Pada umumnya, pendidikan agama yang diberikan di sekolah-sekolah tidak menghidupkan pendidikan multikultural yang baik, bahkan cenderung berlawanan.

Akibatnya, konflik sosial sering kali diperkeras oleh adanya legitimasi keagamaan yang diajarkan dalam pendidikan agama di sekolah-sekolah daerah yang rawan konflik. Hal ini membuat konflik mempunyai akar dalam keyakinan keagamaan yang fundamental sehingga konflik sosial dan kekerasan makin sulit diatasi, karena dipahami sebagai bagian dari panggilan agamanya.

Sebenarnya akar timbulnya berbagai konflik sosial yang membuahkan anarki yang berkepanjangan. Sering kali memang tidak ada hubungannya dengan agama. Tetapi dalam kenyataannya, agama selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari berbagai konflik sosial tersebut.

Kenyataan menunjukkan bahwa pendidikan agama masih diajarkan dengan cara menafikan hak hidup, sementara agama yang lain salah, tersesat, dan terancam hak hidupnya, baik di kalangan mayoritas maupun minoritas.

Semangat pendidikan keagamaan yang sempit ini sudah menjadi barang tentu berlawanan secara fundamental dengan semangat pendidikan multikultural, dan hanya akan memperlemah persatuan bangsa. Karena itu, pendidikan agama Islam harus direvitalisasi dan reaktualisasi secara lebih kreatif dan berwawasan multikultural sehingga tidak kehilangan jiwa dan semangatnya.

Dalam hal ini, pendidikan, apa pun bentuknya, tidak boleh kehilangan dimensi multikulturalnya, termasuk di dalamnya pendidikan keagamaan dan keilmuan, karena realitas dalam kehidupan pada hakikatnya bersifat multidimensional. Karena itu, untuk mengatasi problem kemanusiaan yang ada, tidak bisa lain kecuali dengan menggunakan pendekatan atau interpretasi yang multidimensional pula, yang di dalamnya adalah pendidikan multikultural.

Karena pada dasarnya masyarakat multikultural tidak hanya menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Dalam pengalaman paling dini historisitas keberagamaan Islam di era kenabian Muhammad, masyarakat yang pluralistik secara religius telah terbentuk bahkan telah menjadi kesadaran umum pada saat itu.

Bahkan, bukti empiris dalam perjalanan panjang sejarah peradaban Islam di masa lalu menunjukkan Islam secara inklusif dan sangat menghargai non-muslim. Sikap inklusif ada karena Alquran mengajarkan paham religius plurality.

Bagi orang Islam, dianut suatu keyakinan bahwa sampai hari ini pun di dunia akan terdapat keragaman agama. Meskipun ada klaim bahwa kebenaran agama ada pada Islam (QS. Ali Imran/3: 13). Namun dalam Alquran juga disebutkan adanya hak orang lain untuk beragama, dan agama tidak bisa dipaksakan kepada orang lain (QS. Al-Baqarah/2: 256). Sikap inilah yang menjadi prinsip pada masa kejayaan Islam sekaligus mendasari kebijakan politik kebebasan beragama.

Inklusivisme Islam tersebut juga memberikan formulasi bahwa Islam adalah agama terbuka. Islam menolak adanya eksklusivisme, absolutisme, dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pluralisme.

Hal inilah yang perlu ditanamkan pada peserta didik dalam pendidikan agama Islam agar bisa melahirkan sikap inklusif sekaligus toleransi aktif dan positif di kalangan umat beragama, sejalan dengan prinsip dan semangat Alquran agar fenomena lahiriah tidak menghalangi usaha untuk menuju titik temu (kalimat sawa’) antara semuanya.

Ajaran tauhid dalam Islam mengandung pengertian adanya suatu orde yang satu sekaligus menyeluruh. Dengan kata lain, terdapat hukum abadi yang universal. 

Hukum yang abadi dan berlaku secara universal adalah berawal dari suatu keyakinan bahwa manusia adalah satu dan tercipta karena kehendak yang satu, yaitu Tuhan pencipta alam. Kesadaran demikian hanya bisa tumbuh pada manusia yang menyadari prinsip-prinsip moral yang dapat mempersatukan perasaan sebagai dasar kebajikan universal.

Implikasi dari keyakinan bahwa seluruh manusia berasal dari sumber yang satu, yaitu Tuhan, berarti manusia seluruhnya adalah makhluk Tuhan. Dengan demikian seluruh manusia adalah bersaudara karena sama-sama makhluk Tuhan. Adanya persamaan keyakinan sama-sama makhluk Tuhan dan rasa persaudaraan tersebut menjadi bisa landasan hadirnya toleransi dalam beragama.

Adanya keyakinan tersebut mengasumsikan bahwa ciptaan-Nya juga pada hakikatnya adalah suatu kesatuan. Pandangan ini membawa pada kesimpulan bahwa seluruh jaga raya, termasuk di dalamnya seluruh umat manusia, apa pun bangsa dan bahasanya, adalah merupakan makhluk Tuhan, meskipun agama dan keyakinannya berbeda.

Melalui pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai etik yang fundamental yang dimiliki oleh para peserta didik dapat menjadi benang merah yang bisa menghubungkan pengikut agama satu dengan lainnya sekaligus dapat menjadi entri point untuk mencari titik temu atau dalam terminologi Alquran disebut dengan kalimat sawa’.

Bertolak dari pandangan di atas, dimungkinkan bahwa Islam dapat menjadi pijakan bagi pendidikan multikultural. Konflik sosial yang mewarnai pasang-surutnya persatuan Indonesia harus menjadi perhatian dan perlu diwaspadai oleh kemampuan manajemen politik bangsa agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang dapat memecah belah persatuan Indonesia.

Salah satu cara strategis adalah pendidikan multikultural yang dilakukan secara aktual, cerdas, dan jujur.