98099_61177.jpg
https://www.shutterstock.com/
Agama · 3 menit baca

Pendeta, Tolonglah Sampaikan Kebenaran

Saya datang terlambat ke Gereja pagi ini, ketika datang sesi lagu pujian sudah hampir selesai. Setelah itu, tibalah saat khotbah. Setelah melihat siapa pendetanya, tiba-tiba rontok mood saya untuk mendengarkan khotbah.

Kebetulan pendeta ini, di ibadah sebelumnya, dengan lantang berkata bahwa penularan AIDS meningkat dengan banyaknya homoseksual. Mendengarnya, saya hanya bisa garuk-garuk dengkul. Entah dapat wahyu dari mana bapak pendeta ini, sehingga mengaitkan 2 hal ini.

Penularan AIDS itu salah satunya melalui hubungan seks tidak aman, terlepas yang berhubungan itu berbeda atau sesama jenis kelaminnya. Orientasi seks seseorang tidak ada hubungannya dengan penularan AIDS.

Mengenai homoseksual adalah hal yang dilarang di kekristenan, saya tidak akan membantahnya. Namun, korelasi antara homoseksual dan penularan AIDS itu adalah hal lain yang harus dibuktikan dengan penelitian bukan dengan firman.

Saya memang tipenya gampang hilang respek kepada orang yang berbicara sembarangan tanpa mengenal kapasitasnya, terlebih lagi itu adalah seorang pemuka agama yang khotbahnya didengar ratusan bahkan ribuan jemaatnya yang terkadang di antaranya lupa menaruh nalarnya di mana.

Maka dari itu, saya berharap agar para pendeta kalau khotbah lebih berhati-hati, minimal berpikir dululah. Mengabarkan firman Tuhan memang dengan iman, tapi jangan sampai akal ketinggalan.

Ada pendeta yang saya suka, khotbahnya berapi-api dan selalu mencantumkan hasil penelitian sebagai dasar khotbahnya selain Alkitab. Mungkin ini disebabkan karena, di samping pendeta, beliau adalah seorang dosen.

Pendeta tersebut menampilkan hasil penelitian yang mengatakan bahwa jumlah gereja menurun di Amerika dan Eropa atau dengan kata lain banyak gereja tutup. Penyebab hal tersebut adalah sedikitnya jemaat yang datang ke Gereja. Dosen saya pernah membahas hal ini juga dan berkata bahwa turunnya minat jemaat untuk datang ke gereja adalah karena gagalnya marketing gereja.

Ini kalau jemaat yang bermental celeng yang tahunya asal tubruk, mungkin emosi mendengarnya dan berpikir memang gereja itu bisnis kok harus memakai marketing. Beruntung bagi saya, celeng bukan mental tapi adalah santapan sehingga dalam hati saya mengamini perkataan dosen saya tersebut.

Tidak hanya perusahaan atau bisnis yang berorientasi pada uang yang membutuhkan marketing yang baik, namun gereja juga membutuhkan marketing yang baik untuk menarik dan mempertahankan jemaat di gereja. Dan bapak/ibu pendetalah yang menjadi ujung tombak marketing gereja.

Zaman telah berkembang, jemaat sekarang lebih kritis daripada angkatan yang masih menenteng Alkitab dalam bentuk gepokan kertas ke gereja.  Jadi sekarang tidak bisa lagi pendeta sembarangan khotbah dan berharap jemaatnya manut-manut saja.  

Pendeta harus sadar bahwa berkhotbah itu memerlukan keahlian public speaking sehingga jemaat tertarik dengan isi khotbah, bukannya asyik bermain smartphone sucinya. Namun, di atas itu, pendeta harus berbicara berdasaran data ketika melontarkan statement di luar Alkitab*, karena dengan kemajuan zaman jemaat yang kritis bisa dengan mudahnya mengonfirmasi statement ke nabi yang bernama Google.

Ketika pendeta menyampaikan statement di luar Alkitab* yang tidak bisa dibuktikan kebenaranya, hal tersebut bisa menghilangkan kepercayaan jemaat kepada pendeta, padahal mereka adalah representasi gereja. Apabila pemuka agama seperti pendeta kesukaannya menyebarkan hal fiktif, ya jangan marah bila kitab sucinya dibilang fiksi.

Seperti konsumen yang tidak mau dibohongi mengenai sebuah produk, jemaat pun tidak mau dibohongi mengenai produk gereja, termasuk statement yang keluar dari pendeta. Hilangnya kepercayaan kepada pendeta yang merupakan ujung tombak marketing gereja bisa mendorong jemaat untuk berhenti datang ke gereja dan beralih ke layanan gereja online yang diwahyukan nabi Google.

Jujur, saya pun ketika mau beribadah selalu melihat jadwal dan pendetanya siapa dan saya akan memilih jam ibadah di mana pendetanya bisa saya percaya. Karena minggu lalu saya tidak ke gereja, jadi saya tidak tahu jadwal selanjutnya, sehingga datang dengan random.

Ketika melihat bahwa pendeta yang bersangkutan yang khotbah, saya lalu keluar dan memilih menonton aksi anak centil saya bersuka-ria di ruang sekolah minggu. Karena bagi saya, mendengarkan pendeta yang tidak menyampaikan kebenaran sama seperti soal UNBK mengenai dadu dikocok 600 kali, sama-sama tidak ada faedahnya. Syalom

*Penulis selalu menuliskan statement di luar Alkitab, karena yang di dalam Alkitab tidak perlu dibuktikan, tinggal diyakini.