Seorang kesatria muda datang dari Paranggelung ke Negara Sokalima. Ia adalah Bambang Ekalawya. Ekalawya datang dari jauh menemui Begawan Drona untuk belajar ilmu.

Kecerdasan Drona sangat dikenal luas. Wajar, jika negeri kecil nan miskin yang jaraknya ratusan ribu mil juga mengenal sosok maha guru tersebut. Dengan penuh rendah hati dan harapan diterima sebagai murid, Ekalawya memohon kepada Drona untuk dijadikan murid. Namun, ternyata permohonan itu ditolak Drona. Hal itu karena Drona sudah bersumpah hanya akan mengajarkan ilmu pengetahuan dan kanuragan kepada Keturunan Kuru saja; yakni Kurawa dan Pandawa saat itu.

Tanpa berkecil hati, Ekalawya meninggalkan padepokan milik Drona. Tetapi, dia tidak pulang ke Paranggelung, melainkan membuat sebuah gubug kecil di tepi hutan yang tidak jauh dari Sokalima. Tak jauh dari gubugnya, ia buat patung yang ia anggap bahwa itu adalah patung Drona.

Ia berlatih ilmu pengetahuan dan mengasah kemampuannya dalam hal memanah di depan patung Drona itu. Sebelum berlatih ia membungkukkan badan di depan patung Drona untuk memberinya hormat. Pun saat ia selesai berlatih. Ia beranggapan bahwa latihannya selalu dilihat oleh Drona.

Hanya sebuah patung? Apapun wujudnya. Sugestinya mengatakan bahwa ia adalah Drona. Sosok yang ia hormati. Patung Drona sebagai motivasinya menimba ilmu.

Setelah sekian purnama, ternyata kemampuannya dalam hal memanah menjadi luar biasa. Bahkan, sekaliber Arjuna pun kagum terhadap Ekalawya. Ekalawya lebih jago ketimbang Arjuna yang selalu dilatih Drona. Kok bisa? Kuncinya terletak pada sikap hormat kepada gurunya. Tanpa demdam meski sudah ditolak. Perjalanan jauh ratusan ribu mil tidak membuatnya patah arang.

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil hikmahnya bahwa seorang murid harus menghormati guru. Tidak boleh ada dendam kepada gurunya. Guru tidak harus orang yang mengajarkan ilmu secara langsung. Buku yang kita baca atau nasihat yang kita dengar, maka sesungguhnya penulis buku atau pemberi nasihat itu adalah guru kita. Diri kita adalah muridnya.

Menghormati guru adalah kunci sukses dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Seorang murid harus rendah hati di hadapan guru. Guru ibarat teko air dan murid adalah gelasnya. Sedang ilmu pengetahuan adalah airnya. Gelas akan terisi air apabila posisinya lebih rendah dari tekonya. Jika gelas lebih tinggi dari teko, maka air akan tumpah ke lantai.

Murid tidak boleh sombong terhadap gurunya. Meski sering kita jumpai bahwa murid sebenarnya lebih jago daripada gurunya. Untuk beberapa hal, murid lebih jago, tapi dalam hal tertentu guru lah yang lebih jago. Sebagian guru matematika mungkin tidak bisa memanjat pohon, dan Anda lah jagonya. Tetapi guru matematika lebih jago algoritma. Tidak ada manusia yang sempurna.

Meski sudah sekian tahun tidak bertemu, murid tetaplah murid dan guru tetaplah guru. Bisa jadi, muridnya kini sudah menjadi guru besar, sedang guru si murid itu masih mengajar di sekolah dasar yang reyot. Maka guru tersebut adalah maha guru besar. Hal itu karena keberhasilan si murid menjadi guru besar atas campur tangan gurunya.

Murid tidak boleh dendam kepada gurunya. Murid harus selalu hormat. Apabila guru melakukan kesalahan, murid boleh menegur namun tidak boleh memusuhi. Murid harus memiliki etika. Indikator keberhasilan pendidikan dilihat dari etikanya. Adakah perubahan etika menjadi lebih baik setelah belajar ilmu?

Budi pekerti lahir dari pendidikan karakter. Pemerintah mencanangkan pendidikan karakter di perguruan tinggi melalui mata kuliah wajib umum, seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia. Mata kuliah terdebut diharapkan melahirkan karakter siswa yang taat, inovatif, nasionalis, dan berbudi. Untuk itu, tenaga pengajar mata kuliah tersebut juga harus mumpuni.

Keempat mata kuliah itu tidak bisa diajarkan oleh tenaga pengajar dengan latar asal-asalan. Melainkan harus sesuai dengan bidangnya. Pendidikan Agama diajarkan oleh pengajar yang memang berlatar belakang pendidikan agama tersebut. Bukan hanya yang beragama tersebut saja. Pendidikan Agama di perguruan tinggi diharapkan melahirkan lulusan yang memiliki moral beragama. Hal itu sehingga setiap lulusan tidak melakukan hal yang dilaranh agama.

Pun dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Lulusan diharapkan memiliki wawasan bernegara dan memiliki padangan yang kuat terhadap nilai-nilai Pancasila. Banyak orang yang terpapar idiologi radikal. Melalui mata kuliah ini, pemerintah berharap lulusan nanti menjadi lebih cinta terhadap tanah air dan budayanya. Melalui mata kuliah ini juga untuk memupuk rasa persaudaraan sehingga tercipta kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Mata kuliah Bahasa Indonesia sebagai penguatan cinta berbahasa Indonesia. Harapannya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia yang benar dan baik. Masih banyak warga negara yang belum terampil berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulis.

Melalui pendidikan karakter, setiap putera bangsa diharapkan memiliki daya kritis, inovatif, dan bertanggung jawab. Setelah karakter tersebut dimiliki para pemuda, maka akan muncul generasi pembaharu yang berbudi pekerti luhur. Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional. Semoga pendidikan di Indonesia menjadi solusi atas permasalahan bangsa.