“Bagi mahasiswa yang gak niat kuliah, boleh saya izinkan keluar kelas. Gak usah nambah-nambahin jumlah pengangguran ya…” kata seorang dosen di sebuah Perguruan Tinggi Nan Semaunya (PTNS). Dosen bebas ngomongin mahasiswa. Tidak salah, kan, kalo mahasiswa juga ngomongin dosennya?

Kesenangan sebagai seorang mahasiswa salah satunya yaitu mendapat nilai A. Jangankan A, tidak mengulang mata kuliah saja sudah senang kok. Tidak perlu jauh ke mahasiswa, dari SD pun kita akan selalu bahagia jika mendapat nilai 100, misalnya. 

Sebetulnya bukan nilai yang membuat senang, namun dampak nilai untuk kita. Dibelikan sepeda, sepatu hingga gadget baru. Mahasiswa lain lagi. Makin banyak nilai A, IPK makin bagus, makin cepet lulus. Dampaknya, ya peluang diterima kerja.

Betul memang, nilai bukan penentu utama untuk diterima kerja. Apalagi belakangan ini, keterampilan lebih diutamakan. Namun kenyataanya, masih banyak penyedia lapangan kerja yang menanyakan IPK. Setidaknya seleksi awalnya.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang punya IPK rendah? Gak bisa kerja? Auto nganggur? Apa betul mereka ini mahasiswa yang tidak niat kuliah sesuai ucapan seorang dosen di atas? Seandainya memang kemampuan akademisnya yang bermasalah, ya mungkin saja. 

Nah, mungkin tidak ya, mahasiswa yang dilabeli tidak niat ini karena memang pengaruh dosennya? Eits, tunggu dulu. Saya tidak bermaksud untuk menyalahkan setiap dosen. Tapi, kita yang pernah menjadi mahasiswa paham betul ragam jenis dosen di muka bumi ini, bukan? 

Tanpa bermaksud mengesampingkan teman-teman yang mungkin belum berkesempatan untuk kuliah, analoginya sama kok dengan ragam jenis guru, banyak juga, kan?

Dari dosen yang luar biasa baik, ramah, mampu mengajar, memotivasi mahasiswanya dan murah akan nilai. Sampai dosen menjengkelkan yang bahkan cuma namanya saja yang kita dengar ketika ngontrak mata kuliahnya. 

Belum lagi dosen pembimbing skripsi yang menjadi salah satu variabel tetap dalam kontribusi lamanya penyelesaian skripsi. Dosen juga manusia. Jadi, Itu semua termasuk kebesaran Tuhan, yang menciptakan manusia dalam perangai yang beragam. Patut disyukuri ya!

Urusan bersyukur tentu saja semua orang sudah tahu. Tapi, jika urusannya ketemu dosen yang menjengkelkan sampai bikin gak niat kuliah itu, apa ya gak bikin ngenes sih? 

Apalagi jika keluar tedeng aling-aling atas nama stimulasi bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja. Double kill! Ini juga yang terjadi di semua jurusan di PTNS.

Konon katanya, di sana dosen yang baik itu fiktif. Semua dosennya bikin gak niat kuliah. Coba bayangkan. Umumnya, dosen itu memberitahu pada seluruh mahasiswanya mengenai apa-apa saja materi kuliah yang akan diajarkan selama satu semester. Termasuk kapan kuliahnya, ujiannya, bagaimana penilaiannya, sampai kapan kuliah berakhir. 

Biasanya hal itu disebut Satuan Acara Perkuliahan (SAP). Tapi di PTNS semua itu tidak ada. Mulai kuliah ya gimana dosennya. Nilai yang diberikan ya gimana dosennya, lha wong nan semaunya kok?

Minggu lalu saya mendengar keluhan dari keponakan saya, Tesla. Keponakan saya ini sudah semester 9 di PTNS. Selama perkuliahan jarak jauh (PJJ), saya perhatikan dia itu tidak pernah mantengin laptop. 

Tesla bilang dosennya hanya menggunakan whatsapp untuk perkuliahan. Itu pun waktunya ya gimana dosennya. Sekalinya online hanya memberikan tugas baca dan membuat presentasi.  Lalu hilang begitu saja. 

Saya berpikir, mungkin ini adalah dampak PJJ. Tapi, Tesla menyanggah dengan berkata “gak ngaruh om. Ini tuh aku ngulang ya. Dulu pas belom covid juga sama, ngajarnya gitu doang, semaunya! ”.

Beda Tesla, berbeda juga dengan Ziva, adiknya yang semester 4 di PTNS. Dalam sehari, ia bisa berada di depan layar laptop selama 5 jam. Empat kali seminggu. Katanya memang begitu kuliahnya. Tunggu. Jika selama itu perkuliahannya, mungkin ada dosen yang rajin mengajar di PTNS?

Usut punya usut, Ziva tidak sedang kulon, kuliah online. Tapi malah fan-girly-ngan bersama komunitas penghobi musik yang baru diikutinya semenjak covid menyerang. “Abis kita sekelas itu dibanned ga dikasi kuliah. Yang PP nya pake gaya-gaya dikomenin. Yang ga pake jilbab diceramahin”. 

Ziva cerita bahwa dosennya suka nyinyir lagi mahasensitif. Pada saat kulon pertemuan ketiga, Ziva dan tiga temannya terlambat 5 menit di kelas daring beliau. Mereka dianggap tidak menghargai. 

Hasilnya, alih-alih kuliah, mereka malah diskusi daring untuk mencari cara bagaimana meminta maaf pada dosennya. Tapi itu di 5 menit pertama, sisanya ya… boy band.

Tidak heran bila keponakan saya itu masuk ke daftar mahasiswa yang gak niat kuliah. Tunggu. Siapa yang gak niat, sih sebenarnya? Pastilah memang, tidak ada asap kalo tidak ada api. Tapi mana yang api mana yang asap?

Bersyukur saya tidak harus kuliah seperti mereka. Nasib baik, saya bisa kuliah di tempat lain. Saat saya kuliah dulu, tidak ada jenis dosen seperti itu. Semua profesional. Hasilnya, ya… Alhamdulillah. Di angkatan saya, tidak ada satu pun yang nganggur selepas kuliah. 

Lah memang nganggur atau kerja itu tanggung jawab dosen? Ya tidak juga sih…. Tapi…

Bayangkan. Dosennya Tesla dan Ziva menjadi pengajar kita semua. Bagaimana keilmuan yang akan kita dapatkan? Skill? Pola pikir? Kualitas lulusan? Bagaimana bisa bersaing di dunia kerja kalu sudah begini? Apa ya masih berharap dosen-dosen ini berhenti mencetak pengangguran intelek untuk negara?

Oh iya, saya lupa. Kan mereka itu mahasiswa ya… sudah tidak wajib lagi disuapi. Mahasiswa harus mandiri. Dalam hal apapun. Titik. Kalau saja kewajiban mahasiswa ini dibarengi dengan dosen yang lebih mumpuni dalam mengajar, terbayang kan dampaknya?