Kemerdekaan Indonesia dalam rentang tahun 1945–1949 dimulai dengan masuknya sekutu yang diboncengi oleh Belanda ke berbagai wilayah Indonesia setelah kekalahan Jepang pada 27 Desember 1949. 

Kemudian, pasca kekalahan Jepang dan penyerahan kedaulatan Jepang kepada Indonesia, Indonesia mengalami berbagai peristiwa pada masa itu, yaitu pergantian berbagai posisi kabinet, aksi polisionil oleh Belanda, dan berbagai perundingan.

Apakah tepat pembangunan dijadikan fokus utama kemajuan negara?

Berangkat dari tatanan pasca-kemerdekaan pula, pembangunan selalu menjadi titik fokus pemerintah pasca-kemerdekaan. Padahal, kemiskinan seharusnya menjadi sorotan utama yang lebih diperhatikan oleh pemerintah saat itu. Bahkan sampai saat ini. 

Namun, pada kenyataannya, pemerintah selalu menomorduakan perihal kemiskinan yang sangat jelas menjadi kunci untuk perbaikan negara agar lebih maju.

Mengapa demikian? Karena kemiskinan merupakan faktor utama yang seharusnya pemerintah perbaiki. Dan kemiskinan sebenarnya menjadi titik masalah yang membuat pembangunan di Indonesia tidak dapat berjalan dengan baik. 

Tidak hanya pada tahun-tahun yang dekat dengan tahun kemerdekaan, saat ini pun kemiskinan masih menjadi masalah utama yang seharusnya lebih diperhatikan oleh pemerintah.

Tanpa kita sadari, mungkin hampir setiap hari keluarga menengah ke bawah banyak yang kehilangan nyawa, tempat tinggal, bahkan anak-anak banyak yang menjadi putus sekolah karena kondisi keluarga yang tidak mampu untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Kemiskinan digambarkan sebagai kehidupan yang serba terbatas dan tidak dikehandaki oleh siapa pun.

Siapakah Utuy Tatang Sontani?

Utuy Tatang Sontani merupakan salah seorang penulis cerpen yang membahas potret penderitaan rakyat pasca kemerdekaan. Ia lahir di Cianjur, Jawa Barat pada 31 Mei 1920 dan meninggal pada 17 September 1979 di Moskow. 

Utuy Tatang Sontani juga bagian dari organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Utuy menggambarkan kemiskinan tersebut dalam beberapa cerpen yang ia tulis. Di antaranya, Paku dan Palu, Mengarang, dan Jaga Malam.

Seperti apa penulis menjabarkan rekaman sastra?

Penulis mengambil judul dengan tujuan ingin mencoba untuk menganalisis penderitaan yang terjadi pasca-kemerdekaan Republik Indonesia melalui cerpen yang ditulis oleh Utuy Tatang Sontani pasca-kemerdekaan. 

Cerpen pertama, Paku dan Palu, dimulai pada 21 Juli 1947. Waktu itu Indonesia didesak oleh Belanda dengan mengirimkan Nota Ultimatum yang dikenal dengan Agresi Militer I. Namun, hal tersebut tidak dibalas dengan baik, sehingga Belanda melakukan aksi polisionil.

Aksi polisionil merupakan operasi militer yang dilakukan oleh Belanda dan disebut juga Agresi Militer Belanda di Jawa dan Sumatra. Aksi tersebut terjadi sangat tepat dengan awal cerita yang ada di awal cerpen Paku dan Palu. 

Paku dan Palu menggambarkan bagaimana miskinnya rakyat Indonesia saat itu. Seorang laki-laki miskin bersama istrinya yang pergi mengungsi akibat adanya aksi polisionil di Jawa.

Setelah laki-laki miskin beserta anak dan istrinya pergi mengungsi dan mendapatkan tumpangan tempat tinggal, laki-laki miskin itu pun berusaha mencari uang. Tetapi, usahanya tak kunjung membuahkan hasil. Lalu ia kembali menjual baju-bajunya sampai habis dijual. Laki-laki miskin itu pun akhirnya berpikir, jika ia tidak dapat lagi menjual baju-bajunya, sebab tak akan bisa juga mencukupi untuk hidup sehari-hari. 

Suatu hari, ia pergi lagi untuk mencari nafkah dengan membawa paku dan palu. Sebelum ia pergi, ia berkata pada istrinya, jika ia tidak akan pulang sampai ia membawa beras. Berhari-hari suaminya tidak pulang dan istrinya pun khawatir.

Potret penderitaan pasca-kemerdekaan semakin terlihat jelas pada kemiskinan yang dirasakan laki-laki tukang sepatu beserta anak dan istrinya. Pembaca disuguhkan sebuah penderitaan keluarga kecil lantaran tidak memiliki apa-apa. Anaknya meninggal karena kekurangan gizi dan istrinya menjadi hidup sendiri ketika sang suami meninggal dunia karena menjadi tawanan.

Cerpen dengan judul Mengarang memiliki latar belakang hampir sama dengan Utuy Tatang Sontani sendiri. Ia sempat menjadi pengarang untuk mencari uang guna memenuhi obat-obatannya selama ia sakit. 

Karangan yang pertama kali dikarang dalam cerpen ini adalah karangan drama Suling. Tuntutan ekonomi membuat siapa saja rela melakukan apapun. Termasuk mengorbankan kesehatan.

­Jaga Malam juga memiliki kemiripan yang sama dengan cerita pendek yang penulis bahas sebelumnyaCerita pendek ini masih di dalam lingkup pasca-kemerdekaan Republik Indonesia. Cerita ini diceritakan pada 27 Desember 1949. 

Setelah empat tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan pengakuan ini ditandatangani di Amsterdam, Potret penderitaan bernama “kemiskinan” lagi-lagi menjadi awal pembuka cerpen ini. Jika pada cerpen sebelumnya memiliki akhir dalam kemiskinan, pada cerpen Jaga Malam tidak ditemukan akhir yang jelas.

Sumber Bacaan

  • Ensiklopedia Sastra Indonesia. Utuy Tatang Sontani (1920-1979). Diakses pada Senin, 27 April 2020 pukul 21.04.
  • Sontani, Utuy Tatang. Menuju Kamar Durhaka (Kumpulan Cerpen). Jakarta: Pustaka Jaya. 2002.
  • Yulianto Kadji. Jurnal Kemiskinan dan Konsep Teoritisnya. Diakses pada Senin, 27 April 2020 pukul 23.45.