Jakarta - Dalam minggu ini, mendapat tugas dari manajemen tempat saya bekerja sebagai "gugus tugas atau task force monitoring" bagi karyawan yang sedang melaksanakan "Isolasi Mandiri" atau lebih dikenal saat ini dengan istilah "ISOMAN". Dengan adanya yang terpapar positif atau terkena dampak Virus corona, maka pimpinan perusahan mengambil "kebijakan dan strategy" terhadap karyawan terkena dampak Covid-19 tersebut.

Kemudian, saya diberikan "rincian tugas dari pimpinan" untuk menelpon karyawan yang sedang melaksanakan "Isoman" dengan melakukan "pendataan dan pengisian form cheklist" sesuai pertanyaan yang disepakati oleh team manajemen. Pertanyaan ini sama halnya seperti meminta keterangan dengan komunikasi santai "sembari memberikan motivasi kepada karyawan" agar tetap semangat dalam menjalankan "Isolasi Mandiri".

Sebelum memulai tugas "task force atau monitoring karyawan Isoman" mendapat pesan dari pimpinan perusahaan dengan inisial "A". Menyampaikan "bahwa saat berkomunikasi melalui telpon dengan karyawan yang sedang 'Isoman' jangan terlalu serius, jadikan karyawan yang terkena atau terpapar 'sebagai anak asuh' sehingga lebih kekeluargaan dengan memahami apa yang dirasakan oleh karyawan 'isoman' terebut".

Sebagai langkah awal "saya membuat list dan mapping karyawan isoman" sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh pimpinan perusahaan, diantaranya "menelpon dan menanyakan" kondisi saat ini dan kebutuhan apa yang diperlukan seperti "vitamin dan obat-obatan". Dari masing-masing karyawan yang ditelpon, pada intinya memang perlu "support, dukungan dan perhatian" baik dari keluarga maupun pimpinan perusahaan tempat mereka bekerja.

"Secara psikologis" akan menganggu mental dan pikiran? Kenapa demikian, karyawan yang isoman artinya positif terpapar Covid-19. Bisa berdampak negatif bahkan akan menelan nyawa karena kondisi "imum" semakin lemah ditambah lagi memang ada penyakit bawaan, ini lebih khawatir lagi terutama "Anda" mendengar berita informasi Covid-19 "semakin menggila dan semakin merajarela". Pasrah namun tetap berusaha dan berdo,a agar menemukan solusi dari "jiwa dan batin bagian yang sedang terancam kematian".

Dari salah satu cerita "karyawan 'Isoman' yang saya telpon" dengan inisial "AS" hidup dikontrakan, mempunyai anak kecil, menjadi perantauan dan saudara jauh. 'YA' paling saya berdiam diri dalam kontrakan pak "ungkap AS". Hal ini sangat beresiko tinggi terpapar atau menular terhadap "anak dan istrinya", seharusnya Isoman menyendiri dan tidak berkumpul bersama keluarga. Ini kenyataan yang harus diterima 'AS' dengan kondisi tidak ingin "Isolasi Mandiri" ke tempat lebih aman.
***
Tidak bisa dihindari dan harus dihadapi juga oleh "AS" kebetulan hanya sebagai karyawan biasa "operator atau fronliner" yang tempat kerjanya di salah satu perusahaan swasta daerah "Tangerang selatan". Dengan banyak "pertimbangan dan tertanam rasa takut, cemas, tidak ada biaya, waktu banyak terbuang membuat 'AS' hanya bisa berdo,a di kontrakan dengan harapan diberikan kesembuhan oleh Allah-SWT".
***
Siapapun yang merasakan dengan situasi dan kondisi yang dialami 'AS' "mungkin berpikir yang sama" dan tetap ingin bersama anak dan istri, karena dukungan keluarga bagian proses cepat untuk kesembuham dari "Isoman". Walaupun saya yang mewakili dari manajemen perusahan memberikan "support dan solusi" serta menawarkan untuk Isoman ke tempat yang lebih layak, aman dan nyaman. Namun "AS" tetap ingin bertahan bersama "istri dan anaknya" kebetulan kondisi sudah membaik dan akan melaksanakan pemeriksaan "PCR atau Swab Antigen" 2 hari kedepan.

Gejala yang dirasakan oleh karyawan "ISOMAN" berdasarkan monitoring dan hasil diskusi "saya dengan karyawan" melalui telpon, "seperti mengalami demam, panas tinggi, kepala pusing, badan meriang, batuk, flu, filek, sesak nafas, penciuman dan perasa hilang, lemas, dan lesu". Ini merupakan dari gabungan gejala awal maupun setelah terpapar "positif Covid-19" sehingga dilakukan "Isolasi Mandiri", data ini summary dari hasil sebagai gugus tugas "task force dan monitoring" khusus karyawan Isoman.

Pengalaman dari gejala yang dihadapi oleh karyawan "Isoman" tidak semunya dirasakan terhadap gejala yang tertera diatas. Tentunya berbeda-beda diantaranya "Demam dan penciuman hilang, panas tinggi dan hanya batuk, sakit kepala dan perasa hilang, Demam dan lemas, dan lainnya". Intinya dari hasil montioring tidak setiap karyawan yang terpapar positif Covid-19 dan melaksanakan "Isoman" mengalami semua gejala diatas.

Untuk itu, cara efektif mengurangi dampak "Stress Dini" dalam menghadapi "Isoman" sebagai berikut :

Tetap Optimis dan Berpikir Positif :

Kunci utama untuk kesembuhan dari "Isolasi Mandiri Covid-19" selalu berpikir positif dan optimis untuk kesembuhan akibat terpaparnya "Virus Corona". Secara tidak langsung "optimis dan positif" untuk membangkitkan "semangat dan imun tubuh" menjadi lebih kuat dan bertenaga, pastikan didukung juga dengan mental dan hati dalam diri Anda bahwa "Isoman" bisa sembuh dan bukan "Aib atau penyakit" yang mematikan.
***
Hilangkan juga "kekhawatiran dan kegelisan berlebihan" dengan tidak melihat update Covid-19. Hal ini bisa menurunkan imum tubuh menjadi drop sehingga mengalami "lemas dan lesu", dengan demikin lebih mudah terpapar penyakit lainnya terutama dari hati dan pikiran yang bertolak belakang atrinya "pikiran tetap memikirkan akan kesembuhan namum hati masih merasakan dan mengingatkan bahwa Virus corona membahayakan", hal seperti ini harus dihindari dan tetap harus bangkit dari keterpurukan hadapi "Isoman".

Selalu Berdoa dan Menjaga Kesehatan :

Sesungguhnya kekuatan Do,a membuat Anda yakin bahwa tuhan akan memberikan kesembuhan kepada hambanya yang sedang "sakit terutama terpapar Isoman Covid-19 ". Namun tetap fokus berusaha menjaga kesehatan mencari hiburan diri saat "Isoman" melalui digital dan media sosial. Bisa saja selain do,a dan diimbangi dengan usaha gerakan olaharaga ringan dalam kamar, membaca berita yang menarik, nonton video yang membangkitkan imum tubuh, dan lain sebagainya.
***
Mencari kegiatan yang bermanfaat bisa saja berhubungam dengan hoby atau melihat dari kondisi "Isoman" baik di Rumah sakit, rumah pribadi, hotel, dan tempat yang sudah disediakan oleh pemerintah maupun perusahaan. Namun kegiatan menjaga kesehatan ini dilihat dari status "Isoman" ringan, sedang, dan berat, bisa saja masih bisa bergerak, berbaring lesu ditempat tidur, dan lainnya. Sekali lagi do,a dan kesehatan ini tergantung kondisi "Isoman" yang Anda alami.

Support dan Motivasi Orang Terdekat :

Kepedulian dari orang terdekat bagian penting untuk memberikan proses penyembuhan baik dari kebutuhan pribadi yang sedang "Isoman" atau dukungan dan perhatian terutama yang berbentuk financial, makanan, vitamin, obat-obatan, dan lain sebagainya. Sehingga hal ini bisa membangkit yang terpapar "Isoman Covid-19" lebih semangat dalam merespon situasi yang lebih positif. Tentunya ini bisa saja support dari kedua orang tua, keluarga, sahabat terdekat, bahkan di support juga oleh perusahaan dan pemerintah.

Tersedia Obat-obatan dan Vitamin :

Nutrisi tubuh merupakan salah satu kekuatan untuk tetap bertahan selama "Isoman Covid-19". Dalam hal ini tentunya bisa saling berkomunikasi terkait ketersediaan dan kebutuhan "obat dan vitamin" yang diperlukan, baik obat dan vitamin petunjuk dari "tenaga kesehatan atau medis" atau bisa juga tradisional seperti madu kampung, kelapa ijo, dan jeruk nipis buatin sendiri dari keluarga yang support saat menjalankan "Isolasi Mandiri".

Isolasi mandiri bisa sembuh tergantung dirinya sendiri terutama bisa menjaga kestabilan pikiran dan mental dalam menghadapi situasi positif karena Covid-19. "Isoman Sembuh, Isoman Sehat, Isoman inropeksi diri dan Isoman rileksasi diri" semoga imun tubuh tetap kuat dan tetap protokol kesehatan.

Penulis : Noto Susanto.