Di Kota Gorontalo, di kampus berjuluk Merah Maron. Universitas Negeri Gorontalo. Ada Bus yang sudah terpajang sejak lama di salah satu "pinggiran" fakultas, tepatnya di fakultas Ekonomi. Boleh jadi beberapa tahun atau dekade. Di sana, menunggu waktu (dengan hujan dan panas) untuk mengujinya.

Beberapa ton besi ditempa menjadi sebuah kendaraan dengan berbagai variasi. Dan salah satunya adalah Bus, dalam istilah metropolitan, sering disebut Bus Kota karena beroperasi di wilayah perkotaan dan ditujukan untuk memimalisir kemacetan.

Bus Kota, sama dengan oplet tua -- yang populer dalam salah satu penggalan lirik lagu Iwan fals --  sebuah lagu yang merepresentasikan kemajuan zaman dan mulai meninggalkan hal ikhwal yang lama atau kolot. Termasuk, oplet dan juga Bus.

Meninggalkan, berarti segera memperbaharuinya dengan yang lain atau baru. Bus, tinggal hanya barang rongsokan. Sekilas mata-mata yang menatap tak lebih melihat Bus itu seperti benda mati dan tidak memiliki fungsi sama sekali.

Namun, beberapa orang memiliki pandangan yang berbeda, yang entah karena memiliki catatan historisnya atau, karena melihat dengan sedikit lebih dalam, seperti para seniman -- dengan imajinasi yang ekspansif dan pengalaman yang reflektif bersama alam dan juga realita.

Mengubahnya menjadi karya, dengan sedikit pose dan gimik, disulap jadi sesuatu yang memiliki nilai estetik. Sebuah gerak yang "dipigurakan", menjadi catatan autobiografi atau bahkan album dan sekaligus memberikan "makna" lebih: rasa puas, gairah dan kegirangan eksistensialis pada seseorang.

Makna lebih, yang secara empiris mengartikulasikan manusia dalam realita serta apa-apa yang ia lakukan. Dan pada satu "titik" tertentu -- diinterpretasikan sebagai "pencarian makna hidup."

Socrates (470-399 SM). Bisa jadi adalah pelajaran paling utama dan penting dalam pencarian makna hidup sejauh ini. Kisah populer dari Athena (Yunani). Sang filsuf mati dalam secangkir Hemlock (tanaman beracun), asbab  Socrates dianggap memprovokasi anak muda untuk melawan segala otoritas Tiran dan bahkan dituduh menciptakan dewa-dewa baru. Padahal ia hanya mencoba mencapai rasionalitas.

Lalu apakah yang hendak ingin disampaikan Socrates. Apakah ia ingin pamer untuk mati sebagai pemberontak dan menunjukkan eksistensinya sebagai manusia paling sublim? Ataukah baginya hidup hanyalah persoalan bagaimana manusia (menuju) mati dan memilih jalan kematian searif mungkin.

Mengikuti pemikiran para filsuf memang bukanlah persoalan mudah. Mereka telah menghilang lebih dari 2.000 tahun, hanya meninggalkan beberapa kisah yang dibacakan kembali oleh para pewarta dan sedikitnya literatur yang perlu banyak dilakukan verifikasi untuk mendapatkan data-data yang otentik.

Namun terlepas dari itu. Secara tidak langsung ajaran para filsuf, yang masih terus dibicarakan dan ditelaah sampai hari ini. Di era yang jauh berbeda, era yang secara definitif disebut modern: canggih nan mutakhir. Ikut serta "membalikkan" pikiran orang-orang yang "sebagiannya" merasa telah dikendalikan oleh otoritas di luar dirinya dan kehendak individual yang seakan dicabut, hingga makna hidup yang direduksi. Lebih tepatnya, manusia modern yang mulai merasakan krisis "identitas".

Mereka atau siapapun yang mencoba memasuki Bus. Sama dengan mereka yang melihat sifat modernitas yang cair, namun penuh dengan "keretakan", "kekacauan" dan yang utamanya adalah "absurditas". Absurditas seperti yang banyak kali dikhotbatkan oleh Albert Camus.

Albert Camus adalah adalah seorang pemikir-filsuf asal Aljazair-Prancis (1913-1960). Ia pernah meraih Nobel Sastra dan juga seorang eksistensialis yang lebih muda dari Kierkengaard dan Sartre. Melewati dua pendahulunya, Camus yang bagi saya adalah konsep yang "segar" sekalipun bukan "baru", seperti Harari yang membahas beberapa rangkaian algoritma dalam bentuk gawai yang bisa menjadi "agama baru".

Absurditas yang coba ditampilkan Camus adalah bagaimana manusia dalam memahami dunia yang, baginya, begitu sulit dipahami: manusia menginginkan kebenaran yang universal, sementara dunia hanya menunjukan kebenaran yang penggal atau beberapa bagian, manusia mencari kejernihan sementara dunia hanyalah misteri.

Pendeknya, apa yang ingin disampaikan Camus, adalah bahwa manusia terus mencari keseluruhan informasi dari dunia atau sebuah konsep yang ideal. Maka lahirlah "absurditas" atau dengan kata lain, karena ketidakmampuan manusia memahami dunia.

Lebih dalam lagi, bagi Camus, konsep tentang absurditas akan "memuncak" atau ketika seseorang tiba pada kesadaran absurditas mengenai mekanisme atau laku hidup manusia dengan siklus yang stagnan alias itu-itu saja. Seperti bagaimana manusia lahir, makan, bekerja sesuai konvensi yang berlaku, istirahat. Bangun lagi dari tempat tidurnya, makan dan kemudian bekerja lagi.

Sehingga dari itulah, alegori hidup yang penuh absurditas dalam pencarian maknawi, adalah alegori tentang Sisifus yang cukup populer sekitar satu abad lalu, yang diangkat kembali oleh Camus dari mitologi Yunani Kuno.

Seperti bagaimana Sisifus yang dikutuk para dewa untuk menahan atau mendorong "batu besar" sampai ke puncak tertinggi, yang jika ia (Sisifus) berhenti mendorong. Maka batu besar itu akan menggelindinginya. Sisifus tak bisa maju ataupun mundur, selain merangkak dengan susah payah. Ia, harus tetap terdiam atau tepatnya terjebak "di tengah".

Menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Tetapi Sisifus telah melakukannya selama ribuan tahun. Ia, dikutuk! Nasibnya adalah menahan sebuah batu besar. Tepatnya Sisifus adalah bentuk paradoksal dari manusia modern hari ini yang, menganggap bahwa setiap kemajuan merupakan bagian dari pencapaiannya, namun justru balik membelenggunya. Dan semua itu, bagi Camus, adalah sebuah pencarian makna hidup yang sia-sia dan memuakkan.

Demikian. Dari alegori Sisifus, akhirnya beberapa kesimpulan tiba secara "paksa" untuk membayangkan Sisifus (atau manusia modern masa kini), bahwa betapa "bahagianya" kita. Sekalipun kita tahu, bahwa kita terus ditindih dan merupakan sisi lain dari Sisifus yang malang.

Dan barangkali, absurditas hidup adalah apa yang kerap "disembunyikan" dari sisi emosional manusia modern hari ini, dalam upaya pencarian makna yang deterministik.


Tabik

Khadafi Moehamad


Referensi: Filsafat Eksistensialis: Kierkengaard, Sartre, Camus. (Penerjemah; Taufiqurrohman)


Potret-Model: Rahmad Tangguda