Mendaki gunung sebenarnya perkara yang cukup sulit, namun akan terasa lebih mudah jika kita sudah mengetahui aturan dan pembekalan apa saja yang mesti kita siapkan. 

Di zaman sekarang ini, banyak sekali orang yang mengaku bahwa dirinya ialah seorang pendaki. Padahal, mereka tidak tau pasti apa itu makna dari seorang pendaki yang sebenarnya. Apakah mendaki hanya untuk pansos? Apa mendaki hanya untuk ajang pamer semata? Atau mendaki itu untuk memperlihatkan diri bahwa kita manusia yang keren?

Sebenarnya apa sih pendaki itu? Jadi, pendaki adalah sebutan untuk seseorang yang mampu secara fisik dan mental untuk melakukan suatu pendakian. Pendakian sendiri ialah perjalanan panjang dan penuh semangat yang biasanya melewati jalan kecil di area pedalaman. 

Omong-omong tentang fisik, seorang pendaki harus mempunyai fisik yang kuat dan tangguh. Kita tidak akan pernah tau medan apa yang akan lewati. Apakah jalan itu akan terjal atau bahkan mendatar. Gunung mempunyai banyak sekali kejutan dan rahasia. Kita tidak bisa menebak jalan apa yang akan kita lalui. Karena itulah fisik adalah faktor utama untuk bisa menjadi seorang pendaki yang tangguh.

Percayalah gunung tidak selalu hangat meskipun jika dilogika kita menjadi lebih dekat dengan matahari. Justru di gunung itu malah cenderung dingin karena semakin tinggi tempat maka udara juga akan semakin tipis. Itulah yang menyebakan udara di gunung menjadi dingin. Tentunya hal ini bisa menjadi masalah jika kita tidak menyiapkan fisik kita untuk bertahan pada suhu yang rendah. 

Selain itu, kita juga harus menyiapkan fisik yang matang. Jangan tiba-tiba mendaki gunung tanpa latihan fisik karena kita mendaki bukan untuk mencari masalah. Jadi, alangkah baiknya menyiapkan fisik dengan cara berolahraga agar badan tidak terasa kaget atau kaku.

Tidak lupa juga bahwa seorang pendaki juga harus mempunyai mental yang sekuat baja. Bagi saya sendiri, mental dalam hal pendakian menjadi faktor paling utama bahkan mengalahkan hal fisik. Saya selalu memegang kalimat “mental yang kuat akan bisa mengalahkan fisik yang lemah”.

Saya dapat membuktikannya sendiri. Bagaimana sih caranya? Jadi, saat mental kita kuat, maka kita akan bisa berpikir kritis tentang bagaimana menghadapi situasi yang kadang membuat kita kebingungan dihadapkan suatu hal. Misalkan saja saat tubuh kita sudah kelelahan, maka ego akan menyuruh kita beristirahat bukannya tetap memaksakan diri untuk tetap melakukan perjalanan.

Meskipun begitu, kadang ego juga bisa menjadi hal yang dapat mendatangkan masalah paling utama. Setiap orang mempunyai ego dan keinginan masing-masing. Kita tidak bisa memaksakan kehendak ego pada tiap manusia. Tetapi, dalam hal mendaki gunung ego pada tiap pendaki hanya akan memunculkan suatu perbedaan.

Mementingkan ego sendiri saat melakukan pendakian adalah masalah paling sering yang dihadapi oleh sebagian kelompok pendakian. Pasalnya, dalam sebuah tim pendakian saya yakin kadang akan ada individu yang bersikap egois atau mementingkan dirinya sendiri. Dia tidak akan memikirkan teman sependakiannya, tetapi dia hanya akan memikirkan cara agar dia bisa cepat-cepat sampai puncak. Inilah masalah yang kadang menjadi penyebab kasus orang hilang di gunung. 

Ego yang semakin tinggi hanya akan menjadi malapetaka saja. Secara tidak sadar, dia akan memisahkan dirinya sendiri dari kelompok dengan berpikir “ah lama, nanti saya tunggu diatas saja”. Padahal, apa sih sebenarnya yang lebih penting dari suatu kebersamaan? Apa salahnya jika kita menunggu dengan sabar teman pendaki yang sedang beristirahat. Dengan begitu juga kita dapat kembali mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan dengan lebih baik bukan?

Percayalah, jika kita hanya mengandalkan kata “nanggung, sebentar lagi sampai”, justru hal itu hanya akan menyusahkan diri sendiri. Dengan beristirahat sejenak juga tidak akan membuat puncak berpindah tempatkan?

Untuk itu, langkah awal pendaki untuk dapat menciptakan sebuah mental yang kuat, maka kita perlu menanamkan mindset kalimat, “puncak bukanlah tujuan yang sesungguhnya, melainkan kebersamaan hingga akhir merupakan puncak yang sebenarnya”. 

Kita bisa mendaki gunung itu lagi jika kita tidak bisa sampai ke puncak. Percayalah gunung tidak akan pernah lari darimu, dia akan selalu berada di tempatnya menunggu kamu bisa menggapainya lagi. Sedangkan kebersamaan antar individu satu dengan individu lain lah yang menjadi tujuan yang sesungguhnya. Kamu bisa menjaganya atau dia akan lari darimu. 

Jangan pernah menganggap teman sependakianmu menjadi beban, tapi anggaplah teman sependakianmu menjadi sebuah tujuan. Saya yakin, jika kita mempunyai tujuan yang sama maka puncaklah hadiahnya. 

Gunung tidak akan pernah ingkar janji. Dia akan selalu menyiapkan diri untuk menyambutmu. Jadi, untuk pendaki pemula yang akan naik gunung, siapkan fisik dan mentalmu mulai dari jauh-jauh hari. Karena persiapan itu akan menjadi hadiah yang paling baik untukmu.