92709_73216.jpg
google image
Keluarga · 4 menit baca

Pencegahan Pedofilia Jadi Tanggung Jawab Siapa?

Pekan lalu, masyarakat dikejutkan dengan pemberitaan tentang beredarnya video pornografi yang diperankan oleh pedofil wanita dewasa dengan beberapa anak laki-laki di sebuah hotel di  Bandung. Berita ini hampir bersamaan dengan munculnya berita tentang Wawan Sutiono alias Babeh, pelaku sodomi pada 41 laki-laki usia remaja di Tangerang.

Pemberitaan di awal tahun 2018 ini mengawali pemberitaan terkait kasus kekerasan seksual yang marak di tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), kasus kekerasan seksual anak meningkat pada tahun 2017. Bahkan, LPSK memprediksi kasus kekerasan seksual masih akan tinggi di tahun 2018.

Sementara itu, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan sebesar 30,1% dari 7.605 kasus kekerasan anak  yang terjadi  antara tahun 2011-2013 termasuk dalam kategori kekerasan seksual. KPAI juga mencatat 218 kasus kekerasan seksual anak pada 2015, 120 kasuspada 2016, dan 116 kasus pada 2017.

Kasus video pornografi dengan pelaku pedofil wanita dewasa di Bandung ini tampak berbeda dari kasus-kasus pedofilia sebelumnya. Selama ini, banyak diberitakan kasus pedofilia dengan anak perempuan sebagai korban dan lelaki dewasa sebagai pelaku. Sementara, pada kasus yang sedang viral tersebut, anak laki-laki menjadi korban dari pelaku wanita dewasa. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran peran. Korban kekerasan seksual anak tak lagi dialami oleh perempuan saja. 

Kasus pedofilia di Bandung seperti tersebut di atas salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan anak untuk menyatakan sikap menolak. Dalam istilah psikologi,hal ini dikenal dengan istilah asertif. Asertif ialah sikap ketika seseorang mampu mengutarakan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Ketika hati dan pikiran berkata tidak, maka seseorang mampu mengatakan “tidak” sesuai kata hati dan pikirannya.

Ketika anak mengetahui ada orang asing yang akan berbuat jahat dan yang terlintas di pikirannya adalah tidak mau menjadi korban, maka anak akan berani menyatakan tidak mau dan mampum engatakan tidak boleh bagi orang yang akan menyentuhnya.

Meski terlihat sepele, kemampuan untuk memiliki sikap asertif menjadi hal yang mutlak diperlukan anak. Anak yang memiliki sikap asertif dapat mengungkapkan penolakan terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya dan dianggap tidak baik.Dengan demikian, anak akan memiliki kontrol terhadap dirinya dalam pergaulan sehari-hari.

Asertif juga dapat diartikan ketika anak berani mengungkapkan hal kurang menyenangkan yang dialaminya pada orang terdekat, misalnya orang tua. Keberanian mengungkapkan hal yang dialami ini akan membantu untuk menemukan ujung rantai dari kasus-kasus serupa. Hal ini bercermin dari banyaknya kasus kekerasan seksual yang tak terungkap lantaran ketakutan anak untuk mengungkapkan apa yang dialami.

Lantas, siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab dari makin maraknya kasus kekerasan seksual ini? Apakah pemerintah, lingkungan akademik (sekolah), orang tua,ataukah anak? Seyogianya, tak ada satu pihak yang paling bertanggung jawab,karena semua pihak selayaknya memegang tanggung jawab yang sama pentingnya.

Namun, dalam hal ini, peran menjaga keamanan diri anak tak bisa hanya dilakukan oleh pihak yang lebih tua, orang tua dan guru misalnya. Bekal informasi dan pengetahuan tentang seks dan keamanan akan diri sendiri selayaknya sudah dimiliki anak sejak ia mengetahui jenis kelaminnya dan mampu membedakan peran laki-laki dan perempuan, secara sederhana sekalipun. 

Di Indonesia, selama ini pendidikan seks masih dianggap sesuatu yang tabu dibicarakan antara orang tua dan anak. Terutama, pada usia anak-anak awal. Berbagai hasil penelitian menyatakan orang tua beranggapan bahwa pendidikan seks belum pantas diberikan pada anak kecil. Padahal, pendidikan seks dalam keluarga merupakan salah satu alternatif dalam membekali anak-anak informasi tentang seks, kesehatan, dan masalah-masalah reproduksi secara benar.

Pembicaraan mengenai seks juga kerap dianggap sepele lantaran orang tua beranggapan bahwa anak akan mendapatkannya dari sekolah. Selain itu, orang tua kerap menafsirkan anak akan mengetahui dengan sendirinya tentang seks. Logisnya, apakah mungkin anak akan mengetahui dengan sendirinya, padahal tak pernah diberikan pengetahuan? Anggapan inilah yang membuat orang tua tak banyak memainkan peran bagi penanaman pendidikan seks pada anak. 

Pertanyaan yang seringkali juga jadi kekhawatiran orang tua bahkan sebelum memberikan pendidikan seks, bukankah dengan membekali anak dengan pendidikan seks, anak lalu akan aktif secara seksual? Ataukah sebaliknya? Hasil penelitian membuktikan sebaliknya. Anak dengan wawasan yang kuat justru akan semakin memahami bahaya yang akan terjadi sekiranya ia menjadi bagian dari aktivitas seksual, baik sebagai pelaku, terutama sebagai korban. 

Seringkali, pendidikan seks dipandang sebagai sesuatu yang hanya cocok untuk orang dewasa. Pembicaraannya pun tak jauh-jauh dari urusan seks orang dewasa. Padahal, makna pendidikan seks tak sesempit itu. 

Pendidikan seks pada anak bisa dimulai dengan hal-hal kecil yang ada di sekeliling anak. Salah satu yang paling mudah adalah berbicara mengenai anggota tubuh anak, mencakup nama, fungsi, dan siapa saja yang berhak atas anggota tubuh itu. Hal-hal terkait cara bergaul dengan teman sebaya, terlebih teman lawan jenis, juga menjadi hal penting untuk didiskusikan dengan anak. 

Hal-hal semacam ini tak harus menunggu anak dewasa untuk mulai ditanamkan. Segera ketika perkembangan sosial anak mulai berjalan, saat itulah orang tua harus sudah mulai mengenalkan siapa saja orang-orang yang masuk dalam kategori aman dan tidak untuk bergaul.

Selain itu, pengawasan orang tua pada anak selayaknya meliputi pengetahuan dengan siapa anak bergaul dan aktivitas yang kerap dikerjakan anak, baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun di tempat lain. Yang terpenting dari semuanya adalah kesadaran akan tanggung jawab terhadap perkembangan dan pergaulan anak.

Sebagai orang tua, selayaknya menyadari pentingnya pengawasan dan pendidikan moral dan seks untuk anak. Hal ini juga diimbangi dengan jalinan komunikasi yang baik serta penyesuaian dengan pendidikan  yang didapatkan anak di sekolah.

Selaras dengan itu, sekolah juga sebaiknya menjadi wadah yang tepat untuk menanamkan sikap pergaulan positif antar murid, guru, dan lingkungan sekitar. Sebagai penyeimbang keduanya, peran pemerintah berkaitan dengan kebijakan dan penyediaan ruang bermain yang aman untuk anak menjadi hal yang tak dapat dipisahkan.