Mahasiswa
1 bulan lalu · 44 view · 5 min baca menit baca · Lingkungan 90108_64965.jpg
Thegorbalsla.com

Penampung Ilmu Pengetahuan dan Eksistensi yang Mulai Dibatasi

Kertas bisa dikatakan merupakan benda kuno yang sampai sekarang belum dimasukan ke museum. Sejak diperkenalkan Tsai Lun kepada kaisar dinasti Han, kertas menjelma menjadi alat penampung ilmu pengetahuan, syair-syair, ideologi bahkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala  pun di tulis di atas kertas.

Sampai sekarang kertas masih menjadi salah satu perangkat ilmu pengetahuan yang  terus digunakan.

Namun perjalanan kertas sebagai media ilmu pengetahuan dan informasi perlahan lahan mulai ditinggalkan sejak dunia memasuki era digital. Koran, majalah, dan perpustakaan sudah mulai ditinggalkan generasi milenial karena internet mampu mengakses apapun hanya dalam sekali klik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi informasi memang sangat memberikan kemudahan untuk manusia. Berbagai macam fitur canggih hadir memberikan kemudahan dalam kehidupan sehari hari. 

Contoh, kita tidak lagi menggunakan peta dan kompas setelah google maps hadir melengkapi fungsi smartphone kita. Walaupun belum sepenuhnya, tapi jelas sangat bermanfaat dalam menjalankan aktifitas kita.

Internet mampu menyajikan banyak hal menarik yang membuat para generasi milenial lebih memilih menghabiskan waktu menonton youtubers kesayangan mereka ketimbang membaca buku atau mendengarkan audiobook. Dari sinilah akhirnya terjadi penurunan minat  baca oleh generasi kita yang sekarang. Ditambah lagi dengan minat baca orang Indonesia yang sangat rendah.

Menurut Programme For International Student Assessment (PISA) minat baca orang Indonesia berada pada posisi 64 dari 74 negara. Berdasarkan data ini pentingnya menjaga literasi di Indonesia harus lebih disuarakan. Karena saya yakin sebagai seorang penikmat literasi anda pasti merasa resah menjadi warga negara yang rakyatnya malas baca.

Dari sinilah kertas punya peranan penting sebagai alat dalam menjaga literasi. Berbagai macam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi-organisasi pegiat literasi secara aktif terus melakukan kegiatan membangun dan meningkatkan kemampuan literasi anak bangsa dengan mengajak anak muda untuk lebih sering menjadikan perpustakaan sebagai tempat belajar.


Mereka yakin jika kertas, dalam hal ini buku lebih mampu untuk mencerdaskan bangsa ketimbang bacaan yang kita dapatkan di internet. Artinya perpustakaan jauh lebih berpotensi mencerdaskan anak muda ketimbang sebuah website.

Kenapa? Karena ketika mengunjungi perpustakaan, anda tidak akan ditawarkan oleh hal lain selain membaca. Berbeda ketika anda mengakses internet untuk membaca. Banyak tawaran menarik yang akan anda dapatkan ketika mengunjungi dunia maya. Hal ini jelas mempengaruhi niat membaca kita.

Sebenarnya, kertas merupakan benda multifungsi. Banyak industri kreatif dan para seniman menjadikan kertas sebagai media dalam menciptakan sebuah karya seni.

Coba kita bayangkan seorang pelukis tanpa kanvas, tentu imajinasinya akan tetap terkurung dikepalanya dan kita tidak mungkin lagi menikmati sebuah karya seni.

Karena rasanya akan berbeda ketika sebuah karya seni diubah kedalam bentuk virtual.

Atau jika anda adalah seorang penulis, mungkin anda tidak akan lagi menemukan buku anda tersusun rapi diatas rak-rak sebuah toko buku ketika tulisan anda mulai dialihkan ke toko digital dan diubah menjadi ebook dan audiobook. Pasti rasanya akan berbeda karena sebuah karya tulis akan lebih terlihat lebih elegan jika disajikan seperti itu.

Namun pentingnya menjaga ekosistem melahirkan berbagai macam isu dan wacana mengenai peralihan penggunaan kertas ke paperless society, menjadikan kertas sebagai salah satu kebutuhan yang dihasilkan dari praktek eksploitasi terhadap hutan.

Wacana mengurangi penggunaan kertas lama kelamaan akan mempengaruhi tingkat produksi kertas dan percaya atau tidak 10 sampai 20 tahun kemudian fungsi kertas akan benar-benar memudar.

Seperti yang kita ketahui, berbagai macam isu lingkungan menjadikan industri kertas di Indonesia menemui pro dan kontra. Isu paperless community dan kampanye untuk mengurangi penggunaan kertas dengan alasan penyebab kerusakan lingkungan hidup mulai ramai disuarakan aktivis lingkungan dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Permasalahan ini pun menjadi alasan kuat kenapa industri kertas di Indonesia harus mengurangi produksi kertas serta membatasi jumlah perusahaan yang bergerak di bidang ini.


Potensi industri kertas dalam mengakibatkan kerusakan lingkungan menjadikan isu paperless community semakin mendapatkan tanggapan serius dari masyarakat walaupun pemerintah belum juga mengambil tindakan serius selama ini.

Konon, satu rim kertas dihasilkan dari 1 batang pohon berusia 5 tahun. Jika dikaitkan dengan kebutuhan kertas nasional yang membutuhkan sekitar 5,9 juta ton/tahun, maka jelas hal ini menimbulkan ketidakseimbangan.

Aktifitas kantoran dan pendidikan sangat membutuhkan kertas dalam menjalankan rutinitasnya. Jika dilihat dari penggunaan kertas HVS yang berlebihan, hal ini sangat mempengaruhi meningkatnya jumlah produksi kertas.

Berdasarkan data dari Kemenperin jumlah produksi kertas naik 8,3% dari tahun sebelumnya. Ini kemudian membuat aksi-aksi kampanye terhadap pelestarian isu lingkungan hidup semakin disemarakkan.

Belakangan, perbincangan mengenai peralihan penggunaan kertas ke paperless society semakin banyak diperbincangkan. Dibuktikan dengan banyaknya perusahaan swasta yang sudah beralih surat digital.

Didukung dengan banyaknya layanan paper office dan surat digital yang bermunculan, Kertas mulai kehilangan fungsinya sebagai salah satu alat perkantoran disaat produksinya yang semakin meningkat setiap tahun.

Artinya, mengurangi produksi kertas sesuai kadar kebutuhannya harus dipertimbangkan oleh pihak perusahaan agar bisa mengurangi wacana isu lingkungan yang semakin memanas belakangan ini.

Keberadaan Hutan Tanaman Industri (HTI) sebenarnya bisa menjadi alasan industri kertas untuk bebas memproduksi kertas tanpa harus menemui berbagai pro dan kontra dari berbagai elemen masyarakat.

Namun, hanya saja tidak ada kerjasama yang baik antara pemerintah dan pihak perusahaan dalam mengatasi masalah lingkungan hidup.

Karena luasnya konsesi izin Hutan Tanaman Industri (HTI) tidak diimbangi dengan kinerja penanaman dan kepatuhan terhadap SVLK.


Pertanyaannya, siapa yang harus kita salahkan lebih dulu. Pemerintah ataukah pihak swasta?. Sebaiknya dalam mengatasi permasalahan lingkungan, salah satu indikator yang harus diutamakan adalah perilaku masyarakat kita sendiri.

Tak bisa dipungkiri memang bahwa proses produksi kertas berpotensi menimbulkan kerugian pada lingkungan hidup masyarakat, namun jika kita telaah dengan baik permasalahan yang terjadi sebenarnya, kita harus kembali bertanya kepada diri kita sendiri

Kampus misalnya, kalau kita perhatikan,  kebanyakan aktivis yang bergerak dengan slogan "go green" atau "save our earth" berasal dari organisasi-organisasi kampus. Namun tanpa kita sadari, mahasiswa adalah salah satu konsumen kertas terbesar.

Penggunaan kertas dalam jumlah besar tanpa kita sadari terus memancing produksi kertas agar terus meningkat, akibat dari permintaan akan kebutuhan kertas yang semakin tinggi.

Sebaiknya, mulai saat ini kita wajib memperbaiki pola konsumsi kertas, agar tidak terjadi terus menerus kebiasaan dan ketergantungan untuk selalu menggunakan kertas dalam jumlah besar. Hal ini tentunya akan memberikan tekanan secara terus menerus kepada bumi kita dan memberi dampak yang kurang menguntungkan bagi lingkungan hidup.

Namun bukan berarti kita menghilangkan eksistensi kertas, tetapi membatasinya dari segi penggunaan sebagai bentuk rasa kepedulian kita terhadap lingkungan hidup.

Artikel Terkait