Puji Syukur, tulisan kali ini tengah dibaca oleh sosok yang MUNGKIN mulai berpikir, bagaimana bisa penampilanku dikonsumsi sama publik? Eiitss.. sebelum lanjut, mari kita lihat kondisi kita sekarang ini. Cantik? Ganteng? Ahh kata orang keduanya itu relatif, kalau wangi? Rapi? Hmm masih bisalah.

Beberapa hari terakhir, dosen ekonomi publik saya masuk kelas. “Wahh dapet Bapak ini lagi” kesan pertama kali setelah menunggu cukup lama kedatangan beliau. Perlu diketahui bahwa dosen yang saat itu duduk di depan adalah dosen yang sama ketika di semester sebelumnya dan dengan mata kuliah yang sama pula. Mata kuliah lanjutan yaa, bukan ngulang hehhe.

Cukup membuat saya mengernyitkan dahi (berpikir) ketika bapak dosen membuat kontrak kelas yang sama seperti beberapa bulan lalu. Kontrak kelasnya adalah “setiap masuk kelas saya, wajib sudah mandi, wangi, dan rapi” begitu kiranya kutipan kalimat beliau. 

Jarang ada dosen yang menerapkan aturan sedetil ini untuk masalah penampilan anak didiknya. “Hmm.. paling-paling beliau memang gak suka liat mahasiswanya semrawut” Pikirku pertama kali.

Anda mungkin akan berpikir “Ahh peduli amat sama aturan sepele kayak gitu. Tinggal ikutin apa susahnya?”

Yaapss betul! Awalnya saya dan teman-teman juga beranggapan begitu. Namun tidak setelah saya saring lagi kalimat beliau sekarang. Bapak dosen ekonomi publik yang satu ini ternyata menyuratkan pesan dan ilmu yang di aplikasikan. Lohh kok bisa? Saya jawab BISA. Jadi begini ...

What’s public goods?

Menurut Bapak Hyman (pemilik buku Public finance), barang publik merupakan barang yang manfaatnya tidak bisa di potong dari orang lain yang tidak membayar dan barang tersebut dimiliki oleh sebagian besar masyarakat. Jadi barang publik mempunyai dua karakteristik utama yaitu, non-persaingan (non-rivalitas) dan non-pengecualian (non-exlusive). Apa ini?

Kedua karakteristik tersebut sebenarnya juga digunakan untuk membedakan barang publik dengan barang-barang lainnya. Non-persaingan artinya untuk mendapatkan manfaat tambahan barang publik, seseorang tidak mengurangi jumlah yang dikonsumsi orang lain. Sedangkan non-pengecualian artinya untuk mendapatkan barang publik tersebut, seseorang tidak dikecualikan untuk mengonsumsinya. Apakah Anda sudah paham? Saya harap sih sudah :”)

Kemudian apasih contoh simple dari barang publik? Jalan raya? Yapss betul. Semua orang berhak atas penggunaannya, yahh meskipun terkadang harus berbagi dengan orang lain untuk sekedar menyalip truk. Contoh tadi itu merupakan bagian dari barang publik tidak murni. 

Saya rasa, sekarang ini susah sekali mendapatkan barang publik murni sebab sudah tentu ada pihak lain yang membutuhkan barang itu dan sulit bagi kita untuk tidak bersaing atau mengurangi manfaat yang dikonsumsinya.

What’s the relation between appearance and public goods?

Bukankah setiap pemandangan yang kita lihat juga termasuk barang publik? Orang-orang yang ada disekitar kita mau tak mau harus kita lihat (yakali mau merem terus). Dan mereka juga termasuk pemandangan lohh karena terlihat oleh mata.

Anda tahu bahwa setiap orang memiliki penampilan yang berbeda. Guru dengan pedagang lalapan, pelajar dengan mahasiswa, bahkan mahasiswa satu dengan yang lain pun berbeda. Karena penampilan seseorang itu berada diluar tubuhnya dan mengharuskannya dilihat orang lain, automatically, appearance is public good

Penampilan teman kita bisa kita lihat tanpa harus izin dia, tanpa harus mengurangi konsumsi orang lain ketika melihat dia juga. Yes! Saya mulai melihat sinyal-sinyal pesan bapak dosen.

Coba bayangkan ketika anda harus melihat penampilan orang lain yang lusuh, pakaian tidak rapi, bau badan (tercium otomatis) yang tidak enak, berantakan pokonya. 

Saya sangat yakin, Anda akan malas melihatnya. Suntuk. Risih. Bisa jadi, rasanya Anda ingin meninggalkan pandangan darinya atau bisa juga ingin mengubah looksnya hehehe.Penampilan yang saya maksud tidak termasuk raut wajah yaa, tapi kalau Anda mau memasukkanya sebagai indikator, no problemo.

Karena penampilan sekali lagi masuk kategori barang publik, bapak dosen menginginkan adanya penerapan ilmu yang beliau ajarkan. Tidak mungkin banget kan, kalau kita atau dosen harus meninggalkan hanya karena melihat penampilan mahasiswanya tidak pas. Terlihat berlebihan ya penafsiran saya? Tidak juga kok. 

Jika ditanya setuju apa tidak dengan kalimat bapak dosen, SETUJU! Cantik atau ganteng itu relatif, sulit di ubah, kecuali bagi yang berduit sih. Paling tidak dengan pakai baju bersetrika. Wangi. Rambut tertata. Hijab rapi. You look so great sis/bro! :”). 

Lagipula, dengan kita menata penampilan menjadi lebih baik malah bisa memancarkan aura positif lho, kata Bapak Djajendra (motivator perusahaan). Kalau aura positif sudah terpancar maka energi positif pun juga terpancar dengan sendirinya tanpa kita sadari. Iya benar, Coba deh! 

Yuk mulai perhatikan penampilanmu, siapa tau jodoh makin dekat dan rezeki makin deras mengalir hihihi.