Seorang tokoh wartawan, sastrawan, agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus Mahbub Djunaidi namanya. Ia lahir di Tanah Abang, 27 Juli 1933. Ia memiliki 13 saudara yang berasal dari pasangan ayah Muhammad Djunaidi dan ibunya Muhsinati.

Latar belakang keluarganya bergelut pada politik dan agama Islam yang kuat memberikan dampak pengetahuan yang luas. Selama perjalanan hidupnya Mahbub memiliki rasa ingin tahu dan aktif  membaca dalam hidupnya. Dimulai dari masa sekolahnya yang ikut dalam berbagai organisasi jurnalistik disebabkan semangat menulis yang tinggi.

Semangat menulis, membaca buku, dan memahami situasi yang terjadi di sekitarnya menjadikan dia sebagai seorang jurnalis yang andal dan piawai. Namun Mahbub Djunaidi tidak berhenti saja pada satu bidang saja. Ia juga menggeluti bidang politik dan menjadi aktivis organisasi agama.

Ia pernah menjadi Anggota Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) saat SMA, Anggota Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Ketua Umum pertama Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Wakil Ketua Umum Tanfidzhiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), Wakil Ketua DPP PPP.

Perjalanan kariernya sebagai penulis menjadikannya piawai dalam menanggapi situasi zamannya. Ciri khas tulisannya adalah humor, kreativitas berbahasa, serta mampu menyajikan persoalan dengan sederhana. Tulisannya banyak dimuat dalam majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Roman, dan Star Weekly.

Bakatnya ini terus berlanjut hingga ia menjadi mahasiswa, organisatoris, kolumnis, sastrawan, jurnalis, agamawan, poltisi, dan sebagainya. Selain sebagai seorang penulis, sosok yang satu ini juga dikenal sebagai tokoh yang multitalenta.

Berdasarkan dari perjalanan hidupnya tersebut, tedapat keutaman yang dapat dilihat dalam pemikiran tokoh etika keutamaan, yaitu Alasdair MacIntyre dari perjalanan hidup tokoh Mahbub ini. Melihat pemikiran Alasdair, terdapat 3 kerangka keutamaan dalam diri manusia, yaitu kegiatan bermakna, kesatuan naratif hidup seseorang, dan tradisi moral.

Dalam keutamaan kegiatan bermakna, Mahbub sebagai penulis memiliki hobi menulis yang sudah ada sejak kecil. Pengalamannya menulis tumbuh dari keaktifannya berorganisasi sejak di sekolah. Juga pengenalan akan tokoh sastra menjadikan dia mampu merangkai kata-kata menjadi tulisan yang indah.

Keutamaan pada kegiatan bermakna itu, bagi Alasdair, terkait dengan nilai internal dan eksternal. Nilai internal itu berisi kualitas dan maknanya bagi subjek. Lalu nilai eksternal itu terarah pada norma-norma atau sistem yang ada di luar yang membentuk kesadarannya.

Dalam hidup Mahbub, nilai internal muncul dalam usaha belajar membaca dan mengembangkan rasa ingin tahunya. Pada nilai eksternal sendiri, dihadirkan dari lingkungan keluarga dan proses pendidikan yang diterimanya, sehingga ia minat pada dunia jurnalis.

Keutamaan pada kesatuan naratif itu merujuk pada makna suatu kehidupan yang dimengerti dari usaha mencapai tujuan hidupnya. Maka di situ memerlukan kesadaran diri dan keterlibatan pribadi dalam prosesnya dan muncullah kisah kehidupannya.

Melihat perjalanan hidup Mahbub, keaktifannya dalam berorganisasi sejak sekolah dan memasuki dunia jurnalistik menunjukkan proses usahanya memahami dunia di sekitarnya. Sambil mengamati dia membagikan tulisannya yang berisi kritik dengan bahasa humor.

Keutamaan tradisi moral, menurut Alasdair, terlihat dari usaha individu untuk mencari tujuannya sendiri dan mencapai hidup bermakna. Hal ini berlangsung dalam sebuah konteks yang ditentukan oleh tradisi-tradisi di mana individu berpartisipasi. Maka keutamaan itu lahir bahwa orang mempunyai kesadaran memadai tentang tradisi-tradisi di mana ia menjadi partisipan atau yang menghadapinya.

Maka dalam perjalanan hidup Mahbub dapat ditemukan tradisi-tradisi yang melekat pada zamannya. Semangat yang dia hadirkan dalam tulisannya mengarah pada upaya perjuangan menciptakan keadilan bagi semua orang tanpa perbedaan.

Baginya, semua orang tak ada bedanya, tidak bermartabat lebih tinggi dan lebih rendah, hanya karena jabatan dan pekerjaannya. Lapisan pergaulannya sangat luas, dan semua disapa dengan Anda, dengan Saudara, dengan Bung.

Oleh karena itu, keutamaan yang dapat saya tangkap padanya adalah “semangat menulis yang tidak kenal rasa takut dan tetap memahami konteks dan situasi”. Hal ini menjadikannya layak disebut sebagai Pendekar Pena.

Karya-karya yang pernah ia torehkan dalam bentuk cerpen, antara lain: Kalau Sore-Sore (Merdeka, 1955), Lahirnya Seorang Petani (Siasat, 1955), Manisku Mau ke Mana? (Forum, 1955), Tamu dari Timur (Prosa, 1955), Mati dalam Senyum (Star Weekly, 1956), dan Lagu Sebelum Tidur (Kisah, 1957). 

Sedang dalam bentuk sajak, misalnya: Doa, Gadis Main Piano, Makam Pahlawan Karet, Pertemuan dan Perpisahan (Siasat, 1952) dan Anak yang Kematian (Siasat, 1953).

Sumber: