Bulan puasa bagi umat Islam memiliki nilai spiritual dan sosial. Kedatangannya ditunggu dan dinanti selama 11 bulan. Tidaklah mengherankan apabila banyak umat Islam menyambutnya dengan berbagai euforia, baik dalam bentuk ekspresi budaya maupun ramainya umat Islam menyambangi kuburan. Tetapi, itu wujud ekspresi yang sah-sah saja.

Seruan-seruan dari mimbar masjid makin menggema, mulai dari ceramah tarwih hingga merdunya panggilan bangun sahur. Singkatnya, umat Islam makin kompak berpuasa. Tetapi yang menjadi problem, apakah itu diikuti dengan sikap kedewasaan dalam beragama? Sebab puasa senantiasa dimaknai sebagai bulan penuh rahmat.

Kalau umat Islam begitu fasih menyebutkan bulan puasa penuh dengan rahmat, kita berharap pula umat Islam berpuasa tidak menjadikan orang-orang di luar Islam merasa terganggu. Apalagi menyeru orang-orang yang mencari rezeki dengan berjualan makanan dipaksa menutup jualannya, kita ber-khuznuzon ada musafir atau orang non-Islam membutuhkan.

Puasa mesti menjadikan umat makin dewasa, segaligus kita berharap dari mimbar-mimbar masjid didengungkan seruan yang bergizi, baik secara spiritual maupun sosial. Sebab, dengan ceramah bergizi akan membuat energi umat makin membaik, menumbuhkan sikap dewasa dalam beragama.

Ceramah bergizi bukan hanya menjadikan umat secara spiritual memahami hakikat beragama; bahwa Tuhan menghadirkan perbedaan memiliki maksud tersendiri supaya manusia mampu menangkap pesannya secara universal. Bila umat mendapatkan ceramah yang segar, tentu akan menjadikan umat mengedepankan persangkaan baik terhadap sesama.

Harapan untuk menjadikan umat makin dewasa mesti digelorakan dari berbagai elemen umat Islam. Salah satu elemen yang menjadi harapan untuk mewujudkan itu datang dari penceramah. Tentu harapan itu memiliki dasar pijakan yang jelas dengan pertimbangan bahwa para penceramah memiliki kedekatan tersendiri dengan umat.

Kedekatan penceramah dengan umat bukan hanya terjadi pada bulan ramadan, melainkan pada bulan-bulan di luar ramadan. Setidaknya mulai dari mimbar jumat hingga berlanjut di majelis taklim. Tetapi yang intens terlihat itu terjadi pada bulan ramadan. Untuk itu, memaksimalkan ramadan menyerukan ceramah bergizi tentu memiliki dasar kuat.

Para penceramah mesti menyerukan Islam yang lebih bersahaja dan sejuk untuk semua, termasuk yang non-Islam. Menampilkan wajah Islam cerah tentu bukan didasari atas stigma yang dilekatkan pada Islam yang keras. Tetapi, perlu diserukan bahwa Islam yang sejati itu penuh keceriaan dan kebersahajaan.

Contoh teladan Islam, baik pada masa Rasul maupun setelahnya, teramat banyak menorehkan cerita-cerita kebersahajaan dan keceriaan. Betapa bersahajanya Rasul kepada orang non-Islam hingga orang Yahudi Tua disuapinya bagai keluarga sendiri. Lain pula dengan kebersahajaan Umar kala masuk ke Yerusalem dan memberi keleluasaan orang beragama.

Cerita hidup rukun berdampingan antara Islam, Kristen, dan Yahudi di Andalusia mengukir prestasi sebagai salah satu contoh peradaban yang menghargai kepelbagaian, baik agama maupun budaya. Cerita-cerita bersahaja itu mesti diserukan kepada umat bahwa Islam bukan sekadar semboyan rahmatan lil alamin, tetapi mesti dipraktikkan.

Kebersahajaan wajah Islam yang mesti senantiasa disemarakkan dalam relung sanubari umat, bukan malah menyampaikan hasutan-hasutan yang bernada tendensi dan provokasi demi kepentingan golongan. Islam tidak didakwahkan oleh Rasul dan sahabatnya dengan tendensi dan sikap marah.

Kalau Rasul saja bisa ber-khuznuzon terhadap perlakuan-perlakuan yang tidak mengenakkan baginya, mengapa umat Islam berpaling dari sikap yang diteladankan Rasul? Bukankah umat Islam, dari pagi, siang, hingga malam, berharap melakoni kehidupan sebagaimana yang dicontohkan Rasul?

Umat Islam teramat terampil menyuarakan dan mengupayakan menghidupkan sunnah Rasul. Tetapi, sunnah yang doyan dilaksanakan hanya terlihat dari tampilan, seperti memelihara jenggot, bersiwak, bercelana di atas mata kaki, dan berjilbab. Menghidupkan sunnah yang bersifat tampilan luar patut diapresiasi, namun harapan terhadap sunnah sosial juga perlu dihidupkan.

Para penceramah diharapkan menyerukan sunnah Rasul secara seimbang, bukan hanya menjabarkan sunnah yang bersifat tampilan. Namun, perlu juga menyampaikan sunnah sosial Rasul yang penuh keramahan dan kebersahajaan terhadap sesama. Renungkanlah Rasul dihujat, tetapi pada saat si penghujat sakit, Rasul orang pertama menjenguknya.

Ceramah-ceramah bergizi akan menjadikan umat makin dewas. Untuk itu, harapan besar kepada para penceramah di bulan ramadan agar makin menyerukan kepada umat sikap saling menghargai. Bukankah akan jauh lebih indah dan syahduh ibadah puasa yang dijalani umat Islam bila yang lain tetap bebas beraktivitas tanpa ada rasa saling curiga?

Bukankah ibadah puasa menjadikan umat Islam untuk senantiasa bersikap jujur? Mungkin sudah saatnya jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Bahwa ada orang-orang di luar Islam yang juga punya hak. Untuk itu, jujur mengakui kehadiran mereka bukan malah menuntut mereka. Sudah saatnya umat Islam mengerti orang di luar Islam.

Berpuasa mengajarkan sikap menahan diri terhadap berbagai hal, termasuk mungkin umat perlu belajar bersikap menahan diri untuk melarang orang mencari rezeki dengan tetap membuka jualan makanan tanpa khawatir oknum akan mengobrak-abrik, melainkan menunjukkan umat dewasa menyikapi.

Bila para penceramah telah menyerukan kebersahajaan dan keceriaan itu dari mimbar masjid, besar harapan umat makin dewasa dalam beragama. Sebab seruan-seruan ceramah yang bergizi senantiasa didengarkan oleh umat. Maka ungkapan William James soal tipe the health soul, jiwa yang sehat dalam beragama secara perlahan ditapaki oleh umat Islam.