1 bulan lalu · 118 view · 6 min baca menit baca · Seni 58733_58797.jpg
Syahzanan Haunan Fatharani

Penaklukan Nusantara dalam Berbagai Rupa

Indonesian Heritage Society dan Evening Lectures bersama dengan delapan seniman Indonesia menggelar pameran seni rupa sekaligus kuliah umum mengenai sejarah Majapahit dalam menguasai daerah-daerah di Nusantara yang bertempat di Kedutaan Besar Belanda. 

Acara ini bertajuk ‘Ancient Indonesian Military Conquests: Myths or Legends?’. Pameran seni rupanya sendiri dikuratori oleh Hendra Ishanders dengan delapan perupa, yaitu Fitra Aditia, Faturrahman Ardiansyah, Teguh Hadiyanto, Rengga Satria, Sohieb Toyaroja, Syarif Hidayatullah, Saepul Bahri dan Ito Joyoatmojo. 

Sedangkan materi untuk kuliah umum mengenai tema tersebut dibawakan oleh Dennis Rider, seorang insinyur yang tertarik mengenai sejarah Indonesia dan telah meneliti mengenai militer era Majapahit serta Gajah Mada.

Kedelapan seniman merepresentasikan ingatan kolektif mereka mengenai mitos dan legenda Majapahit dalam menguasai Nusantara.

Dimulai dari Faturrahman Ardiansyah dengan karyanya ‘Merajut Nusantara’ yang merupakan gambaran dari mitos Majapahit yang pernah menguasai Selat Malaka dan pantai Sumatera Timur dari sudut panda Fatur sebagai seniman yang berasal dari Sumatera. 

Nusantara yang bersatu ketika itu berasal dari kerja sama antara berbagai kerajaan lainnya, serta pelabuhan-pelabuhan yang menjadi tempat pedagang Nusantara dan pedagang dunia merajut kemakmuran bersama.

Fitra Aditia dengan ‘Kisah Sang Hyang Baruna’ menampilkan salah satu senjata dari Majapahit yang tidak dipergunakan untuk merebut kekuasaan. Majapahit mempersatukan Nusantara dengan cara-cara romantisme, seperti diplomasi dan perkawinan antar pada Raja di Nusantara. 


Selain itu, Sang Hyang Baruna juga merupakan bukti konkrit bahwa terjadi pencampuran seni rupa Jawa dan Tiongkok dalam bentuk Naga Laut pada tombak bermata dua yang telah ada sejak era Singasari pada abad ke-12 hingga era Majapahit pada abad ke-13.

Ada pula Saepul Bahri yang menampilkan suatu kejadian perdagangan yang biasa terjadi antara wilayah Sunda kecil, Nusa Tenggara Barat dan Sasak pada masa abad ke-13 s.d. abad ke-15 melalui medium cutting wood panel.

Foto: Syahzanan Haunan Fatharani

Sosok Brawijaya V dihadirkan dalam ‘Brawijaya V,The Last Emperor’ dan salah satu sabda palon, Semar Wilwatikta dihadirkan dalam ‘Wisdom of Sabda Palon’ dari Sohieb Toyaroja. 

Melalui kedua karya ini, Sohieb ingin memberikan pesan tentang kebijaksanaan yang sangat penting dari masa lalu bahwa Nusantara merupakan tempat akulturasi dan amalgamasi budaya. Pada era akhir Majapahit, terdapat nasehat mengenai cita-cita perdamaian abadi diantara para bangsa. 

Terdapat fakta menarik dari Sohieb sebagai seniman yang menciptakan kedua karya ini, ia sempat melakukan perjalanan spiritualitas sebelum memulai untuk melukiskan sosok Brawijaya V.

Melalui ‘Against Psychoneurotic’ merupakan lukisan abstrak dari Syarif Hidayatullah yang menghadirkan kesulitan kita dalam merekonstruksi tentang sejarah, kebudayaan dan peradaban Majapahit sebagai persatuan dan kesatuan Indonesia modern dalam keberagaman budaya yang dimiliki.

Sementara itu, Teguh Hadiyanto menampilkan Gajah Mada yang merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Majapahit sebagai sosok yang memiliki visi, misi dan konsepsi dalam Sumpah Amukti Palapa pada karyanya ‘Gajah Mada Re-Think’

Gajah Mada memiliki keinginan mulia untuk mempersatukan berbagai macam kebudayaan dan peradaban Nusantara. Pemikiran Gajah Mada yang mendalam tersebut merupakan sisi metafisik Gajah Mada yang berbeda dari sosok formalnya.

Karya fotografi ditampilkan oleh Rengga Satria dalam ‘Majapahit, Memory of Chronicles’. Melalui karya ini, Rengga menghadirkan Majapahit sebagai memori kolektif dalam bentuk fotografi dari berbagai kota di Jawa Timur. Memori kolektif yang dihadirkan berupa gambaran masa depan Majapahit sebagai teks sejarah yang tidak mudak dicerna oleh generasi milenial saat ini.

Kegelisahan mengenai persatuan dan kesatuan Indonesia modern yang kerap terganggu oleh berbagai konflik dihadirkan dalam karya milik Ito Joyoatmojo melalui ‘From The Series Messages In The Bottle’. Pada karya ini, Ito menghadirkan sejarah dari konflik Majapahit tentang perang saudara karena hegemoni kekuasaan.

“Karya-karya yang dipamerkan kali ini menghadirkan pendekatan aspek estetika pada seni dan ilmu pengetahuan yang berbentuk cinta dan romantika yang telah lama ada dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia, bukan dalam bentuk pendekatan yang formal seperti militer,” kata Hendra Ishanders, kurator dari ‘Ancient Indonesian Military Conquests: Myths or Legends?’.

Proses kreatif yang digunakan oleh kedelapan seniman dibuat tanpa panduan objek tertentu yang berkaitan dengan Majapahit, melainkan dengan kebebasan interpretasi imajinasi yang bukan hanya dalam bentuk seni rupa visual tetapi menampilkan seni komunikasi sejarah yang spontan dan kreatif. 


Walaupun menampilkan ingatan kolektif masing-masing seniman mengenai mitos dan legenda Majapahit, sejatinya para seniman ini menampilkan budaya Majapahit dalam mempersatukan Nusantara adalah dengan menggunakan cinta dan romantisme, bukan dengan senjata dan kekejaman.

Seluruh karya yang dipamerkan dalam acara ini bisa dinikmati sejak 21-29 Mei 2019 di Erasmus Huis Jakarta.

Romantisme Hayam Wuruk dan Ambisi Gajah Mada

Dennis Rider – seorang praktisi teknik industri dan pengamat sejarah Indonesia sejak 1978 – dalam kuliah umumnya pada rangkaian acara ‘Ancient Indonesian Military Conquests: Myths or Legends’ juga menyampaikan bahwa Majapahit awalnya merupakan kerajaan berbentuk mandala atau sistem politik berbentuk kerajaan federasi yang terdiri dari beberapa kerajaan lainnya. Kemudian, Majapahit merubah sistem politiknya menjadi kemaharajaan atau dinasti pada masa kekuasaan Hayam Wuruk tahun 1350.

Pergantian bentuk sistem politik salah satunya disebabkan oleh obsesi militer dan senjata yang dimiliki oleh Majapahit karena sedang berada di masa keemasan. Era kejayaan Majapahit menghasilkan kapal-kapal besar serta senapan yang disebut cetbang. Kedua hal tersebut dipergunakan sebagai sistem pertahanan Majapahit.

Beberapa peralatan persenjataan Majapahit yang digunakan selain cetbang adalah tombak, keris, kujang, pedang, pakarapan (prajurit yang menunggangi gajah), mamana (pemanah) dan pemanah jarak jauh.

Sistem militer Majapahit juga menghadirkan beberapa gerakan pertahanan ketika mengalami pertempuran laut, dimulai dengan panahan yang sangat cepat, kemudian beberapa gerakan dayuh kapal yang membentuk formasi tertentu, seperti supit udang, kalajengking dan chakra manggilingan.

Foto: Wikipedia

Kemajuan teknologi persenjataan Majapahit pada masa keemasannya diakui oleh kerajaan-kerajaan lainnya di Asia. Cetbang merupakan senapan yang berhasil dikagumi oleh dinasti di Tiongkok dan Mongol karena ledakannya. Cetbang juga disinyalir berasal dari ide Gajah Mada ketika menghadapi serangan dari Kublai Khan pada tahun 1293.

Persenjataan Majapahit yang mumpuni ketika itu tidak pernah diimbangi dengan adanya baju rajah atau baju perang, spekulasi yang ada mengenai hal ini adalah persenjataan tersebut digunakan untuk pertahanan Majapahit dari serangan lawan. 

Selain itu, masyarakat Majapahit kala itu dianggap mempunyai daya magis ketika berperang, karena memperlakukan senjata-senjata yang dimiliki layaknya sesuatu yang bernyawa dengan menghadirkan ritual tertentu.

Kecanggihan peralatan tempur yang dimiliki oleh Majapahit saat itu juga menyebabkan Gajah Mada berani bersumpah untuk menaklukan wilayah-wilayah di Nusantara yang belum dikuasai Majapahit kala itu. Sumpah Gajah Mada ini dikenal sebagai Sumpah Palapa yang berisi:

“Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepas puasa. Jika mengalahkan Gurun (Pulau Gorom, Seram Bagian Timur), Seran (Seram), Tanjung Pura (Kalimantan Barat), Haru (Sumatera Utara / Karo), Pahang (Malaysia), Dompo (Sumbawa), Bali, Sunda, Palembang (Sriwijaya), Tumasik (Singapura), demikianlah saya baru akan melepas puasa.”


Sayangnya, ambisi Gajah Mada ini justru bersebrangan dengan cara Hayam Wuruk dalam menguasai daerah-daerah yang belum jatuh dibawah kekuasaan Majapahit. Salah satu cara yang digunakan oleh Hayam Wuruk adalah melalui jalur perkawinan. 

Ketika Hayam Wuruk ingin meminang Dyah Pitaloka Citraresmi, putri dari Kerajaan Sunda, Gajah Mada justru menyatakan perang kepada Kerajaan Sunda dengan membunuh seluruh rombongan Kerajaan Sunda yang hendak bertolak ke Majapahit. 

Tindakan tersebut memecah terjadinya Perang Bubat pada tahun 1357. Ambisi Gajah Mada menghadirkan pertumpahan darah bahkan hingga dendam diantara suku Sunda dan suku Jawa.

Gajah Mada sendiri merupakan anak dari Gajah Pargon yang masih kerabat dari Kertanegara dan Tribuwanatunggadewi. Ia lahir pada tahun 1299 dan meninggal pada 1364. Berawal sebagai Mahapatih pada masa Tribuwanatunggadewi, kemudian menjadi Amangkubhumi pada era Hayam Wuruk. 

Setelah sadar akan kekacauan yang terjadi pada Perang Bubat, Gajah Mada memilih untuk menarik diri dari kehidupan duniawi dan menjadi wanaprastha. Sehingga tidak banyak yang mengetahui akhir kisah hidup dirinya.

Sumber: Kuliah umum Evening Lectures dan wawancara dengan kurator 'Ancient Indonesian Military Conquests: Myths or Legends' .

Artikel Terkait