Remaja perempuan akan mengalami menstruasi ketika sistem reproduksi dan berbagai komponen hormon yang berada di tubuh telah prima. Proverawati (2009) menyatakan, haid merupakan perdarahan di uterus terjadi secara berangsur dan teratur dan dapat disertai dengan adanya proses pelepasan pada endometrium.

Menstruasi yang terjadi bersamaan dengan fase ovulasi sebagian besar terjadi sekitar usia 17 hingga 18 tahun. Manuaba (2009) mengungkapkan bahwa menstruasi yang terjadi dikatakan normal pada rentang antara 26 hingga 32 hari. 

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa menstruasi adalah keluarnya darah di uterus yang lazim dialami oleh perempuan setiap bulan dan dibarengi proses peluruhan pada dinding rahim.

Pada saat menstruasi, masalah yang dialami banyak perempuan adalah rasa tidak nyaman atau rasa nyeri hebat. Hal ini biasa disebut dengan dismenore (dysmenorrhoea).

Gejala yang dialami adalah nyeri pada panggul atau perut bagian bawah, biasanya berlangsung selama 8 hingga 72 jam yang menjalar ke punggung dan sepanjang paha, serta terjadi sebelum dan selama menstruasi. Selain itu, tidak disertai denganpeningkatan jumlah darah haid dan puncak rasa nyeri sering kali terjadi padasaat perdarahan masih sedikit.

Dismenore sendiri dibagi menjadi dua macam, yaitu primer dan sekunder. Dismenore primer adalah nyeri pada perut bagian bawah saat menstruasi tanpa disertai adanya kelainan atau penyakit pada panggul. Sedangkan Dismenore sekunder adalah nyeri pada perut bagian bawah saat menstruasi disertai adanya kelainan atau penyakit pada panggul.

Penulisan artikel ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi para perempuan dan orang-orang yang membutuhkan pengetahuan baru tentang dismenore, sehingga melalui informasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai upaya untuk mencegah atau mengurangi rasa nyeri saat menstruasi.

Cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dismenore yang pertama adalah senam. Olahraga dan aktivitas fisik dapat menghasilkan hormon endorphin. Hormon ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami yang diproduksi otak yang memunculkan rasa nyaman serta mengurangi rasa nyeri pada saat kontraksi.

Perempuan dengan dismenore akan  mengalami kram otot terutama pada abdomen bawah karena kontraksi yang kuat dan lama pada dinding uterus sehingga terjadi kelelahan otot maka diperlukan olahraga untuk menghilangkan kram otot tersebut.

Kedua, adalah meminum air putih. Terapi minum air dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan, termasuk dismenore.

Terapi minum air bertujuan untuk menjaga kesehatan tubuh, menjaga tingkat kecairan aliran darah agar lebih mudah mengalir, melarutkan dan membawa nutrisi, oksigen, dan hormon ke seluruh tubuh, melarutkan dan mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme dari dalam tubuh dan juga elektrolit yang berlebihan.

Selanjutnya adalah bunga Rosella. Pemanfaatan kelopak bunga Rosella sudah dikenal dan diteliti baik oleh pakar kesehatan modern maupun pakar kesehatan tradisional di berbagai negara di dunia karena mengandung zat-zat penting yang diperlukan oleh tubuh, seperti vitamin C, vitamin A, protein esensial, kalsium, dan 18 jenis asam amino. Hal ini menunjukkan bahwa rosella juga bermanfaat terhadap penurunan nyeri dismenore.

Mengonsumsi susu sapi merupakan cara lain yang dapat dilakukan untuk menurunkan instensitas nyeri saat dismenore karena kandungan yang ada pada di dalamnya, termasuk kalsium. Karena kalsium mampu mengatur kemampuan sel otot dalam menerima rangsangan saraf.

Sumber kalsium utama adalah dari susu dan hasil susu, seperti keju. Susu sapi merupakan sumber zat gizi yang kompleks yang terdiri dari protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral lainnya.

Gizi sangat erat kaitannya dengan kesehatan saat menstruasi karena zat gizi memengaruhi proses yang terdapat di dalam tubuh saat terjadi menstruasi, seperti aliran darah, hormon, daya tahan tubuh, dan juga emosi.

Cara selanjutnya untuk mengurangi rasa nyeri dismenore adalah menggunakan kompres hangat. Panas dapat melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah lokal.

Karena meningkatnya aliran darah, panas meredakan nyeri dengan menyingkirkan hal yang mengakibatkan inflamasi, seperti bradikidin, histamin, dan prostaglandin yang menimbulkan nyeri lokal. Suhu panas dapat mengurangi ketengangan otot. Setelah otot rileks, rasa nyeri akan berangsur hilang.

Masase effleurage juga dapat mengurangi rasa nyeri. Effleurage adalah bentuk masase dengan menggunakan telapak tangan yang memberi tekanan lembut ke atas permukaan tubuh dengan arah gerakan melingkar secara berulang. 

Penggunaan minyak aroma terapi juga dianjurkan saat melalukan masase effleurage karena aromaterapi memicu sistem limbik yang berperan dalam mengurangi nyeri dan minyak juga dapat melancarkan sirkulasi darah serta mengurangi kontraksi yang menyebabkan nyeri.

Terakhir adalah terapi akupresur titik Sanyinjiao. Terapi akupresur titik Sanyinjiao yaitu salah satu akupoin atau titik pertemuan limpa, hati dan saluran ginjal yang terletak di limpa meridian, yaitu empat jari di atas dalam pergelangan kaki belakang tepi posterior tibia. Terapi akupresur dapat meningkatkan hormon endorphin pada otak yang secara alami dapat membantu menawarkan rasa nyeri.

Jadi, dismenore adalah rasa nyeri yang timbul pada saat menstruasi. Beberapa cara untuk mengurangi rasa nyeri dismenore dengan melakukan senam atau berolahraga, minum air putih, mengonsumsi olahan bunga rosella, meminum susu atau sumber kalsium lainnya, kompres hangat pada perut, masase effleurage dengan menggunakan minyak aromaterapi, dan terapi akupresur sanyinjiao.



Daftar Pustaka :

Hikma, N. (2018). Pengaruh Pemberian Masase Effleurage Menggunakan Minyak Aromaterapi Mawar Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Dismenore Pada Remaja Putri Smk Negeri 2 Malang Jurusan Keperawatan (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya).

Marlinda, R., & Purwaningsih, P. (2013). Pengaruh senam dismenore terhadap penurunan dismenore pada remaja putri di Desa Sidoharjo Kecamatan Pati. Jurnal keperawatan maternitas, 1(2).

Muflih, M. (2018). Upaya Pengurangan Nyeri Dismenore Pada Remaja Dengan Pemanfaatan Olahan Tanaman Herbal Rosella. Jurnal Pengabdian Dharma Bakti, 1(1).

Priscilla, V., & Ningrum, D. C. R. (2012). Perbedaan pengaruh teknik relaksasi nafas dalam dan kompres hangat dalam menurunkan dismenore pada remaja SMA Negeri 3 Padang. NERS Jurnal Keperawatan, 8(2), 187-195.

Rustam, E. (2015). Gambaran pengetahuan remaja puteri terhadap nyeri haid (dismenore) dan cara penanggulangannya. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(1).