Era digital adalah suatu masa yang ditandai dengan kemudahan dari tiap manusia untuk  dapat saling berkomuikasi sangat dekat meskipun saling berjauhan. Kemudahan di dalam berkomunikasi ini tak lain disebabkan oleh berkembangnya teknologi digital dalam segala aspek, terutama media komunikasi.

Segala macam gawai yang dulu menggunakan teknologi sederhana, kini sudah berubah menjadi digital. Sisi kepraktisan dan efisien dari teknologi digital benar-benar nampak dari meningkatnya para pengguna dari tekonologi digital ini. Salah satu indikator utama dari meingkatnya jumlah pengguna teknologi digital ini adalah meningkatnya jumlah pengguna internet.

Melansir dari laman Kompas Tekno, pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai  202,6 juta jiwa dari total 274,9 juta jiwa penduduk Indonesia. Dari angka ini, sebesar 73,7 persen penduduk Indonesia telah mendapat penetrasi internet dan sekaligus teknologi digitalnya.[i] Dengan kata lain, hampir tiga per empat dari penduduk Indonesia telah ‘melek’ internet.


Banyak hal yang menjadi penyebab dari peningkatan jumlah pengguna internet dan teknologi digital. Penyebab paling utama dari meningkatnya angka pengguna tahun 2021 ini adalah pandemi covid-19. Manusia dipaksa untuk tetap di rumah dan beraktivitas secara digital. Adanya  pandemi covid-19 ini semacam menjadi situasi batas yang memaksa setiap subjek manusia untuk berubah.

Pengalaman sehari-hari yang semula didapatkan melalui interaksi fisik secara langsung dengan dunia luar, berubah menjadi pengalaman virtual yang interaksi fisiknya menjadi sebuah ketidakmungkinan. Pola relasi yang terjalin lewat tatap muka dan komunikasi secara langsung pun menjadi sebuah budaya lama. Bahkan, tentang bertemu secara virtual pun menyisakan suatu pertanyaan besar, “Apakah kita benar-benar bertemu?”

Pertanyaan besar macam ini didasari oleh keraguan yang besar pula mengenai siapa sebenarnya yang hadir di dalam dimensi ruang-waktu ini. Apakah kita hanya menatap sebuah gawai dan berbicara dengannya? Ataukah kita berbicara dan berelasi intens dengan seseorang yang terpisah jarak bahkan waktu dengan kita?

Hadirkah kita bagi seseorang yang berada jauh di sana hanya dengan media virtual atau gawai ini? Pertanyaan-pertanyaan ini serupa dengan pandangan seorang filsuf kontemporer bernama Jean Baudrilard. Di dalam pandangannya, ia mengatakan bahwa segala yang ada ini tidak ada batasnya lagi antara yang nyata dan semu. Semuanya adalah simulasi-simulasi yang bahkan kenyataan palsu (semu) dianggap yang asli.

Eits! Tunggu dulu. Kita tidak akan membahas tentang Baudrilard, apa lagi tentang simulakranya. Malahan, kita akan membela bahwa sebenarnya yang ada ini merupakan realitas riil dan sepenuhnya dialami oleh subjek-subjek manusia. Terlepas dari apakah itu merupakan kenyataan yang dibuat di dalam realitas maya, atau realitas yang saling tumpang tindih, tapi di dalamnya manusia saling membangun relasi dan bertemu dengan manusia lainnya.

Terkait dengan pertanyaan besar tentang “Apakah kita benar-benar bertemu?”, sebenarnya  menjadi fokus utama dari pembahasan ini. Pertanyaan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas realitas maya serta pembelaan tentangnya. Untuk itu, penulis menggunakan pemikiran seorang tokoh eksistensialisme bernama Martin Buber tentang I and Thou untuk melihat apakah kita secara maya tetap bertemu.

Tentang Martin Buber dan Pemikirannya                                   


Martin Buber adalah seorang filsuf  Yahudi dan beragama Yahudi. Ia lahir di Wina pada 8 Februari 1878. Ketika berusia 3 tahun, orang tuanya bercerai sehingga ia tinggal bersama kakek dan neneknya di Lemberg, Polandia.[ii] Ketika ia berusia 14 tahun, ayahnya menikah lagi dan ia kembali tinggal bersama orang tuanya. Pada usia 17 tahun, ia menyelesaikan studinya di Polish Gymnasium lalu  masuk ke Universitas Wina untuk belajar sejarah seni dan filsafat.

Setelah itu, ia melanjutkan studinya di Universitas Berlin, Leipzig dan Zurich.[iii] Pada tahun 1923, ia menulis karyanya yang terkenal, yakni Ich und Du (I and Thou). Di dalam karyanya ini, tertuang seluruh pemikiran filsafat dialogisnya. Menurut Buber, hidup yang sesungguhnya adalah hidup yang di dalam kesehariannya dijalani dengan bergaul dengan semua orang. 

Hal ini nampak di dalam pandangannya tentang sebuah relasi. Buber berpandangan bahwa perjumpaan adalah realitas hidup dari manusia. Manusia yang berjumpa dengan manusia lainnya adalah sebuah keadaan riil yang tak pernah berhenti. Oleh karenanya, relasi antar manusia mesti ada dan setara. Menurut Buber, relasi itu mesti terjalin tidak asimetris[iv] dan mesti ada timbal balik di antara keduanya. 


Terkait dengan relasi, Buber membaginya ke dalam dua jenis relasi, yaitu relasi dalam kerangka I-it dan  I-Thou. Penjelasan tentang hal ini akan dilanjutkan pada bagian di bawah ini.

Tentang I – It (Aku dan Benda)


Relasi Ich – Es atau I-It yang bermakna Aku-Itu menandai relasi manusia dengan benda-benda di dalam dunia.[v] Benda-benda ini adalah benda apapun yang ada di sekitar manusia. Dasar dari relasi ini adalah anggapan benda yang ada di sekitar kita tidak memiliki kebebasan. Benda-benda itu tidak mungkin secara bebas pula berinteraksi dengan manusia yang berinteraksi dengannya. 


Dengan andaian demikian, kebebasan manusia itu menjadi sangat berarti. Manusia tidak bergantung pada kebebasan dari benda-benda tersebut. Manusialah yang memiliki kontrol dan kebebasan penuh untuk mengatur benda-benda tersebut. Dalam arti ini, kehadiran benda-benda di sekitar manusia membuat manusia lebih mudah dalam menjalani hidupnya.

Adanya benda di sekitar manusia nantinya juga akan mempermudah terjalinnya relasi di antara manusia. Meski demikian, manusia tidak boleh memperlakukan sesamanya sebagai benda. Menurut Buber, relasi macam I-It tidak boleh diterapkan pada manusia dengan manusia. Karena pada dasarnya, hubungan atau relasi dari manusia adalah timbal balik.

Tentang I – Thou (Aku dan Engkau)


Relasi Ich – Du atau I-Thou memiliki makna Aku dan Engkau. Adanya Aku dan Engkau bukanlah suatu makhluk yang asing karena pada hakikatnya mereka ada dalam sebuah realitas perjumpaan. Bagi Buber, hidup manusia terbagi atas dua wilayah yang sangat memengaruhi seluruh hidupnya, yakni perasaan dan institusi.[vi] 


Institusi adalah hal yang berkaitan dengan di luar (out there) dari Aku (manusia). Aku juga selalu berelasi dengan institusi dari yang ada di luar diri Aku. Institusi ini dapat dimaknai sebagai pranata yang menjadi tempat bagi Aku dan Aku yang lain untuk saling menemukan. Di dalamnya, secara bersama Aku dan Engkau menghayati pedoman hidup.


Sedangkan, perasaan (feeling) adalah hal yang selalu berada di dalam (whitin) Aku. Perasaan ini adalah milik Aku secara personal, individual, dan bukan milik bersama. Perasaan itu tidak berada di luar namun dapat merasakan institusi dari Engkau. Maka sebenarnya, relasi itu tidak dibangun oleh kita sendiri, melainkan oleh hidup kita sendiri sebagai tukang bangunannya.[vii]


Keberadaan Aku dengan Engkau merupakan suatu hal yang telah tetap sebagai pasangan tak terpisahkan. Menurut Buber, pasangan ini lebih merujuk pada eksistensi manusia yang memang ditakdirkan untuk bertemu dengan manusia lain. Manusia lain adalah pasangan saya. Kalau Engkau tidak ada, Aku pun demikian.


Relasi macam ini adalah sebuah ketergantungan yang sangat kuat terhadap keberadaan orang lain. Aku tak akan pernah menjadi Aku jika tak ada Engkau. Pertemuan yang dibangun melalui sebuah hubungan, selanjutnya melebur menjadi satu sampai Aku mengatakan kepada Engkau, bahwa Aku tidak pernah menjadi Aku kalau tidak ada Engkau.[viii]

Relasi Aku dan Engkau adalah hubungan yang terjadi sebagai sebuah rahmat. Rahmat adalah sebuah suatu harta yang tak boleh hilang. Menurut Buber, agar perjumpaan itu tetap utuh, insitusi dan perasaan dari Aku dan Engkau tidak boleh saling mendahului.[ix] Rahmat itu harus tetap terjaga di bawah kendali Aku dan Engkau atas ego masing-masing. 


Sebagai sebuah rahmat pula, sebuah pertemuan adalah suatu kejadian ketika Engkau tampil di hadapanku sebagai sesuatu yang tidak Aku cari. Serendipity. Dalam artian ini, Buber mengatakan bahwa pertemuan itu bukanlah sesuatu yang direncanakan, dicari, atau bahkan terpikirkan. Namun karena pertemuan adalah rahmat, maka sudah sepantasnya Aku bersyukur.

Relasi Dialogis

Relasi antara Aku dan Engkau berarti terdapat suatu bentuk komunikasi di dalamnya. Ada percakapan di saat Aku dan Engkau bertemu. Perjumpaan I-Thou bukanlah perjumpaan I-It yang tidak terdapat sapaan dari keduanya apalagi percakapan. Entah apapun yang diperbincangkan, relasi Aku dan Engkau menjadi berarti bagi keduanya karena telah saling menyapa.

Melalui dialog dan dialektika di antara Aku dan Engkau ketika berjumpa, Aku atau Engkau  dapat mengetahui kebutuhan masing-masing melalui percakapan itu. Dengan hal itu, sebuah tindakan dapat diambil sebagai bentuk kesepakatan di antara keduanya dan bukan salah satunya. Sebuah sintesis dari sebuah tesis dan antitesis akan tercipta dari adanya percakapan.

Pertemuan Digital sebagai Pertemuan yang Diandaikan Padanya sebuah Dialog

Pertanyaan “Apakah kita benar-benar bertemu?” ternyata sungguh menggelisahkan hingga akhir pembahasan ini. Namun demikian, melihat dari relasi I-Thou yang digagas oleh Buber kita dapat mengerti bahwasanya manusia memiliki sebuah kodrat, yakni pertemuan. Pertemuan yang dibangun itu dapat menjadi sebuah relasi di dalam keterhubungan institusi dan perasaan dari Aku dan Engkau.

Telah disebutkan pula bahwa yang paling penting dari sebuah pertemuan adalah adanya kesadaran terhadap kehadiran Aku yang lain di dalam kehidupan Aku. Kesadaran akan sebuah kehadiran adalah hal yang penting bagi sebuah pertemuan dan relasi. Karena dengannya, Aku akan melihat Engkau sebagai Aku (sebuah I-Thou) yang harmonis.

Pertanyaannya, dapatkah seseorang yang terpisah jarak namun menggunakan perangkat digital di  dalam komunikasi dikatakan bertemu? Penulis mengatakan dapat dengan tegas! Meski hal ini terlihat sebagai sebuah pembelaan, Buber mengatakan bahwa apapun yang dibahas di dalam sebuah percakapan dari Aku dan Engkau, pertemuan dan relasi I-Thou terjadi.

Kita juga tidak boleh melupkan peran relasi I-It dengan perangkat digital kita. Dari adanya relasi itu, Aku dan Engkau dapat semakin dekat di dalam relasi dan pertemuannya. Dengan demikian, pertemuan di antaranya dapat menjadi berarti.

Kesimpulan

Adanya situasi yang berubah memang membuat manusia berefleksi tentang hidupnya. Termasuk juga memikirkan tentang makna sebuah pertemuan dari perangkat digital. Maka selanjutnya, langkah sadar macam apa yang mesti dilakukan agar terjalin relasi I-Thou? Dengan komunikasi yang baik di antara Aku dan Engkau, dan sebuah kesadaran akan hadirnya Engkau di dalam hidupku.


[i] Galuh Putri Riyanto, di dalam Reska K. Nistanto (ed.) “Jumlah Pengguna Internet Indonesia 2021 Tembus 202 Juta ", dilansir dari laman https://tekno.kompas.com/read/2021/02/23/16100057/jumlah-pengguna-internet-indonesia-2021-tembus-202-juta., pada 30 September 2021.

[ii] Pancha Wiguna Yahya, “Mengenal Martin Buber dan Filsafat Dialogisnya” di dalam Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan, Vol.1 No. 2 (April 2001). Hlm. 38.

[iii] Ibid., Hlm. 39.

[iv] Relasi asimetris adalah pandangan Levinas mengenai sebuah relasi yang secara sederhana didefinisikan sebagai relasi aku dengan engkau yang dari sisi aku tidak mengharapkan suatu peleburan di dalam timbal balik. Jika engkau menampar pipi kiri saya, saya akan memberikan pipi kiri tanpa perlu membalas dan tak perlu ada relasi timbal balik.

[v] Robeti Hia, “Konsep  Relasi Manusia Berdasarkan Pemikiran Martin Buber”, di dalam Jurnal Melintas, Vol. 30 No. 3 (Desember, 2014). Hlm. 309.

[vi] Ibid., 310.

[vii] Ibid., 311.

[viii] Ibid.

[ix] Ibid., 312