Bel berbunyi. Menandakan jam sekolah sudah berakhir. Anak-anak sekolah kelihatan bahagia dengan selesainya jam pelajaran. Tampak beberapa anak sudah berjalan ke halte bus. Dan sebagian lagi masih asyik bercerita dengan temannya di bawah rindang pohon.

Di halte seorang anak bernama Rini hendak pulang. Ia tampak cemberut berbeda dengan anak lainnya. Tepat pada jam terakhir pelajaran tadi, dia di tegur oleh Bu Risma karena mempunyai alasan lupa membawa buku tugasnya. Dia yang terbiasa menyerahkan tugas tepat waktu mungkin merasa merosot harga dirinya sampai ke kaki.

Sekarang ini tampak mulutnya komat-kamit. Entah apa yang sedang diucapkannya. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Segera dibukanya. Ada pesan yang masuk. Tepatnya dari ayahnya.

“Rin, bapak ternyata tidak bisa mengantarmu pulang karena bapak harus mengikuti rapat mendadak.”

Lantas tanpa membalas pesan ayahnya. Dia segera pergi ke halte. Wajahnya kian bersungut-sungut. Lengkap sudah penderitaanku hari ini, pikir Rini. Dengan langkah yang tidak tulus dia bergegas ke halte. 

“Kok tumben Rin naik angkutan umum?” sapa salah satu temannya di jalan. Bukannya menjawab, Rini sekadar senyum simpul saja. Rini sudah bertekad dalam dirinya. Sesampai di rumah dia akan mengeluarkan unek-uneknya. Bukan dengan cara barbar. Tapi Rini akan langsung rebahan dan melupakan kejadian yang terjadi sebelumnya. Begitu cara Rini melenyapkan kekesalannya.

Di halte Rini yang sudah meniatkan diri untuk segera pulang seakan sudah mulai goyah pendiriannya. Aroma harum terasa menusuk ke hatinya. Perlahan rasa emosinya luntur. Cilok Kang Uci. Begitu tulisan yang menempel di gerobaknya.

Rini merupakan salah satu langganan Kang Uci. Rini pun segera menyeberang dari halte ke gerobak Kang Uci. “Kok tumben sendiri, neng,” sapa Kang Uci.

“Erna sedang tidak masuk sekolah, Kang.”

“Owh. Berarti sekarang dijemput ayah?”

Merupakan kesepakatan tidak tertulis antara Rini dan ayahnya, bila Rini tidak mempunyai teman pulang maka ayahnya yang mengantar pulang. Tapi untuk sekarang peraturan itu seakan tidak berlaku.

“Ayah sedang ada rapat di kantornya” jawabnya dengan sedikit senyum “buat ciloknya seperti biasa, Kang!”

“Siap atuh, Neng”

Perlahan emosi Rini mendadak hilang bersamaan habis dengan cilok yang dipesan. Rasa ciloknya seperti memunculkan nuansa baru bagi dirinya.

Rini kembali melangkahkan kakinya menuju halte. Angkutan umum yang ditunggu tak kunjung tiba. Emosinya yang sudah sempat tenggelam seakan muncul kembali ke permukaan. Lagipula, ditengah kegelisahan seperti ini seorang pemulung tua datang ke arah Rini. Rini semakin muram saja. Matanya memandang sinis ke pemulung itu.

Dari jauh saja pemulung itu penampilannya sudah tampak tak terawat. Kumis dan jenggotnya asal tumbuh seperti semak belukar. Pakaiannya kumal dan berbau. “Kok mesti datang ke sini, sih” gumam Rini dalam hati.

Hujan tiba-tiba turun. Cuaca yang tadi kelihatan netral. Tidak mendung atau panas berubah seketika. Mendung juga meliputi hati Rini. Kakek tua itu segera berlindung di halte.

Halte yang sudah sepi membuat Rini semakin cemas. Seandainya tadi aku tidak ngobrol dengan Kang Uci, aku sudah sampai di rumah. Bersit Rini dalam hati. Kini halte hanya menyisahkan dia dan pemulung tadi.

Sempat terjadi keheningan begitu lama melanda mereka. Rini yang menampakkan ketidaksukaannya, lantas membelakangi pemulung itu tapi pemulung yang berusia 60-an itu akhirnya memecahkan keheningan. Dengan santun dia memanggil “Mbak.” Rini seakan tuli, tidak menggubris perkataan pemulung tua itu.

“Mbak tali sepatunya terlepas.” Rini tetap pura-pura tidak mendengar. Bisa saja dia tengah menjaili aku seperti teman cowokku pada umumnya, pikirnya. “Mbak, kalau tidak diperbaiki nanti mbak bisa terjatuh” ucap pak tua itu lagi. Akhirnya keegoisan Rini runtuh. Dia berpaling ke sepatunya. Memang benar tali sepatunya terlepas. Segera dikaitkannya tali sepatunya.

Rini tidak menduga bila pemulung itu tulus memberitahukannya. Penampilannya yang terlanjur buruk seakan membuat Rini memandangnya buruk. “Terima kasih, Pak” ucap Rini demi menjaga kesopanan.

Meski Rini kelihatan sungkan mengucapkannya, tapi sebagai adat timur mewajibkan untuk menghormati orang yang lebih tua. Si pemulung tua itu tesenyum. Gigi depannya tampak sudah bertanggalan. “Mbak, jadi tidak bisa pulang karena hujan ya?” tanya pak tua itu.

“Iya, pak” jawab Rini dengan ragu-ragu.

“Tidak usah takut dengan saya Mbak” seakan pak tua itu membaca air muka Rini.

“He.he” tawa Rini berderai.

“Kamu kelas berapa, mbak?”

“Kelas XII, Pak?”

“Wah, bentar lagi mbak sudah tamat. Selamat berjuang ke PTN, Mbak” kata si pemulung dengan senyum melebar “minimal, mbak pasti bisa menang di UGM. Ngomong-ngomong, mbak jurusan apa?”

Tiba-tiba Rini merasa heran, kok pemulung tua seperti dia mengerti PTN dan jurusan. Sudah menjadi pengetahuan umum jika pemulung adalah salah satu pekerjaan yang kualitas pendidikannya tergolong rendah, tapi pertanyaan yang dilontarkan seakan bermakna.

“Saya Jurusan IPS dan kebetulan juga pengen kuliah di UGM” jawab Rini dengan antusias.

“Kalau jurusan sosial yang beken di UGM itu ada beberapa, yaitu filsafat, politik, dan hukum.”

Rini semakin terkejut akan jawaban kakek pemulung, bagaimana orang seperti dia bisa memiliki kualitas pengetahuan yang dahsyat untuk ukuran pekerjaannya.

Demi memuaskan rasa ingin tahunya, Rini berani bertanya, “Kok kakek tahu sedemikian banyak mengenai dunia perkuliahan. Padahal….”

Tiba si kakek itu pemulung tertawa sambil memotong, “Hahaha. Maksud kamu karena saya adalah seorang pemulung, bukan?”

Tiba-tiba Rini merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia khawatir sudah menyinggung perasaan si kakek itu. Kini dia seakan berpasrah mengenai kejadian yang akan terjadi pada dirinya.

“Memang adik, saya ini seorang pemulung dan tampilan saya tidak terurus. Tapi jangan salah sangka, saya ini adalah lulusan filsafat dari Rusia.” Kata si kakek dengan nada bicara yang dalam.

Rini semakin terperanjat akan jawabannya, lantas dia kembali bertanya “Kalau kakek memang lulusan filsafat Rusia kenapa mesti menjadi pemulung?”

“Ohh. Jadi begini dik, saya tahu usia saya memang sudah tua dan tenaga saya tidak terlalu dibutuhkan lagi dalam pekerjaan kantor. Umur saya ini mengisyaratkan untuk banyak istirahat, tapi saya memilih istirahat yang berbeda” kata si pemulung dengan tatapan sejuk pada Rini.

“Istirahat berbeda bagaimana, Kek?” potong Rini.

“Jadi di usia tua ini saya ingin tetap menebar kebermanfaatan pada lingkungan sekitar. Sekalian berolahraga dan menjaga kebugaran, ya saya melakukan kegiatan memulung. Lingkungan nantinya akan terasa sejuk dan enak dirasa oleh orang banyak. Dengan memberi contoh membersihkan lingkungan seperti itu, saya berharap bisa menularkannya kepada orang lain” jelas pemulung tersebut.

Rini lantas terperanjat akan penjelasan pemulung itu. Mulutnya terkatup rapat-rapat saat mendengar penjelasan pemulung itu. “Buat apa kakek melakukan itu semua?” lontar Rini dengan sebuah pertanyaan.

“Saya yang sudah melintasi berbagai negara telah menyaksikan bahwa keberhasilan pembangunan dimulai dari sifat gotong royong. Dengan melakukan gotong royong semua orang akan menjadi kompak. Dengan melakukan kegiatan ini, seperti saya katakan tadi, mudah-mudahan menginspirasi generasi muda.”

Rini semakin kagum akan jawaban pemulung itu. Dia seakan menyesal dengan pandangan buruknya terhadap kakek tua tadi.

Tiba-tiba si kakek tersebut memecah keheningan kembali. “Kalian sebagai generasi muda harus mampu bahu-membahu dalam membangun negara ini. Lakukanlah pekerjaan secara kompak dengan gotong royong. Tidak mesti memulung sampah seperti yang kulakukan, tapi kerjakan segenap peranmu dalam kehidupan dengan semaksimal mungkin agar negara kita tidak ketinggalan dengan negara lain.”

Rini dengan mata berkaca-kaca mulai terbengong. Muncul sekilatan pekerjaan yang dilakukannya selama ini. Dia yang tumbuh sebagai anak semata wayang tidak pernah mengerjakan apapun, kecuali belajar.

Halaman tidak pernah disapunya. Rumah tidak pernah dipel. Dan ketika jadwalnya untuk kerja piket kelas selalu dikerjakannya secara bersungut-sungut. Dia merasa menyesal dengan apa yang dilakukannya selama ini. Air matanya tiba-tiba bercucuran. Segera diambilnya tisu dalam tasnya.

“Dik, tidak ada kata terlambat dalam mengerjakan sesuatu. Lakukanlah perubahan secepat mungkin” kata pemulung itu dengan suara basnya.

Rinipun tersenyum. Tekad untuk menjadi perempuan yang lebih mandiri dan tidak manja seakan mulai berkobar di dalam hatinya.

“Beruntunglah kita, Dik yang tinggal di Indonesia ini sebab Pancasila mampu merekatkan kita. Di negara lain dengan aneka puluhan suku saja bisa tidak tenteram. Selalu saja ada api pengobar permasalahan. Negaranya menjadi tidak aman dan selalu ada curiga antarsuku. Semuanya itu terbantahkan di sini berkat Pancasila, nilai-nilainya harus kalian tanamkan dalam diri kalian dengan turut bekerjasama dengan segala jenis suku tanpa harus membedabedakan agar Indonesia menjadi negara yang maju, sikap bahu-membahu antarmasyarakat harus kalian kembangkan.”

Rini sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa kagumnya terhadap pemulung itu. Dia semakin terilhami oleh setiap perkataan yang diucapkannya.

Rinai-rinai hujan sudah mulai hilang diiringi matahari yang kembali muncul. Jam sudah menunjukkan pukul 14.15. Pelangi mulai seakan muncul dari kejauhan. Rini semakin takjub akan pengalaman hari ini. Rini seakan ingin melanjutkan obrolannya kepada pemulung itu, namun handphonenya kembali bergetar.

Rini lekas-lekas membuka handphonenya. “Kok, belum sampai di rumah?” begitu pesan yang datang dari mamanya.

“Ini lagi, menunggu angkot, Ma” balas Rini.

Dengan berberat hati Rinipun memandang pemulung itu dan berkata, “Kek, aku izin pulang. Soalnya mama sudah menghubungi aku.”

“Oh baik, Dik. Hati-hati di jalan” pesan pemulung itu. Sambil berpaling dari pemulung itu, Rini tersenyum dan si pemulung melambaikan tangan disertai senyum.

Baru sebentar menunggu, mobil angkutan umum sudah datang tepat di depannya. Rini segera masuk dan sekali lagi tersenyum kepada pemulung itu.

Beberapa saat kemudian Rinipun sampai di rumah. Dengan senyum dia menyapa mamanya yang sedang membaca majalah.

“Ada apa kamu senyum begitu, nak, kok tumben?” selidik mamanya. Selama ini, jika Rini tidak mendapat perlakuan yang tidak adil dirasanya, pasti akan bersungut-sungut dan mukanya murung. Tapi kali ini berbeda.

“Tidak apa-apa ma,” jawab Rini dengan senyum.

Dia segera mengganti pakaiannya dan lantas mengambil sapu.

“Buat apa sapu itu kau ambil?” tanya mamanya.

“Untuk menyapu, dong ma,” jawab Rini. Mamanya semakin heran dengan tindakan Rini.

Tidak seperti ini biasanya dia, begitu pikir mamanya.

“Rin, kok kamu tumben menyapu rumah? Biasanya selalu membiarkan mama yang membersihkan rumah?” investigasi mamanya kembali.

“Rini mau berubah, Ma. Rini mau membiasakan diri bergotong-royong,” jawab Rini dengan senyum.

Mamanya semakin terheran-heran dengan perubahan putri semata wayangnya. Tapi ya sudahlah, pikir mamanya. Kalau berbuat baik mengapa mesti dicurigai.

Mamanya lantas tersenyum dan mendatangi Rini. Dipeluknya Rini sambil mengusap-usap kepalanya. Rinipun terlihat menikmatinya dan merasakan ada kesejukan di dalam dirinya.