Paralegal
6 bulan lalu · 211 view · 5 min baca · Gaya Hidup 32764_38184.jpg

Pendaki Pemula, Incaran Empuk Hipotermia

“Ada rencana ke mana weekend ini?” Begitu biasanya pertanyaan yang saat ini sering dilontarkan oleh kaum milenial. 

Ketika mereka ingin menghabiskan waktu senggang bersama teman, setelah terhimpit kesibukan sehari-hari, biasanya sih, kalau gak nongkrong di kafe, nge-mall, atau ya gitu-gitu saja, membosankan.

Tak jarang juga memilih refreshing berkegiatan outdoor wisata alam. Bahkan beberapa memilih menghabiskan waktu untuk kegiatan yang memacu adrenalin, mendaki gunung misalnya.

Tren mendaki gunung akhir-akhir ini sedang up di kalangan milenial. Mungkin pemicunya bisa karena muncul film-film petualangan mendaki gunung, misalnya 5 CM bergenre persahabatan dan alam.

Film yang diadaptasi dari novel karya Donny Dhirgantoro ini bercerita tentang 5 sahabat yang mengadakan reuni dengan mendaki Gunung Semeru ketinggian 3676 Mdpl. Set film dibuat seolah siapa saja bisa melakukan pendakian dengan persiapan dadakan. Lalu bisa trekking melalui proses pendakian yang kurang sesuai dengan SOP.

Ada pula program televisi berlatar petualangan meng-explore tempat indah di Indonesia, menjadi review destinasi wisata. Melalui gambaran tersebut, tidak dimungkiri kaum milenial banyak yang mengarahkan weekendlist atau waktu liburnya untuk pergi menjajaki pegunungan.

Terlebih untuk pemula, yang awam pengetahuan tentang dunia kependakian. Namun mereka berkeinginan menjajal sebagaimana peran dalam film mereka sendiri. Selain itu juga, pastinya agar bisa nge-hits di medsos yang kekinian.

Gairah wisata kegunung semakin marak. Dengan munculnya berbagai macam jasa wisata Open Trip yang memberi tawaran menjelajah gunung dengan include yang menarik, di luar perlengkapan pribadi, alat perlengkapan tim sudah diurus porter, makanan disediakan oleh chef gunung, dan yang pasti guide sebagai pengarah langkah pendaki.


Beruntung jika mendapat jasa open trip dengan guide berpengalaman dan bersertifikat, setidaknya bisa menjamin keselamatan di jalur pendakian. 

Tapi bagaimana dengan pendaki pemula yang nekat, secara selanang-selonong mendaki tanpa persiapan dan perlengkapan yang seharusnya? Hal ini tentu berisiko bagi keselamatan diri.

Mendaki gunung bukan hal baru di lingkungan penggiat alam seperti Mapala, KPA (Komunitas Pecinta Alam), APGI (Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia), Backpacker, juga orang yang hobi dan berdedikasi pada olahraga yang bisa dibilang ekstrem ini. Seperti Mapala, pastinya setiap anggota diwajibkan menguasai ilmu-ilmu dasar beraktivitas dialam bebas.

Banyak hal ditemui ketika hiking. Bahaya serta menantangnya medan pendakian dapat memicu kelelahan serta menurunnya kondisi fisik.

Terkena hipotermia misalnya, di mana suatu keadaan penurunan suhu inti tubuh di bawah 35°C (95°F). Pada suhu ini, mekanisme kompensasi fisiologis tubuh gagal menjaga panas tubuh, yang rentan terjadi diketinggian 3000Mdpl.

Gejala hipotermia dikategorikan menjadi dua. Hipotermia ringan, ketika suhu tubuh di antara 32°C-35°C, tubuh gemetar, kulit dingin, pucat, napas memburu, kelelahan dan kebingungan. Hipotermia akut, saat suhu tubuh sudah turun di bawah 32°C, berhenti menggigil dari kedinginan, justru malah kepanasan (paradoxical undressing).

Seperti yang terjadi pada sekelompok mahasiswa Universitas Sriwijaya, pada pendakian Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel, tanggal 30 April 2014. Pendakian massal beranggotakan 29 orang, terdiri dari 16 laki-laki dan 13 perempuan. Di antaranya Ain dan Melan; anggota perempuan yang pernah mendaki, Marin dan beberapa teman lainnya ada yang masih pemula.

Melakukan registrasi di kediaman kuncen, “Ayah Anton” begitu sapaan yang biasa para pendaki sematkan. Pendakian via jalur umum kampung IV, kaki Gunung Dempo. Pukul 10.00 WIB anggota bergerak dari permukiman warga.

Kiri-kanan hamparan kebun teh PTPN yang tumbuh berpuluh tahun lalu serupa karpet terbentang seakan menyambut para pendaki, kicauan burung bertegur sapa, jalan berkelok menanjak, udara segar menyemangati langkah di jalanan beraspal menuju titik awal pendakian.

Pukul 11.00 WIB, berdoa sebelum pendakian hal wajib setiba di pintu rimba, dan susur hutan dimulai. Hutan hujan dengan pepohonan berlumut sebagai dekorasi, tangga alami akar pohon, jalan yang hanya setapak berlubang, berliku, dan licin.

Jalur pendakian gunung dempo memiliki 2 Shalter (tempat beristirahat). Pukul 13.00 WIB tiba di Shalter I, terdapat aliran sumber air, beristirahat sekaligus makan siang. Rombongan dalam satu barisan terus berjalan, 2 jam kemudian sampai dipost bayangan yang ditandai dengan tanjakan dinding lemari kemiringan 160°, tanahnya licin melewatinya dengan seutas tali webbing.


Sudah 4 jam perjalanan, pukul 15.00 WIB tiba di Shalter II. Masih bergerak, namun Marin, Melan, Ain dan dua teman lelaki terpisah dari rombongan, itu karena Marina kerap meminta rest ditiap 10m.

Waktu berlalu, pukul 17.00 WIB mereka tiba di Cadas, bebatuan basah semakin menebalkan rasa dingin ke dalam tubuh. Namun fatalnya mereka malah beristirahat, duduk membuka bekal cemilan juga sisa air minum, di bebatuan basah itu. 

20 menit beristirahat, mereka bergerak. Tak jauh dari cadas menanjak terdapat makam perintis jalur pendakian, mereka berdoa sejenak.

Gelap menyerang, embun dan titik air melembab, dingin semakin menusuk tulang, Marin kelelahan, nampak gemetar dan semakin kedinginan dengan suhu sekitar 7-15°C. Jaket milik Ain tadinya dipakai Marin untuk merangkap jaket yang dipakainya, kini diminta untuk dipakai Ain.

Pukul 19.00 WIB, wajah langit malam berhias kelip bintang mulai terlihat, itu menandakan puncak sudah dekat. Sekitar 30 m ke puncak, tiba-tiba Marin sempoyongan dengan snack oatmeal masih tergigit di mulutnya.

Sadar bahwa Marin terkena hipotermia, Ain yang berada di depan langsung menangkap tubuhnya yang hampir tersungkur. Teriakan tolong didengar teman yang telah sampai di puncak, segera meraka turun untuk menarik tubuh Marin.

Setiba dipuncak 3.159 Mdlp, tenda darurat sudah berdiri. Sebenarnya Top bukan tempat recommended camp, yang benar ialah Pelataran hamparan yang berada antara dua puncak; Top Dempo dan puncak Kawah Merapi.

Segera Marin ditangani, jaket dan baju basah diganti, membungkus badannya dengan sleepingbag, memberi minuman manis yang hangat, mengajaknya berbicara dan berdoa agara tetap dalam kondisi sadar. Beruntungnya saja Marin terserang hipotermia yang tergolong ringan.

Setidaknya seperti itulah pertolongan pertama yang dilakukan untuk korban hipotermia. Atau jika keadaan semakin darurat segera minta bantuan tim SAR.

Kasus hipotermia di Gunung Dempo kembali terjadi, Agustus 2018 ada 14 pendaki yang nekat, meski sudah dilarang karena meningkatnya aktivitas Merapi Dempo. Akibatnya 3 orang mengalami hipotermia.


Dan terbaru, akhir Januari 2019 kasus hipotermia dialami oleh satu peserta Diksar Mapala FH Universitas Muhammadiyah Palembang. Korban sempat dilarikan ke RSUD Basemah, namun tidak tertolong.

Hipotermia bisa menyerang siapa saja, bahkan pendaki expert sekalipun. Apalagi pendaki pemula lebih berisiko karena kurangnya pemahaman. Kasus hipothermia tersebut dapat menjadi pembelajaran. Bahwa mendaki gunung bukan hanya soal tren atau eksisitensi semata, melainkan bertaruh nyawa dengan alam.

Sangatlah penting mengenali kemampuan diri dan memahami Basic Preparation pendakian, serta ilmu dasar seperti Survival, dan PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat). Agar pendaki bisa meminalisir kecelakaan serta terjaminnya kelesamatan pribadi maupun orang lain.

Artikel Terkait