Pemulung. Orang  yang tak asing lagi di telinga warga Indonesia. Orang yang tiap harinya mengais-ngais sampah di jalanan, di tong sampah, bahkan di selokan demi mengupulkan pundi-pundi rupiah. Tak peduli lagi berapa kilometer perjalanan yang mereka harus tempuh dan berapa banyak tetesan keringat yang membasahi tubuh mereka, semua itu dilakukan untuk bisa bertahan hidup.

Dari terbit fajar, mereka akan berjalan mencari benda yang sudah tak ternilai lagi bagi sebagian orang. Bau menyengat sampah bukan lagi menjadi alasan untuk tidak bekerja, bahkan hingga terbenamnya matahari mereka akan tetap mencari dan mengumpulkan sampah untuk bisa menjualnya.

Namun, apakah mereka bahagia bekerja sebagai pemulung sampah ? apakah penghasilan mereka tetap setiap harinya? Jawabannya hanya satu kata yaitu TIDAK. Bahkan pertanyaan itu pun tak akan muncul di benak mereka, yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana dapat bertahan hidup esok.

Yang mereka inginkan adalah pekerjaan yang layak dengan penghasilan yang tetap, tempat tinggal dan kehidupan yang layak. Namun, apakah pemerintah dan para pejabat menyadari betapa kerasnya hidup mereka ? betapa sulitnya kehidupan yang mereka jalani? Tak ada yang tau, hanya mereka yang tau pahitnya kehidupan yang mereka alami.

Mereka dianggap sebagai sampah kota yang merajalela. Jangan lupa bahwa mereka adalah Warga Negara Indonesia juga, mereka seharusnya di pelihara, di rawat, dan di beri kehidupan yang layak oleh Negara bukan malah diasingkan, diterlantarkan, bahkan diacuhkan.

Tak jarang anak-anak di bawah umur yang seharusnya menempuh pendidikan dengan baik harus berhenti sekolah dan ikut memulung alasannya karena tidak ada biaya. Mereka tak lagi memikirkan masa depannya yang sekarang mereka pikirkan adalah nasib mereka kedepannya. Apakah mereka dapat makan esok atau tidak ?.

Miris memang tapi apa daya, mereka bekerja untuk meringankan beban keluarga, untuk mencari sesuap nasi agar dapat bertahan hidup. Ini adalah fenomena yang tak bisa dibiarkan. Mereka adalah tunas bangsa, generasi penerus bangsa yg harus di didik dan dibimbing agar berguna bagi nusa dan bangsa. Tapi kenyataannya mereka justru diasingkan oleh masyarakat.

Menjadi pemulung bukanlah cita-cita mereka tapi karena keadaan yang memaksa. Mereka juga mempunyai cita-cita dan keingininan. Ini sudah menjadi tugas Negara untuk membimbing dan membina agar mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari.

Tentu, bagi para pemulung cilik, mereka pun ingin merasakan hal yang sama dengan anak-anak seumuran mereka. Yang dapat merasakan nikmatnya duduk di bangku sekolah tanpa terbebani oleh biaya. Tetapi, kenyataannya berbeda. Mereka harus bekerja, memungut sampah di jalanan bahkan mereka tak memperdulikan lagi tentang keselamatan mereka. Pemerintah seharusnya memperhatikan nasib para pemulung cilik yang kurang beruntung itu. Di umur mereka yang masih belia, seharusnya mereka bisa bersekolah dengan baik bukannya malah bekerja.

Di Indonesia sendiri memiliki kurang lebih 13.466 pulau dan tiap pulau memiliki kekayaan alam tersendiri yang melimpah. Melihat hal tersebut, pemerintah seharusnya dapat mengelola sumber daya alam tersebut sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan yang layak bagi para pemulung tersebut sehingga mereka tidak merasa kekurangan.

Indonesia memang sudah merdeka. Tetapi, apakah makna dari kemerdekaan itu tersendiri ? Apakah merdeka itu berarti menghabiskan uang rakyat sehingga membuat rakyat yang kurang mampu menjadi lebih terpuruk ? ataukah merdeka itu berarti menghargai orang yang beruang dan menindas orang miskin ?. Lalu, apa sebenarnya makna merdeka itu ?

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), merdeka adalah bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya), tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu.

Ya, Indonesia memang sudah merdeka. Tetapi kata “Merdeka” disini adalah untuk “Negara” bukan untuk “Rakyat”. Di Indonesia sendiri, Kemiskinan menjadi salah satu masalah perekonomian yang belum bisa diselesaikan oleh pemerintah. Bagaimana rakyat tidak menderita dan masyarakat tidak miskin apabila para koruptor yang tak memiliki hati nurani masih merajalela di kursi pemerintahan.

Para koruptor berfoya-foya menghabiskan uang rakyat, bolak-balik luar negeri, makanan tersedia kapan pun dan apa pun yang mereka inginkan, kehidupan yang mewah, rumah yang bertingkat-tingkat, serta mobil yang tiap harinya gonta-ganti. Sementara kerjaan mereka hanya duduk di bangku pemerintahan dan berpura-pura membela rakyat miskin. Mereka melakukannya dengan bangga dan seakan-akan tak melakukan kesalahan.

Kehidupan para koruptor berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat miskin dan para pemulung. Mereka berjalan berpuluh-puluh KM hanya untuk mencari sampah dan walaupun tak memiliki kendaraan yang mewah mereka tetap bersyukur masih memiliki pergelangan kaki yang kuat untuk berjalan mencari rezeki, mereka tetap bersyukur walaupun hanya dapat makan sesuap nasi setidaknya itu dapat memberikan mereka energy untuk bekerja esok hari, mereka tetap bersyukur walaupun hanya tinggal di dalam gubuk setidaknya itu dapat melindungi mereka dari teriknya matahari dan derasnya hujan.

Melihat hal tersebut, Pemerintah harusnya bertindak lebih tegas lagi bagi para koruptor tersebut yang telah menghabiskan uang rakyat agar mereka bisa menyadari bahwa apa yang mereka perbuat adalah sebuah kejahatan dan kesalahan yang besar karena telah mengambil hak orang lain dan menyebabkan penderitaan kepada rakyat miskin dan pemerintah seharusnya lebih memperhatikan lagi nasib para rakyatnya yang menderita.

Mencari solusi yang terbaik adalah jalan agar dapat mensejahterakan kehidupan rakyat yang kurang mampu. Masyarakat yang mampu pun harus turut membantu pemerintah dalam mencari solusi, bukan malah ikut menindas orang-orang yang kurang mampu tersebut.

Mari bersama-sama kita membangun dan menyejahterakan Negara Indonesia kita yang tercinta ini menjadi Negara yang lebih baik, lebih maju, dan lebih sejahtera dari segi ekonomi, lingkungan maupun masyarakatnya agar kata “Merdeka” bisa dirasakan oleh “Rakyat Indonesia” dan “Negara Indonesia”  J

#LombaEsaiKemanusiaan