Nafsu

Rasa yang telah sampai di pucuk cemara
Setan bertahta melantunkan kemerdekaan
Sorak sorai ayam Subuh nyaris pingsan
Tipu daya mawar menjadi kepastian tanpa tawar

Hidup adalah peperangan melawan nasib buruk
Menutup telinga dari bisikan-bisikan istana yang fana
Kumbang-kumbang jatuh di pelupuk mata, menghisap manis duka cita

Rembulan lapar menyulut caci maki
Sinarnya pecah menelan malam
Kepuasan menjadi tanda tanya, menyisakan sesal yang semakin mengental 

Anak kecil menangis, air matanya jatuh di pangkuan gerimis
Sepi yang membumbung tinggi ke cakrawala
Wujud keabadian masih menjadi perdebatan
Kadang rasa menjadi tipu daya, jangan patuh kepadanya.

Anak Payung 

Orang-orang lapar menyanyikan lagu cinta di sepanjang trotoar
Menantang rumah-rumah kokoh tak berpenghuni
Sudah lama pemilik pergi atau mungkin bersembunyi
Tak peduli, mereka terus menari

Angin selokan menerbangkan keluh kesah
Aspal pecah mendengar deru mesin ibukota
Adalah doa yang menembus ruang-ruang sepi
Tanpa hujan, mereka terus memegang erat payung hitam

"Itu hanya sia-sia," Gedung-gedung pencakar langit memberi kepastian

Kakek tua lampu merah menyelipkan kamboja di sela-sela jemarinya
Kata-kata sudah lama mati, diam menjadi pilihan menantang sepi. 

Penantian Zulaikha

Air mata Zulaikha sepanjang sungai Nil
Mengalir mengabarkan cinta yang suci
Burung-burung dara saling berbisik, adakah penantian yang sia-sia? 

Aku termangu menyaksikan ribuan kunang-kunang terbang menjemput malam di atas Mesir
Mungkinkah duka hanya bertahan laksana kedipan mata?

Tampaknya kehidupan telah menyiapkan sejuta jawaban, meski hanya satu pertanyaan. 

Rumah Nelayan

Di pinggir pantai yang penuh ludah orang-orang bule
Laki-laki paruh baya bersandar menunggu badai reda
Seminggu sudah perutnya kosong, kaos partai lusuh menutupi aibnya. 

Anak istrinya menunggu di dapur tanpa beras
Tokek-tokek tua demonstrasi di atas kepalanya yang penuh kutu
Di luar rumah, wanita rambut pirang tengah asik senam aerobik.

Menjelang Maghrib, nelayan paruh baya pulang menemui istrinya
Mereka berdendang menyanyikan lagu-lagu asmara
Anaknya menari mengikuti irama matahari yang jatuh di ranting mengkudu
Bule-bule tertawa menyaksikan pertunjukkan malam itu.

Sejauh harapan yang menembus langit
Sedalam penyesalan yang terjun bebas menuju doa-doa sunyi
Aku melihat jutaan nelayan terusir dari kampung halamannya sendiri, sepi. 

Cinta dan Ampas Comberan di Mulutnya

Aku berdoa perayaan ini segera berakhir
Si mulut besar berkeliaran mencuci mulut di comberan
Rela berjalan sejauh ujung matanya, mengabarkan duka lara

"Ah, betapa bahagianya menyaksikan tetangga yang sedang kelaparan!"

Daun-daun berhamburan mengetuk pintu rumah para pembual
Pasang telinga sebelum terlambat
Jangan lupa minum air mata tetangga tiga kali sehari

"Cinta yang membuatnya tidak bisa tidur, hampir tiga bulan tanpa pembalut?"

Debu-debu membumbung tinggi menari di cakrawala
Para lansia berdansa sambil mengutuk anaknya: manusia hanya tinggal daging, tulang, dan sedikit ampas comberan di mulutnya (?) 

"Diam kau! Rambutmu sudah putih, bukankah tinggal menghitung hari?"

Lampu-lampu jalan menerangi wajahnya yang muram
Membawa sepotong roti dan jutaan kilogram rasa benci di sakunya

"Sebelum mati, adakah yang digenggam manusia selain cinta dan kebencian?"

Tujuh panah menusuk buah strawberry di kebon belakang
Racun itu merampas nutrisi dan rasa cinta di saku celananya

"Begitulah, Bu. Sudahi rasa cemas itu.
Bukankah ada kalanya seseorang harus menggali kuburannya sendiri?"

Kamar Malam

Dinding-dinding kamar mulai menua
Cahaya lampu juga semakin rapuh
Ruang ini tanpa kata, tak sanggup menerjemahkan api rindu yang sejak pagi menunggu

Seperti sajak rembulan yang hanya tersisa kepingan kata
Begitu juga penantian, tak bisa dibeli seperti lukisan yang menghias pameran
Sebab, rasa adalah kemungkinan sunyi yang tidur dengan tenang dan telak

Zulaikha, tidak kah kau melihat bocah-bocah menari sendu di bawah cakrawala yang basah?

Mereka telanjang dada melipat langit yang kian pucat dan menghitam
Doa-doa di ruang kamar diam-diam menyelinap, lalu melayang tinggi ke udara

Lihatlah! Catatan-catatan di atas daun berhamburan, ambil satu dan selipkan ke saku bajumu. 

Tanam

Pinjam korek kayu sebentar saja, selilit daging anjing masih tersisa di ujung gigiku
Buku-buku berceceran di ruang gelap itu, hanguskan saja

Bunga yang kau petik sore itu, toh akan menjadi abu
Bukankah keabadian tidak tercatat dalam dongeng-dongeng atau sejarah di lipatan matamu? 

Kita tahu, bertahan hanyalah cara api menyembunyikan kuasanya
Seperti senyummu, akan runtuh jua saat cinta bertemu

Hutan di sepanjang Sumatera dan Kalimantan, telah lama menjadi jawaban
Dan kita hanya menunggu, berapa banyak lagi orang utan turun ke jalan mencari makan?

Tangan-tangan berlapis arloji ratusan juta, terselip api kecil yang tak sanggup kau raba
Sekolah rendahan kita, terlampau susah menjangkaunya, tanam pohon-pohon saja di belakang rumah

Bukankah hanya dengan menanam, kita bisa mengepalkan tangan kiri di ujung hidungnya?