Pendekatan objektif ialah pendekatan yang memberikan perhatian atau kefokusan penuh pada karya sastra sebagai struktur yang otonom. Pendekatan objektif juga disebut sebagai unsur intrinsik dalam karya sastra. 

Menurut Wallek dan Warren (1990), pendekatan objektif karya sastra dianggap sebagai sesuatu yang otonom. Maksudnya ialah berdiri sendiri, lepas dari dunia politik dan ekonomi, atau di luar dari unsur-unsur intrinsik.

Sedangkan seperti latar belakang penulis, kondisi psikologis penulis, lingkup sosial budaya penulis; itu bukan unsur-unsur yang dikaji dalam pendekatan objektif.

Secara sederhana, penerapan pendekatan objektif dalam menganalisis karya sastra, dapat dijabarkan dengan tiga langkah. 

Pertama, mendeskripsikan unsur-unsur struktur karya sastra. Kedua, mengkaji keterkaitan makna antara unsur-unsur yang satu dengan yang lainnya. Ketiga, mendeskripsikan fungsi serta hubungan antarunsur (instrinsik) atas karya yang bersangkutan. 

Tiga langkah tersebut dapat diterapkan dalam menganalisis unsur-unsur yang mesti dikaji dalam pendekatan objektif sastra.

Pendekatan objektif bisa dikaji dalam naskah drama, novel, atau puisi. Semuanya memiliki unsur-unsur intrinsik yang bisa dikaji dengan pendekatan objektif. Seperti pada puisi “Hujan Bulan Juni” yang sudah tidak asing lagi bagi para kawula muda.

Puisi “Hujan Bulan Juni” ialah salah satu dari 101 puisi lainnya dalam buku antologi Hujan Bulan Juni yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. 

Buku antologi Hujan Bulan Juni pertama kali diterbitkan oleh Grasindo tahun 1994 yang berisi sepilihan sajak yang ditulis oleh Eyang Sapardi dari tahun 1964 sampai 1994. Saya memiliki buku antologi Hujan Bulan Juni cetakan yang kedua belas, yaitu terbit di tahun 2018 lalu.

Gubahan puisi “Hujan Bulan Juni” dalam bentuk musikalisasi puisi juga sudah banyak tersebar di platform-platform terkenal, seperti YouTube dan Spotify menjadi sebuah musikalisasi puisi yang juga tidak kalah keren untuk dinikmati.

Karena banyak yang menaruh perhatian dengan puisi "Hujan Bulan Juni", saya pun mencoba untuk menelaah unsur-unsur intrinsik atau pendekatan objektif dalam puisi "Hujan Bulan Juni".

Pertama, untuk tema. Tema dari puisi "Hujan Bulan Juni" ialah mengisahkan mengenai cinta terpendam yang tidak tersampaikan. Cinta yang lebih memilih bersemayam dalam lubuk si pemilik perasaan. Orang itu ragu untuk mengutarakan perasaannya. 

Kedua, tipografi. Tipografi puisi “Hujan Bulan Juni” ialah disusun rata kiri dengan huruf kecil di setiap awal lariknya. Terdiri dari 3 bait dan di setiap bait terdiri dari 4 baris. Tipografi dalam penulisan puisi “Hujan Bulan Juni” di buku antologi Hujan Bulan Juni terkesan manis dan sederhana.

Ketiga, perasaan. Perasaan penyair yang tampak dalam puisi "Hujan Bulan Juni" adalah perasaan orang yang tabah atau sabar meskipun memendam perasaan cinta. 

Kesabaran tersebut tampak pada penggunaan kata tabah, arif, dan bijak. Si pemilik juga ragu mengungkapkan perasaannya hingga ia menghapus jejak-jejaknya yang tertera pada larik puisi.

Keempat, nada. Nada puisi "Hujan Bulan Juni" seperti berirama kegetiran. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan huruf /r/ yang berulang-ulang dalam puisi. Pilihan kata yang digunakan juga menunjukkan bahwa penyair mengalami keraguan. Hingga akhirnya memilih diam saja dan mencintai dalam diam.

Kelima, irama. Irama puisi “Hujan Bulan Juni” terdapat pengulangan frasa tak ada yang lebih dan hujan bulan juni. Pengulangan ini sangat memengaruhi irama secara keseluruhan. 

Ketika seseorang membacakan puisi ini untuk banyak orang, keberadaan repetisi frasa dan diksi bisa diberi intonasi berbeda-beda oleh orang yang menyimaknya sehingga bisa mencapai klimaks bagi para pendengar.

Keenam, gaya bahasa atau majas. Terdapat dua majas dalam puisi “Hujan Bulan Juni”, yakni majas personifikasi dan majas repetisi. Majas personifikasi adalah majas yang seakan-akan benda mati itu sanggup atau mampu bersifat dan bertindak layaknya manusia.

Ini tampak pada larik tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Ini seakan-akan hujan tersebut bisa memiliki sifat tabah layaknya manusia. Atau juga dalam larik tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni, dihapusmya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.

Hujan di sana seakan-akan bisa memiliki sifat bijak dan si hujan juga memiliki kaki. Selanjutnya juga dalam larik tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Di sini, seakan-akan hujan bisa merahasiakan sesuatu seperti sifat manusia.

Selain majas personifikasi, juga ada majas repetisi. Majas repetisi ialah bersifat pengulangan kata atau frasa dalam karya sastra untuk menegaskan suatu makna dalam puisi tersebut. 

Pengulangan dalam puisi juga bertujuan untuk menciptakan ritme dalam puisi. Majas repetisi terkandung dalam larik tak ada yang lebih … dari hujan bulan juni. Ini diulang tiap awal bait dalam puisi “Hujan Bulan Juni”.

Ketujuh atau yang terakhir, ialah amanat. Amanat yang bisa dipetik dalam puisi Hujan Bulan Juni ialah sebisa mungkin untuk selalu sabar, bijak, dan tabah dalam menjalani sesuatu. 

Karena tidak semua hal selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan, lalu, menyampaikan perasaan kepada seseorang yang kita cintai tidak selamanya menjadi buruk. 

Mencintai pada dasarnya ialah ikhlas dan tulus untuk menyayangi seseorang. Tidak minta timbal balik dan balasan adalah definisi mencintai yang paling tinggi. Namun, lebih baik mengutarakan perasaan kepada seseorang yang kita cinta, daripada menyesal tiada guna.