Aktivitas mendaki gunung sudah menjadi sesuatu yang “biasa”, terutama di kalangan anak muda. Hal ini juga dipengaruhi oleh media sosial yang memunculkan ketertarikan atas informasi pendakian yang beredar. 

Tapi, walaupun hanya mengikuti tren, kamu juga harus bisa sadar diri dengan menjaga kebersihan di gunung tersebut atau paling tidak jangan mengotori gunung tersebut.

Banyak orang mengatakan mendaki gunung adalah aktivitas aneh, pergi ke alam bebas, melewati tantangan sulit, bahkan kematian pun bisa menghampiri secara tiba-tiba. Banyak juga yang merasa tertantang untuk mendaki gunung dengan segala kesulitan yang dihadapi.

Di balik keseruan dari mendaki gunung, ada hal-hal aneh yang sering ditemui. Jangan heran jika mendengar peraturan yang dianggap tidak perlu tetapi harus dipatuhi selama pendakian, juga ada larangan-larangan yang jika dilanggar berakibat fatal bagi pendaki. Seperti contohnya dilarang melakukan pendakian jika anggota timnya ganjil. 

Kali ini saya bukan membahas tentang larangan saat di gunung, tapi hal lain yang masih berhubungan dengan gunung.

Mendaki gunung membuat kita bertemu banyak orang dengan berbagai perilaku uniknya. Dari sekian banyak pendakian dan bertemu dengan banyak orang, ada beberapa tipe pendaki yang sering saya lihat.

Yuk langsung saja.

Newbie

Pendaki ini merupakan pendaki yang biasanya terlihat ceria dan bersemangat. Biasanya mereka juga belum mempelajari beberapa keterampilan pendakian gunung. 

Namun, biasanya mereka sudah membaca tips pendakian gunung sebelum berangkat. Pendaki ini tidak neko-neko dan disiplin mengikuti prosedur safety. Mereka juga bisa dilihat dari perlengkapan pendakian yang masih belum lengkap. Mereka sering putus asa di tengah pendakian, tapi juga lebih mudah untuk disemangati agar bisa mencapai puncaknya. Ayo, kamu bisa!

Sang Penyair

Pendaki ini biasanya belum tentu suka dengan gunung atau traveling. Biasanya mereka mengajak pasangan atau gebetannya untuk diajak mendaki gunung. 

Sebelum berangkat pendakian, alih-alih menyiapkan fisik dan tenaga, mereka malah menyiapkan kata-kata atau lagu romantis dan puisi. Meski begitu, mereka termasuk pendaki yang disiplin dalam mengikuti prosedur safety dan perlengkapannya termasuk komplit.

Si Ribet

Pendaki ini kebanyakan pendaki kaum wanita. Selalu merasa tidak siap dan takut ada yang kurang, padahal perlengkapannya sudah lebih dari cukup. 

Mereka juga biasanya yang paling “berisik” di grup. Membahas jadwal keberangkatan dan pulangnya, masalah transportasi, masalah logistik, dan mencari teman-temannya yang terkadang menghilang saat pembahasan. Ketika di pendakian mereka memiliki barang bawaan yang banyak dan menyusahkan teman satu timnya. Jangan gitu dong mba….

Leader

Mereka ini biasanya orang yang paling diandalkan dalam segala hal. Mereka juga tidak gampang mengeluh dan sudah mengetahui jalur pendakian yang dilalui dengan baik. Karena biasanya mereka sudah mempunyai pengalaman mendaki yang tidak terhitung dan biasanya menguasai Teknik Survival

Mereka juga yang paling dicari untuk melakukan pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan. Saat pendakian, mereka sering memunguti sampah yang berada di jalur pendakian dan menegur pendaki lain yang mengotori alam. Pantas lah mereka ini disebut sebagai leader.

Si Dermawan

Pendaki ini selalu menolong teman satu tim atau bahkan pendaki lain di jalur pendakian. Mereka ini bisa dilihat cirinya yaitu senang berbagi, rasa peduli yang tinggi, rela berkorban dan agak pasrah. 

Bahkan ketika logistiknya sudah menipis, mereka masih memberi kepada orang lain yang sedang kesusahan. Mereka juga mengayomi teman satu tim yang membuat teman-temannya nyaman selama pendakian.

Egois

Pendaki ini tidak terlalu peduli dengan timnya. Mereka adalah “musuh” dari Si Dermawan tadi. Mereka lebih mengutamakan kepentingan dan kenyamanannya sendiri. Kebanyakan dari mereka tidak bisa mengontrol egonya dalam pendakian dan selalu seenaknya sendiri dalam menentukan segala sesuatunya. 

Karena itu, meskipun mereka berangkat bersama teman-temannya, mereka bisa saja meninggalkan teman-temannya yang dianggap memperlambat perjalanan. Banyak teman satu timnya yang tidak menyukai orang ini. Egois sekali. 

Religius

Pendaki ini selalu mengingatkan teman-temannya untuk beribadah. Sebelum keberangkatan, biasanya mereka menggelar acara doa bersama teman-teman satu timnya agar selamat sampai tujuan. 

Saat di pendakian, mereka tidak pernah meninggalkan kewajibannya untuk beribadah dan berdoa kepada tuhan. Ada yang salat di pos pendakian, ada yang sholat di puncak gunung, pernah saya lihat ada orang yang beribadah dengan membakar dupa. Ini merupakan contoh yang baik, selalu mengingat penciptanya.

Itulah beberapa macam pendaki yang sering ditemui. Setiap pendaki mempunyai pribadinya masing-masing, kita tidak bisa menuntut agar sesuai dengan yang diinginkan, karena tiap orang berbeda-beda. 

Yang harus selalu diperhatikan adalah saling membantu dan mengingat rekan satu tim ketika sedang kesulitan. Masih banyak pendaki yang belum diidentifikasi. Jadi, sampai sini dulu pembahasannya, saya ingin melanjutkan identifikasi pendaki yang lain. Dadah.