Teori tabula rasa menjelaskan bahwa jiwa anak-anak akan diwarnai oleh apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat dari lingkungan sekeliling mereka, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah. Program wajib belajar (wajar) 12 tahun mewajibkan setiap anak didik atau warga negara Indonesia bisa mengenyam bangku sekolah selama 12 tahun, yaitu sekolah hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Sekolah dan pendidikan adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Sebab, di mana ada sekolah, di situ akan ada pendidikan. Lantas, pendidikan seperti apakah yang diharapkan bisa membawa perbaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang rentan terjadi konflik kemanusiaan?

Cermin bopeng hasil pendidikan kita makin kentara. Imbasnya bisa kita lihat, seperti konflik yang disertai dengan kekerasan, para siswa yang hobi tawuran, tentara dan polisi ikut tawuran, pemeluk agama yang anarkis, terorisme, masyarakat yang rentan tersulut amarah dan mudah diprovokasi. Pendidikan yang tidak mampu mengasah ketajaman rasa, feeling dan hati nurani (God Spot).

Pendidikan yang seharusnya menjadi sarana mobilitas sosial telah berubah fungsi. Pendidikan hanya sekadar life style untuk mereguk gengsi, harga diri, dan kelas. Indonesia sebagai sebuah bangsa dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, namun masih rawan dengan beragam konflik, seperti konflik rasial, konflik antar kelompok sosial, konflik politik, konflik horizontal, maupun konflik antarkelas.

Sementara itu, dalam skala internasional, konflik politik dan ekonomi di balik tragedi kemanusiaan Rohingya makin menganga, konflik antaretnis di Myanmar yang begitu semakin memprihatinkan, dan perang terus berkecamuk di Timur Tengah. Salah satu penyebab yang menentukan itu semua karena dunia pendidikan belum membumikan satu variabel penting dalam praktiknya.

Masih maraknya kasus bullying di sekolah, beragam konflik, praktik kekerasan dan sejenisnya, dapat dipastikan bahwa sekolah tersebut berada pada level nol karena tidak ada perilaku yang bertanggung jawab. Interaksi sosial yang terjadi di lingkungan sekolah tidak lagi didasarkan atas nilai kasih sayang, saling menghargai, saling menghormati, akan tetapi justru kekerasan dan anarki menjadi budaya dan tradisi.

Jika itu terus terjadi, bisa dipastikan pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang cacat sosial (socio-idiot), yaitu generasi yang tercerabut dari nilai kesantunan dan kesopanan serta tidak lagi memiliki rasa simpati, pati, dan empati.

Tawuran massal, demo yang berujung anarkis, gesekan antarpelajar, perseteruan antara orang tua dengan guru masih kerap terjadi. Siapa yang tidak miris menyaksikan situasi bangsa seperti itu? Sungguh prihatin melihat situasi sosial-politik akhir-akhir ini yang dipenuhi oleh kekerasan dan kebencian berbasis sentimen primordial. Sebuah kegagalan terbesar dari sistem pendidikan kita.

Sebetulnya, itu bukan terletak pada masalah lemahnya pendidikan mencerdaskan rakyat, tetapi terletak pada masalah ketidakmampuan pendidikan menyadarkan rakyat terhadap permasalahan hidup yang nyata. Pendidikan malah membuat anak-anak kita menjadi tidak punya jati diri, kehilangan arah, dan cerdas tetapi tidak berakhlak.

Sebuah hasil studi secara sangat jelas menyatakan bahwa kualitas hubungan antara guru dan siswa semakin berkurang setelah siswa masuk ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan setelahnya (Freeman, Anderman, dan Jensen, 2007 ). Artinya, siswa kita dalam bahaya besar ketika para gurunya hanya fokus pada aktivitas mengajar saja. 

Bahkan, pendidkan agama hanya menjadi semacam “mata ajar” yang sangat dekat dengan dengan formalitas tetapi jauh dengan praktik dalam kehidupan nyata peserta didik dalam kehidupan keseharian mereka. Pendidikan agama dalam pendidikan kita belum mampu menanamkan nilai ketuhanan yang sesungguhnya, yang bisa menumbuhkan nasionalisme religius, kebersamaan dalam ikatan persatuan, dan kesatuan bangsa yang baik serta kohesi sosial.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, pendidikan agama harus mampu menanamkan nilai-nilai ketuhanan yang mendekatkan peserta didik untuk menjadi lebih beragama. Bukan malah sebaliknya, menjauh dari agama yang justru mereka pelajari di sekolah.

Para guru pendidikan agama jangan sampai terjebak pada pendekatan dan strategi belah bambu, yaitu mengagungkan dan menganggap agamanya yang dianutnya yang paling benar sambil merendahkan dan menjelekkan agama lain.

Pendidikan agama perlu membenahi tujuan utama pendidikan, yaitu selain memperhatikan aspek transfer ilmu agama, juga harus mengagendakan skema spirit wawasan nasionalisme yang dapat menumbuhkan proses transformasi nilai-nilai keagamaan yang universal secara natural.

Agar pendidikan agama menjadi jauh lebih efektif, terutama dalam mengagendakan keragaman masyarakat Indonesia yang majemuk, maka perlu ditinjau ulang tujuan dan isi pendidikan agama itu sendiri. Dari aspek tujuan, pilihan kata yang digunakan harus mudah untuk diukur. Sehingga sekolah dapat memberikan rapor akhlak kepada peserta didiknya secara periodik.

Sedangkan dari aspek isi, pelajaran agama harus diagendakan sebagai pintu masuk perbaikan karakter siswa melalui semua mata ajar atau melalui semua Kompetensi Inti.

Pendidikan agama perlu dipahami oleh guru bidang studi lain sebagai mekanisme implementasi standar cross-curricular approach. Pendekatan, strategi, dan metode ini jauh lebih efektif dalam mengajarkan agama kepada peserta didik.

Pembacaan strategi program pengajaran dan kebijakan pendidikan agama yang lebih baik diperlukan untuk mendukung dan meningkatkan kesadaran beragama yang lebih toleran, cinta damai, anti kekerasan, rahmatan lil alamin, dan tidak mudah terjebak dalam penghakiman keyakinan dan kepercayaan orang lain.

Agar pendidikan agama berada pada jalur yang benar, Robert Jackson (2004) menyarankan empat hal dalam implementasinya. Pertama, materi agama yang diajarkan harus merepresentasikan keragaman masyarakat yang memang unik. Kedua, materi agama harus memiliki kedalaman dan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbandingan tentang nilai-nilai kemanusiaan secara universal.

Kemudian, yang ketiga, materi agama harus memberi keleluasaan kepada siswa untuk reflektif melakukan perenungan tentang makna kebersamaan. Terakhir, (keempat), materi agama semestinya dapat dimasukkan ke dalam seluruh bidang studi atau mata ajar selain agama agar dapat mewarnai moralitas setiap bidang ilmu serta kegiatan ekstrakurikuler, bahkan kegiatan atau tugas pekerjaan rumah peserta didik.

Nilai-nilai agama yang berorientasi pada perbaikan akhlak akan terus membentengi kehidupan peserta didik,  baik di lingkungan sekolah, rumah, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini akan meredam timbulnya aneka  konflik dan masalah kemanusiaan.

Nabi Muhammad SAW diutus tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyempurnakan akhlak (HR. Abu Hurairah dan Anas Ibn Malik). Bahkan, Allah mengutus beliau membawa rahmat dan kasih sayang kepada seluruh alam (QS. Al-Anbiya 21:107).

Sheikh Ali Goma, mufti besar Mesir pernah mengatakan bahwa 97 persen isi dari Al-Quran dan Hadits membahas tentang etika sebagai esensi dari teologi Islam. Sebuah pesan moral tertinggi yang dinyatakan dalam Al-Quran. Bukan tentang hukum syariah yang menakutkan atau pemikiran radikal yang biasa diwakili oleh Islam fundamental.

Memang, praktis hanya 3,5 persen ayat-ayat yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT atau biasa kita sebut dengan ibadah mahdah. Sisanya adalah masalah muamalah atau hubungan horizontal antar umat manusia yang mencakup di dalamnya adalah wawasan kebangsaan sebagai sebuah konsep hidup bernegara yang menjunjung keadilan demi terciptanya kesejahteraan dalam satu kesatuan yang dilaksanakan secara sadar dan dalam ruang utuh NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Agama dan negara seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Indonesia sebagai negara yang agamis tentu harus senantiasa berupaya menerapkan semangat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama yang positioning akan membawa spiritualitas yang mendalam yang mampu menopang ketahanan sosial dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal ini akan berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara kita jika menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Prinsip Ketuhanan memiliki makna bahwa manusia merupakan khalifah atau wakil Tuhan di bumi yang memiliki tugas utama untuk mengelola alam sedemikian rupa sehingga terwujud kesejahteraan bersama.

Jika kita konsekuen dengan pasal 29 ayat 1 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi: “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.” maka tidak akan ada lagi kesempatan terjadinya kerusakan lingkungan, korupsi maupun konflik horizontal.

Selain itu, agama-agama di Indonesia akan membawa spirit dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kecenderungan negara untuk hegemonik sehingga mudah bersikap represif terhadap warga negaranyanya akan dkontrol dan diimbangi oleh roh keagamaan yang mengutamakan rahmatan lil’alamin. 

 Agama dapat menggali nilai-nilai yang mulia yang mampu bersifat melindungi dan mengayomi seluruh umat manusia serta menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi aksi  provokasi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Jika kita mengibaratkan pendidikan sekolah itu sebagai bangunan maka isi Al-Quran dan Hadits lah yang menjadi pondasi dasarnya. Pendidikan Agama Islam harus mengajarkan dan menanamkan cara hidup yang diturunkan oleh Allah kepada umat manusia melalui para rasul-Nya.

Tujuannya adalah mendidik anak didik dan manusia agar menjadi muslim sejati yang beriman, berakhlak mulia, menjadi warga masyarakat yang mandiri  yang mengabdi kepada Allah dan berbakti  kepada bangsa dan tanah airnya.

Sejatinya nilai-nilai ketuhanan dalam pendidikan agama hadir untuk memberikan solusi yang fundamental terhadap berbagai konflik dan masalah kemanusiaan yang timbul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama membawa konsep yang mendamaikan dan menyatukan masyarakat dalam satu ikatan yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Sependapat dengan Benjamin S.Bloom bahwa pendidikan agama khususnya di sekolah masuk dalam pendidikan afektif yang berkaitan dengan sikap, moral, etika, akhlak dan manajemen emosi.

Penciptaan iklim pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai afektif salah satunya dapat diterapkan melalui konsep menanamkan nilai-nilai ketuhanan di sekolah sebagai momentum pendidikan untuk reformasi baik vertikal maupun horizontal.