Penutupan beberapa outlet bar dan kafe Holywings di berbagai area telah menjadi asupan berita hangat publik selama seminggu terakhir. Awalnya, ini adalah konsekuensi dari mempromosikan minuman beralkohol gratis untuk mereka yang bernama "Muhammad" dan "Maria". 

Propaganda di platform medsos itu langsung dibanjiri kecaman masyarakat dan diselidiki pihak berwenang. Polres Metro Jakarta Selatan kemudian menetapkan enam orang sebagai tersangka.

Keenam orang itu yakni SDR (27) selaku direktur kreatif Holywings, NDP (36) selaku ketua tim promosi, DAD (27) editor desain promo, EA (22) admin akun media sosial, AAB (25) selaku petugas media sosial, dan AAM (25) selaku admin dari tim promosi. 

Para tersangka tersebut akan dikenakan Pasal 14 Ayat 1 dan Ayat 2 UU RI No 1 Tahun 1946 atau Pasal 156 atau Pasal 156 a KUHP atau Pasal 28 Ayat 2 UU Nomor 19 tahun 2016 tentang ITE dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun penjara.

Di wilayah DKI Jakarta, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria kemudian menegaskan bahwa Holywings tidak bisa dibuka kembali setelah izin operasionalnya dicabut. 

Dia mengatakan itu untuk menegaskan opini bahwa di kemudian hari Holywings bisa beroperasi lagi. Jadi jelas atas dasar itu Holywings Cafe dicabut (lisensinya) dan Holywings Cafeti dak akan bisa beroperasi lagi, kata Riza di Balai kota DKI Jakarta, Kamis(30/10).

Wakil Gubernur DKI Jakarta menjelaskan, izin usaha Holywings dicabut karena melanggar aturan. Ada banyak lisensi yang tidak dimiliki oleh Holywings. Salah satu pelanggarannya adalah beberapa gerai Holywings di Jakarta belum memperoleh Sertifikat Standar Validasi Tipe KBLI 56391 untuk bisnis bar. 

KBLI 56391 adalah klasifikasi penting yang harus dimiliki oleh pengusaha bar yang menjual minuman beralkohol, non-alkohol dan makanan ringan di tempat mereka.

Berdasarkan pengecekan Pemprov DKI Jakarta, Holywings Group hanya memiliki Sertifikat Pengecer (SKP) Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia  KBLI i47221. Pemegang lisensi ini hanya digunakan untuk pengusaha yang menjual minuman ber-alkohol secara eceran. 

Sertifikat juga tidak memperbolehkan pemilik bisnis untuk mengizinkan konsumen meminum alkoholnya di tempat. “Kami menemukan pelanggaran tidak dipenuhinya perijinan, miras yang dijual di lokasi, tapi izinnya belum didapat, (lisensi) yg ada hanya untuk dibawa pulang, dan itu masalahnya,”kata Riza.

Secara total, 12 cabang Holywings telah dicabut lisensinya. Cabang-cabang tersebut berlokasi di Tanjung Duren Utara, Kalideres, Kelapa Gading Barat, Pantai Indah Kapuk (PIK), Senayan, Epicentrum, MegaKuningan, Gunawarman dan Gatot Subroto Pada 28 juni, sebagai tindak lanjut pencabutan izin operasionalnya.

Sebelumnya, Riza sempat mengatakan owner Holywings tetap bisa membuka usaha lain, asalkan dengan nama yang berbeda. Pemilik tak lagi diperbolehkan menggunakan nama usaha Holywings dikarenakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mencabut izinnya. 

Riza kemudian menegaskan bahwa setiap orang tetap memiliki hak untuk memulai usaha, meskipun sebelumnya ia tercatat melakukan pelanggaran.

“Bukan berarti hak usaha Anda dicabut. melainkan, hanya izin usaha yang ini (Holywings) saja yang dicabut dan dianggap pelanggaran, tapi orangnya tetap punya hak,” kata Riza, pada 27 Juni.

Sementara itu, di Bandung, dua cabang Holywings secara sukarela menutup operasionalnya secara permanen. Penutupan bisnis Holywings dilakukan secara sukarela (atas inisiatif sendiri).

Selanjutnya, Pemkab Tangerang juga menutup dan memblokir operasional tiga cabang Holywings di kawasan tersebut. Penutupan juga dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman di Yogyakarta yang menutup gerai Holywings menyusul adanya promosi minuman.

Dalam pertemuan dengan Komite B DPRD DKI, pihak manajer Holywings mengaku tertipu dengan penampilan promosi. Bahkan, manajemen mengaku tidak pernah tahu soal keluarnya promosi tersebut. 

"Manajemen Holywings tidak pernah mengetahui sebelumnya, sehingga dalam hal ini mereka merasa tertipu dengan tindakan tim promosi media sosial yang sengaja menggunakan nama tersebut," kata General Manager Operasional Holywings Yuli Setiawan, Rabu (29/6).

Yuli mengatakan manajemen menerima laporan dari layanan pelanggan tentang masalah ini. Setelah itu, manajemen dengan cekatan meminta agar konten yang diunggah tersebut di hapus (takedown). 

Promo minuman gratis ini sebenarnya sudah berjalan selama tiga bulan, seminggu sekali, kata Yuli. Namun, baru kali ini promosi tersebut menimbulkan kegemparan di masyarakat.

Ia juga menyebutkan nama-nama yang digunakan untuk materi promosi antara lain: Andreas & Amanda, Roni & Ririn, Eka & Elisabeth, Leo & Lisa, Kevin dan Kartika, Tomi & Talia, Daniel & Dewi, Firman & Feni dan William & Widya. 

promosi hanya berlaku dilokasi Holywings tertentu. Di Jakarta, promosi ini hanya berlaku di cabang Holywings Pondok Indah dan Tanjung Duren. Yuli juga mengatakan pihaknya telah memecat enam karyawan yang mempromosikan minuman beralkohol untuk pemilik nama "Muhammad" dan "Maria".

Dari kasus di atas, Warga wajib mematuhi hukum demi menciptakan keamanan di masyarakat, dan menjaga norma bermasyarakat. Kemudian, meskipun perizinan Holywings dicabut, pengusaha masih memiliki haknya untuk membuka usaha lain membuktikan hukum Indonesia fleksibel, adil dan tidak merugikan satu pihak.