri sendiri dengan uang negara pada generasi emas Indonesia di masa depan menjadi kepribadian yang diharapkan dapat terbentuk dari pendidikan antikorupsi ini. 

Generasi yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia saat ini adalah mereka yang mampu mengatakan "TIDAK" pada korupsi. Penyadaran pentingnya budaya antikorupsi menjadi PR besar yang akan terus dibawa oleh bangsa Indonesia dari tahun ke tahun bila tidak segera dituntaskan.


Mengacu pada tujuan pendidikan antikorupsi di atas, maka diharapkan pembelajaran yang diberikan dapat terus berkelanjutan. Generasi muda saat ini harus mampu merasakan bahwa mereka juga merupakan bagian dari Negara Indonesia yang bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi di dalamnya, termasuk pencurian uang negara oleh para koruptor. 

Apabila para tenaga pendidik dan orang tua mampu membuat generasi saat ini sadar betapa krusialnya posisi mereka dalam pemberantasan korupsi, menyadarkan bahwa ini bukan hanya urusan politik semata, tetapi menyangkut kesejahteraan masyarakat, maka makin mereka mampu memaknai tugas pencegahan korupsi yang coba ditanamkan oleh negara.  

Sumber:

https://nasional.kontan.co.id/news/icw-sebanyak-454-kasus-korupsi-ditangani-sepanjang-tahun-2018

Artikel Terkait