Lagi peristiwa duka yang merusak rasa kemanusiaan kembali terjadi di negeri tercinta. Betapa tidak peristiwa tersebut dilakukan secara sengaja dan direncanakan oleh orang-orang yang mengaku beragama. Sedangkan korbannya adalah orang- orang yang tidak memiliki dosa dan rakyat biasa yang tidak memiliki kepentingan strategis. 

Sehingga atas dasar rasa kemanusiaan seluruh rakyat Indnesia berduka dan mengutuk tindakan tersebut. Dengan alasan apapun tindakan tersebut tentunya tidak dibenarkan oleh siapapun dan agama manapun.

Indonesia adalah negara damai yang selalu menjaga persatuan sehingga tidaklah tepat apabila dijadikan tempat untuk jihad apapun bentuknya. Jihad haruslah dilakukan dengan cara yang tepat ditempat yang tepat pula, sesuai dengan syariat Islam. 

Apabila dilakukan dengan cara yang membabi buta bukannya jihad yang didapat akan tetapi hanya meghasilkan kejahatan terorisme dan radikalisme yang akhirnya hanya akan mati konyol.

Terjadinya peristiwa terorisme dalam bentuk pengeboman akibat dari pemaknaan jihad yang tidak tepat, oleh karena itu upaya untuk meluruskan makna jihad wajib dilakukan oleh para tokoh agama kepada generasi muda. 

Para pelaku terduga teroris, bukanlah orang yang tidak berpendidikan atau tidak berpengetahuan. Akan tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang cerdas dan pintar dari berbagai bidang. Sehingga sangat disayangkan potensi kecerdasan mereka digunakan untuk membunuh sesama yang tidak berdosa.

Lembaga pendidikan sebagai institusi yang membentuk sikap, ilmu pengetahuan dalam sumber daya manusia yang berkualitas, tentunya memilki peran startegis untuk menanggulangi tindakan terorisme dan radikalisme yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang pintar. 

Lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah contohnya harus lebih aktif lagi membentengi siswanya dari berbagai pemahaman radikalisme. Hal tersebut mengingat ada sebagaian sekolah dibeberapa kota besar yang berafiliasi keagamaan ditengarai memilii intoleransi yang cukup tinggi.

Hal tersebut tumbuh dari benih rasa kebencian terhadap orang lain yang berbeda keimanan, selalau menganggap yang tidak seagama harus dimusuhi. Sehingga pemikiran tersebut sungguh sangat bahaya ketika mereka menjadi dewasa. Selain itu bentuk paham radikalisasi masuk ke sekolah biasanya melalui buku-buku bacaan anak. 

Buku bacaan tersebut biasanya secara tersembunyi disisipkan paham-paham kekerasan atas nama agama ataupun paham berjihad memerangi orang yang berbeda. Paham-paham radikal tersebut tentunya tidak boleh tumbuh sumber di lingkugan sekolah.

Masuknya paham-paham radikal ke sekolah bukanlah hanya isapan jempol semata atau hanya angin lalu akan tetapi hal tersebut berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam waktu tertentu. 

Bahkan baru-baru ini ditemukan buku bacaan anak TK di salah satu kota besar Indonesia yang berisi paham kekerasan. hal tersebut  telah melaporkan kepada pihak terkait agar peredaran buku yang berjudul” Anak Islam Suka Membaca” segera ditarik dari peredaran. Sedikitnya ada 32 kalimat mengandung benih-benih radikalisme yang tidak layak dibaca untuk anak-anak. 

Diantara kata-kata tersebut diantaranya, “Gegana Ada Dimana”, “Bahaya Sabotase”, “Cari Lokasi Di Kota Bekasi”, “Gelora Hati Ke Saudi”, “Bom”, “Sahid Di Medan Jihad”, kemudian “Selesai Raih Bantai Kiai, “Bid`ah”, “Basoka Dibawa Lari”, “Topi Baja Kena Peluru”, kemudian “Ada Upaya Feminisasi”.

Bercermin dari peristiwa tersebut, seyogyanya semua lembaga pendidikan apapun bentuknya, para guru, orang tua agar lebih ketat mengawasi anaknya dari ancaman paham radikalisme yang biasanya mengatasnamakan agama. 

Orang tua harus mengawasi pergaulan serta kegiatan anaknya dengan siapa mereka bergaul serta berkomunikasi. Selain itu orang tua juga wajib mengawasi anaknya dalam hal pergaulannya di dunia maya. Dengan siapa saja anak kita bergaual di media sosial dan dunia maya dengan berbagai bentuknya. 

Terorisme merupakan kejahatan transnasional sehingga cara komunikasi dan propagandanya banyak dilakukan lewat dunia maya. Itulah pentingnya pengawasan orang tua dalam dunia maya anaknya.

Keterbukaan komunikasi merupakan langkah preventif terhadap masuknya paham radikal pada anak-anak kita. Anak yang baik dalam bergaul, pandai bukan jaminan tidak dapat dimasuki paham radikal. Oleh karena itu kewaspadaan pencegahan melalui komunikasi dialogis, merupakan langkah penting yang harus dilakukan oleh orang tua dan para guru di sekolah.

Dalam menyikapi berbagai peristiwa serta pemberitaan terkaitan tindakan terorisme yang terjadi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan kebijakan yang sangat baik sekali. Hal tersebut dilakukan dalam rangka memberikan pemahaman terkait kejahatan terorisme dengan segala pemberitaanya. 

Tentunya agar anak-anak mendapatkan informasi yang tepat, dari sumber yang bertanggung jawab. Menteri Pendidikan mengeluarkan edaran tentang panduan tata cara komunikasi antara guru dengan siswa dan orang tua dengan anaknya terkait dengan kejahatan terorisme. 

Kemendikbud membagi dua panduan tata cara komunikasi tersebut yaitu pertama panduan komunikasi antara guru dengan anaknya. Kedua panduan komunikasi orang tua dengan anaknya.

Dalam panduan tersebut, hal-hal yang harus dilakukan oleh guru terhadap siswanya berkaitan dengan kejahatan teroris, guru diharapkan melakukan langkahlangkah sebagai berikut, pertama Sediakan waktu bicara pada siswa tentang kejahatan terorisme. Siswa sering menjadikan guru tempat mencari informasi dan pemahaman tentang apa yang sedang terjadi. 

Kedua, bahas secara singkat apa yang terjadi, meliputi faktafakta yang sudah terkonfirmasi. Jangan membuka ruang terhadap rumor, isu dan spekulasi. Ketiga, beri kesempatan siswa untuk mengungkapkan perasaannya tentang tragedi/ kejahatan yang terjadi. Nyatakan dengan jelas rasa duka kita terhadap para korban dan keluarganya. 

Keempat, arahkan rasa kemarahan pada sasaran yang tepat, yaitu pada pelaku kejahatan, bukan pada identitas golongan tertentu yang didasarkan pada prasangka. Kelima, kembali pada rutinitas normal. Terorisme akan sukses apabila mereka berhasil mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan kehidupan kebangsaan kita. 

Keenam, ajak siswa berpikir positif. Ingatkan bahwa negara kita telah melewati banyak tragedi dan masalah dengan tegar, gotong-royong, semangat persatuan dan saling menjaga. 

Danketujuh, ajak siswa berdiskusi dan mengapresiasi kerja para polisi, TNI dan petugas kesehatan yang melindungi, melayani dan membantu kita di masa tragedi. Diskusikan lebih banyak tentang sisi kesigapan dan keberanian mereka daripada sisi kejahatan pelaku teror.

Sementara itu panduan bagi orang tua, yaitu orang tua diharapkan melakukan langkah-langkah sebagai berikut kepada anak-anak yaitu, pertama cari tahu apa yang mereka pahami. Bahas secara singkat apa yang terjadi, meliputi fakta-fakta yang sudah terkonfirmasi, ajak anak untuk menghindari isu dan spekulasi. 

Kedua hindari paparan terhadap televisi dan media sosial yang sering menampilkan gambar dan adegan mengerikan bagi kebanyakan anak, terutama anak di bawah usia 12 tahun. 

Ketiga identifikasi rasa takut anak yang mungkin berlebihan. Pahami bahwa tiap anak memiliki karakter unik. Jelaskan bahwa kejahatan terorisme sangat jarang, namun kewaspadaan bersama tetap perlu. 

Keempat, bantu anak mengungkapkan perasaannya terhadap tragedi yang terjadi. Bila ada rasa marah, arahkan pada sasaran yang tepat, yaitu pelaku kejahatan. Hindari prasangka pada identitas golongan tertentu yang didasarkan pada prasangka. 

Kelima, jalani kegiatan keluarga bersama secara normal untuk memberikan rasa aman dan nyaman, serta tidak tunduk pada tujuan teroris mengganggu kehidupan kita. Kebersamaan dan komunikasi rutin sangat penting untuk mendukung anak. 

Keenam, ajak anak berdiskusi dan mengapresiasi kerja para polisi, TNI dan petugas kesehatan yang melindungi, melayani dan membantu kita di masa tragedi. Diskusikan lebih banyak tentang sisi kesigapan dan keberanian mereka daripada sisi kejahatan pelaku teror. 

Ketujuh, panduan ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi orangtua dan guru dalam mendampingi anakanak bila terjadi peristiwa lain, yang dapat berdampak pada anak-anak, tidak hanya soal kejahatan terorisme. (www.kemdikbud.go.id).

 Langkang konkrit yang sangat baik yang dikeluarkan bapak Menteri tersebut merupakan bentuk pencerahan masuknya paham radikalisme kepada anak didik. Diharapkan agar anak didik kita lebih paham makna jihad yang sebenarya yang sangat jauh berbeda dengan tindakan kejahatan terorisme. 

Sehingga anak-anak kita yang memiliki potensi kecerdasan lebih tidak terbawa arus negatif, paham radikalisme. Pada akhirnya mudahmudahan anak-anak kita generasi penerus bangsa lebih menghargai akan nilai-nilai kemanusiaan.