Tak jarang budaya atau kebudayaan kini dipahami sebatas output kebendaan (indrawi) dan bukan dinamika proses belajar dan bertindak. Maka makna budaya cenderung dipersepsikan sebatas produk jadi. Dengan kata lain, budaya cenderung dipahami sebatas pakem, padatan dan bangunan yang dibakukan tanpa memahami dinamika dan relevansinya dalam realitas.

Kini makna budaya tengah mengalami pendangkalan. Seperti dikatakan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bahwa makna budaya kini tidak lagi dipahami sebagai proses melakukan (to do) melainkan sebatas entitas yang menjadi (to be) atau bahkan terberi (given).

Padahal esensi budaya adalah cara berpikir, belajar, proses mencipta, mengolah dan mengubah sesuatu. Budaya adalah proses kreatif mengolah kesadaran, menemukan dan mengubah sesuatu dengan pendayagunaan akal-budi dan bukan semata hasil imitasi dan duplikasi.

Namun kini makna budaya juga cenderung dikerdilkan sekadar output dari pertunjukan kesenian, ritual tradisi dan seremoni yang dimitoskan bahkan dimasa-silamkan sehingga praktik kebudayaan sering kali kehilangan relevansi dalam laku keseharian. Budaya tercerabut dari kesadaran mentalitas dan dinamika tindakan manusia memenuhi kebutuhan material dan ideal dalam keseharian.

Maka tak jarang makna kebudayaan tercerabut dari unsur dinamis dan kreatifnya sehingga hanya menjadi kesadaran semu dan slogan klise. Katakanlah jika kita mendengar himbauan “Budayakan Gemar Membaca” tentu apakah himbauan tersebut sudah memenuhi proses membangun kesadaran (internalisasi) membaca dengan terjangkaunya akses terhadap sumber literasi yang menarik dan berkualitas. 

Jika syarat itu saja tidak terpenuhi maka himbauan tersebut hanya menjadi slogan klise dan kesadaran semu sehingga tidak akan pernah menjadi tindakan nyata seperti yang diharapkan.

Oleh sebab itu, nilai-nilai kebudayaan cenderung hanya berlaku simplistis, klise, sebatas kemasan dan bungkus dalam wujud seremonial formalistis dan simbol-simbol artifisial sehingga terpisah dari persoalan dan jawaban objektif mengatasi problem keseharian. Barangkali inilah yang mengakibatkan mandeknya proses kreatif dan sebaliknya mentalitas konsumtif dan perilaku instan justru melingkupi kesadaran individu dan manajemen sosial dewasa ini.

Esensi budaya adalah proses mengolah (cultivate) dan mengubah sesuatu dengan kesadaran. Kebudayaan berada dalam ruang abstraksi ide dan pemikiran sekaligus mengejawantah dalam konteks ruang kebendaan (hardware) setelah di-breakdown ke dalam realitas. Ini menunjukkan bahwa budaya atau kebudayaan berasal dari dan senantiasa kembali pada esensinya yang dinamis, senantiasa berubah, yang tentu saja berlawanan dengan kejumudan dan kemandekan berpikir dan berkreasi.

Hakikat budaya melingkupi bahkan melampaui nilai-nilai tradisionalitas dan modernitas. Budaya mengandung nilai tradisi sebagai wujud repetisi kedisiplinan, konsistensi dan kesinambungan. Budaya juga mengandung nilai modernitas sebagai wujud dinamika, kebaruan, kekinian yang terus dihidupkan dan dikreasikan.

Bahwa setiap penemuan karya baru dalam wujud apapun adalah ekspresi budaya dengan tingkat pencapaian kualitas yang berbeda-beda. Maka melalui cara berpikir yang mendudukkan budaya sebagai entitas yang dihidupkan, dikreasikan dan dirohanikan ke dalam olah rasa, olah pikir dan nalar maka kita tidak akan mudah terjebak ke dalam fanatisme buta, kejumudan, kesembronoan, pemujaan identitas secara berlebihan akibat mandeknya aktivitas berpikir dan mengolah akal-budi.

Ketika budaya telah kehilangan elan vitalnya karena telah di-museum-kan bahkan di-objek-kan maka dalam strategi pembangunan seringkali peran kebudayaan dianggap tidak implementatif, terlalu bombastis, kurang realistis dan tidak operasional. Inilah mengapa budaya tidak diperhitungkan dalam peta pembangunan yang kian pragmatis karena kurang menghiraukan nilai keberkelanjutan (sustainable).

Kebudayaan tidak di-breakdown ke dalam rencana-rencana konkret sehingga fungsi budaya jadi kian mengawang bahkan menyempit ketika negara meletakkannya dalam skala departemental atau bahkan dieksploitasi di bawah kepentingan ekonomi pariwisata.

Padahal budaya atau kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas pakaian, bangunan dan karya seni. Dengan demikian budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abtrak dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif (Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, Pengertian Budaya – Wikipedia.org)

Namun kini kebudayaan cenderung hanya menjadi klangenan, suplemen dan objek bagi etalase pariwisata. Kebudayaan yang seharusnya, pertama-tama berada di hulu, di sumber cara berpikir, menjadi elan vital dalam merumuskan kebijakan dan mengatasi persoalan, justru di-hilir-kan, dikerdilkan, disekunderkan bahkan diobjekkan dalam proses cara berpikir dan memutuskan kebijakan sosial dewasa ini. 

Dalam skala lebih luas, segala persoalan bangsa cenderung kita persepsikan sebatas wilayah tanggungjawab parsial departemental dan ego sektoral semata.

Bisa jadi salah satu biang dari bertumpuk persoalan multidimensional bangsa kita dewasa ini akibat dari sikap dan perilaku kita sendiri dalam berpikir dan bertindak yang katakanlah, kurang berbudaya sehingga mudah sekali mengambil jalan pintas dan instan yang cenderung destruktif.

Meski demikian, kita semua tahu bahwa diskursus soal kebudayaan kurang mendapat ‘porsi substantif’ dalam komunikasi ruang publik. Justru saat ini kita cenderung terjebak pada perdebatan reaktif dan parsial yang penuh kegaduhan (daripada mencari solusi bersama) dalam memandang berbagai persoalan kompleks multidimensional.