Di pinggir jalan raya yang disesaki kendaraan, suara bising mesin yang memekakkan telinga, lengkap dengan polusi udara yang makin memperburuk pernafasan, puluhan orang, yang terdiri dari keluarga maupun perseorangan, nekat mendirikan tenda. Tenda itu berdiri di sepanjang trotoar di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Tampak dari foto yang beredar di media pemberitaan, mereka menjalani hidup secara memprihatinkan. Terlihat dari mereka yang sedang ngobrol dengan sesamanya, ada juga yang sedang duduk sambil menggendong anaknya sembari membuang pandangan ke arah jalan raya yang disesaki kendaraan bermotor berlalu-lalang. 

Meski begitu, sejatinya mereka sungguh ingin hidup layaknya orang yang punya rumah, punya pekerjaan, bisa menyekolahkan anaknya, dan, tentunya, punya tanah air yang damai dan sejahtera.

Mereka bukan pengemis, bukan pula gelandangan yang tak punya rumah, yang hidupnya nomaden, namun mereka adalah orang-orang yang ‘kabur’ dari negaranya demi keselamatan nyawa dan masa depan dan keluarganya. Iya, mereka adalah orang-orang ‘pencari suaka’ dari negara konflik yang datang dari benua Asia maupun Afrika, yang kini hidupnya di ambang ketidakjelasan.

Mereka datang dari berbagai negara, seperti Afganistan, Sudan, Somalia, dan dari negara konflik lainnya. 

Tenda-tenda yang mereka dirikan di sepanjang trotoar itu bukan tanpa alasan. Mereka sengaja mendirikan tenda di sana, karena tempat itu dekat dengan kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (United Nations Higt Commissioner for Refeques; UNHCR). Dengan begitu, akan mudah bagi mereka menyuarakan haknya yang sampai saat ini masih menggantung. 

Seperti yang saya kutip dari detik.com, sebelumnya mereka tinggal di Kalideres, lalu mereka pindah ke Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, dalam rangka hendak meminta bantuan dari pihak UNHCR

“Kami tinggal di sini (trotoar Jalan Kebon Sirih). Sebelumnya kami tinggal di Kalideres, dan kami pindah ke sini. Kita tinggal di sana (Kalideres) 15 bulan. Kita pindah ke UNHCR meminta UNHCR berharap mereka mengakomodasi makanan, rumah, dan air. Itulah mengapa kita tinggal di sini,” ujar seorang pencari suaka asal Afganistan, Ali (23).

Pertanyaannya, lalu apa relasi para pencari suaka itu dengan kita, orang-orang Indonesia? Tentu ada.

Mari benahi posisi dudukmu atau posisi tidurmu. Hadirkan hati dan perasaanmu untuk sejenak membaca kata demi kata tulisan berikut ini. 

Setidaknya, saya sendiri melihat mereka (para pencari suaka) yang kini hidup dengan ketidakpastian, yang tak punya uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari, sebagai manusia yang terzalimi. Bagaimana tidak, mereka adalah orang-orang yang tak bersalah di negaranya, lalu mereka ‘terpaksa’ meninggalkan segala yang mereka punya hanya karena demi menyelamatkan nyawa dan keluarga yang masih tersisa dari konflik yang membara di negaranya.

Dan kini, mereka hidup di negara orang, berharap hidupnya makin layak dan bisa hidup damai sebagaimana yang pernah meraka cicipi dulu. Namun, lagi-lagi, sampai saat ini, mereka masih hidup terlunta-lunta tanpa pekerjaan, tanpa sekolah, tanpa saudara yang lengkap. 

Barangkali sebagian keluarganya ada yang terbunuh tanpa dosa akibat perang saudara yang terjadi di negaranya. Mungkin, selama ini, mereka hanya mengandalkan orang-orang baik, yang punya rasa iba untuk membantunya, minimal memberi sesuap nasi, agar mereka punya kesempatan hidup lebih lama lagi.

Dari mereka, setidaknya, menuntut kita untuk bersyukur betapa Tuhan telah memberikan tempat yang nyaman untuk kita tinggali selama ini. Rumah itu bernama Indonesia. Betapa Tuhan telah menjadikan kita sebagai—kalau tidak berlebihan—penghuni surga di dunia ini. 

Bagaimana tidak, meski terjadi beberapa konflik, alhamdulillah, konflik yang terjadi di negeri ini tak sampai pada batas pertumpahan darah, meluluhlantakkan tempat tinggal, melenyapkan harta benda, apalagi nyawa kita, sebagaimana yang terjadi di Afganistan, Suriah, Irak, dan negara konflik lainnya yang tak lagi bisa dibendung.

Artinya, sejauh ini, kita masih bisa hidup aman, tenteram, dan damai. Tentu saja kita juga masih bisa tertawa, bisa duduk bareng bersama keluarga, kerabat, sahabat, dan orang-orang terkasih lainnya di tempat yang kita idamankan, bukan? 

Karenanya, cukup bagi kita menjadikan para pencari suaka itu sebagai pelajaran dan bahan kontemplasi; bahwa hidup di negeri sendiri dengan segenap kedamaian dan kesejahteraannya adalah nikmat tiada banding.

Akhir kata, untuk menciptakan kedamaian di negeri tercinta ini, kita harus tetap bergandengan tangan, sekalipun kita hidup di tengah rimbanya perbedaan; mencegah sekecil apa pun konflik yang bakal terjadi. 

Hindari permusuhan atas alasan apa pun. Kita sama-sama orang Indonesia. Kita adalah keluarga besar Indonesia. Layaknya keluarga, maka kita mesti menjaga rumah kita dari orang-orang yang hendak meluluhlantakkan negeri ini, demi Indonesia yang—kata orang Jawa—gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo.