Istilah pencinta alam sudah familiar di kalangan masyarakat. Penyematan pencinta alam ini sering diidentikkan dengan pendaki gunung atau penjelajah alam bebas.

Terutama kegiatan mendaki gunung. Melihat dinamika yang berkembang, kegiatan ini sangat identik dengan seorang pencinta alam. Para pendaki gunung biasanya memiliki latar belakang sebagai anggota organisasi pencinta alam atau mahasiswa pencinta alam.

Lantas apakah pendaki gunung adalah interpretasi dari pencinta alam? Menilik tren yang berkembang, saya katakan tidak.

Apa sebab? Salah satu kenyataan yang paling tampak bahwa semakin hari jumlah pendaki gunung semakin banyak. Hal itu berbanding lurus dengan bertambahnya jumlah sampah di gunung.

Lalu siapa pencinta alam itu? Setiap orang mempunyai pendapat sendiri tentang definisi pencinta alam. Secara epistemologi pencinta alam ialah orang-orang yang mencintai suatu lingkungan hidup secara luas, tidak hanya meliputi gunung. Mencintai sesuatu tentu harus bisa dibuktikan. Pembuktian tersebut bisa berupa pengorbanan.

Dalam konteks mencintai alam, tentu representasi riil dari pengorbanan tersebut ialah berupa melestarikan lingkungan. Pelestarian lingkungan ini meliputi banyak hal di dalamnya; menjaga ekosistem maupun habitat flora dan fauna, tidak membuang sampah sembarangan, terutama di sungai, melakukan penghijauan dan lain-lain.

Oleh karenanya ruang lingkup aktivitas pencinta alam tidak hanya sebatas naik gunung belaka. Namun orang yang mendaku diri sebagai pencinta alam hendaklah mampu menunjukkan rasa cintanya kepada alam dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seperti menanam pohon, menanam mangrove atau membersihkan lingkungan. 

Tidak hanya itu, mereka seyogyanya peka terhadap isu-isu kontemporer mengenai lingkungan, pemanasan global, permasalahan sampah, pembakaran hutan, banjir, isu-isu agraria dan lain sebagainya.

Mengingat tumpukan sampah hingga menggunung yang terdapat di gunung adalah sebuah bukti bahwa tidak selalu pendaki gunung merupakan orang-orang yang mencintai alam. Penikmat alam? Ya.

Dari hari ke hari pendaki gunung semakin banyak. Hal ini harus dibarengi dengan upaya pemberian edukasi secara intens kepada mereka tentang urgensi menjaga alam. Paling tidak outputnya adalah kegiatan pendakian mereka tidak merusak hutan di gunung. Akan sangat positif apabila selanjutnya semakin ada kesadaran tentang pentingnya aktivitas reboisasi, penghijauan di gunung dan lingkungan pada umumnya.

Hari-hari ini suhu udara di Jombang —tempat tinggal kami, panas sekali. Saya agak khawatir memikirkan berita terkait suhu ini dari Bappenas. Hasil riset yang dijadikan rujukan pengumuman itu menyatakan, dalam waktu tiga tahun ke depan sejak tahun depan, Indonesia akan mengalami kekeringan panjang.

Sementara, melihat informasi yang ada, lapisan gunung es glester di kedua kutub bumi, meleleh. Tanahnya yang ribuan tahun tertutup salju, kini mulai terlihat. Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkhawatirkan pada tahun 2023 ice sheet (puncak es) di puncak Gunung Jayawijaya akan meleleh.

Di bulan November 2016 saja, ice sheet puncak Jayawijaya atau yang dikenal dengan Puncak Cartenz kembali mengalami penurunan 1,43 meter. Ketebalan ice sheet di puncak Jayawijaya tinggal tersisa 20,54 meter.

Siklus iklim berubah. Penopang oksigen terbesar di dunia yang ada di Amazon mulai rusak. Sejalan dengan hal tersebut, hutan-hutan di Indonesia dibabat habis oleh kepentingan oligarki. Karhutla di Riau adalah salah satu contoh nyata. Ditambah lagi kebakaran hutan gunung-gunung di Indonesia.

Tercatat setidaknya ada 14 hingga 15 gunung yang terbakar sepanjang 2019 ini. Gunung tersebut di antaranya adalah Gunung Rinjani, Panderman, Arjuno-Welirang, Sumbing, Ile Mandiri, Guntur, Gunung Agung, Ciremai, Merbabu, Slamet, Rasamala, Batukaru, Semeru, dan Raung. 

Kebakaran hutan ini disebabkan banyak hal, terutama sebab kondisi musim. Kemarau yang berkepanjangan dan terlalu panas disebabkan berkurangnya hutan sebagai penyangga oksigen turut membuat hutan-hutan itu sendiri terbakar.

Ada juga persoalan sampah yang dirasa cukup mengkhawatirkan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 mencatat, sampah Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Indonesia juga menjadi nomor 2 penyumbang sampah plastik terbesar di laut setelah Tiongkok.

Sampah plastik ini disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya faktor industri dan rendahnya budaya masyarakat menyadari bahaya sampah plastik, yang kemudian dengan tanpa kontrol mengonsumsi sampah plastik secara berlebihan. Ditambah lagi kebiasaan membuang sampah non-organik tersebut secara sembarangan.

Sebagaimana yang diberitakan Jawa Pos, sebenarnya per tanggal 1 Maret 2019 kebijakan kantong plastik tidak gratis (KPTG) mulai diterapkan di sejumlah ritel anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Maka pemerintah perlu menyambut baik inisiasi Aprindo tersebut dengan menerbitkan payung hukum melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKHK). Hal ini membutuhkan partisipasi dari berbagai pihak.

Permasalahan lingkungan tersebut harus disadari oleh manusia, lebih-lebih pendaki gunung yang mendaku diri sebagai pencinta alam. Seorang pencinta alam harus menjadi pelopor untuk menjaga alam. 

Ia harus bisa membuktikan kecintaannya terhadap alam dengan melakukan aktivitas konkret memulai dari hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon atau mangrove, mengurangi konsumsi sampah plastik dan lain sebagainya. Akan sangat naif di saat gunung-gunung menangis kebakaran, sedangkan ia sibuk memikirkan planning pendakian.