Saya memang sudah sering mendengar cerita-cerita tentang orang yang disasarin setan pas lagi berkendara malam hari. Pengalaman yang kemudian justru saya alami sendiri pada awal semester empat lalu, sepulang dari pengajian di Malang bareng Rozi, teman satu jurusan.

Sekitar pukul sepuluh malam, beberapa saat setelah pengajian usai, kami berniat langsung balik Surabaya karena esok paginya masih harus kuliah. Dan dari sinilah kengerian itu bermula. Saat motor kami keluar dari gapura dusun lokasi digelarnya pengajian, motor kami mendadak hilang arah. Masuk ke jalanan berbeda dari yang kami lewati sewaktu berangkat tadi.

“Harusnya pas keluar dari gapura tadi kita udah masuk jalur ke kota. Ini kok malah  muter-muter jauh gini,” gumam Rozi yang nggak langsung saya respons. Saya sendiri sedang mencoba untuk fokus, barangkali kamilah yang salah ambil rute.

Makin jauh kami memacu motor, jalanan yang kami lewati justru kian lengang. Sisi kanan dan kiri dikelilingi pohon-pohon lebat. Nggak ada rumah penduduk, nggak ada cahaya lampu. Satu-satunya cahaya redup yang menyala hanyalah sorot dari motor kami.

“Fiks, kita disasarin!” pekik Rozi tiba-tiba ketika sudah beberapa kali kami melewati tugu-tugu kecil yang tersebar di beberapa titik yang kami lalui.

“Buka maps!” perintah Rozi dengan nada mulai menegang. Saya pun bergegas membuka ponsel, memilih aplikasi Google Maps, dan mengetik alamat jalan yang dia dekte.

Belum tuntas saya mengetik, mendadak ponsel saya mati. Padahal baterainya masih sekitar 45%-an. Hal serupa juga terjadi pada ponsel Rozi yang mendadak mati tanpa sebab. Dan sialnya, bensin motor kami sedikit lagi juga mau habis. “Duh, modyar kita,” pekik Rozi mulai panik.

Selanjutnya, tahu-tahu motor kami sudah berada di tengah-tengah kuburan setelah melewati jalanan penuh kebut. “Jancuk!” teriak kami hampir bersamaan. Kaki saya rasanya kebas dan lemas.

Nggak butuh waktu lama, kami pun keluar dari kuburan dan mengambil jalan setapak yang gelap gulita. “Sekarang ke mana?” tanya saya setengah terbata. “Jalan terus sampai bensinnya habis,” jawab Rozi pasrah. Lhah gimana lagi, kami sudah tersesat jauh.

Saat kami melanjutkan perjalanan, sayup-sayup dari jauh terdengar bunyi gamelan ditabuh. Lengkap dengan suara sinden yang bersenandung. Saya menelan ludah, sementara Rozi makin kenceng baca salawat.

Setelah berhasil melewati suara-suara gending tersebut, motor kami akhirnya tumbang. Tapi syukur alhamdulillah, motor kami kehabisan bensin kok ya persis di depan sebuah toko yang menyediakan bensin eceran.

“Dari mana, Mas, malam-malam begini?” tanya bapak pemiliki toko.

“Ini, Pak, dari pengajian di dusun *tiiittt* mau balik ke Surabaya,” jawab Rozi dengan wajah yang tampak sedikit lebih lega.

“Loh, kok bisa sampai sini?” tanya pemilik toko dengan raut keheranan. “Bukannya tadi kalau sampeyan keluar gapura itu sudah rute ke Surabaya ta, Mas?” Mendengar itu, kami bersitatap untuk kemudian menggeleng-geleng secara bersamaan.

“Jam berapa sekarang, Pak?” sekarang giliran saya yang bertanya.

Pemilik toko melirik ke pergelangan tangan kirinya, sebelum akhirnya menjawab, “Sudah setengah dua belas (malam).”

Hah? Setengah dua belas? Saya dan Rozi kembali saling tatap. Kami dibawa muter-muter dari pukul sepuluh sampe setengah dua belas malem. Bener-bener setan kampret!

Setelah meminta petunjuk arah dari pemilik toko, kami pun bergegas memacu motor. Dan setelah melalui beberapa kelokan dan menyibak kabut-kabut tipis, secara mengejutkan motor kami sudah berada di jalanan depan gapura dusun, titik awal sebelum kami kesasar jauh.

“Memang setan kampret, og. Kok bisa-bisanya gitu, loh, orang habis pengajian malah disasarin,” gerutu saya. “Harusnya tuh setan keder dong sama kita yang kumpul sama kiai-kiai.”

“Heh, tapi kita yang salah, goblok!”  celetuk Rozi.

“Hah? Kok kita yang salah?” timpal saya bingung.

“Tadi pas kita berangkat lewat Cangar, kita kan sempet tuh bercandain soal makhluk-makhluk halus. Nah, ada satu lelembut penghuni sana yang nggak terima dan ngikutin kita sampai sini. Terus ngerjain kita muter-muter nggak jelas kayak tadi,” terang Rozi

FYI: Cangar adalah rute alternatif ke Malang yang juga merupakan kawasan Taman Hutan Rakyat Mojokerto. Selain tanjakan yang ekstrem dan spot alam yang Instagramable, konon lokasi ini dihuni oleh ribuan bangsa lelembut.

“Dari mana kamu tahu? Asal jemplak lambemu itu, Cuk!” cecar saya masih penuh keraguan.

“Hahaha kamu nggak tahu aja. Tadi sekeluar dari Cangar dan sepanjang kita kesasar, aku ngelihat dari kaca sepion ada perempuan di belakang kamu.” Saya tercekat mendengar penjelasan Rozi. “Aku sengaja nggak langsung ngasih tahu kamu. Takut kamu panik.”

Ah tapi itu bukan satu-satunya rahasia. Rozi tampaknya juga nggak menyadari, kalau bapak-bapak pemilik toko yang kami jumpai sebelumnya ternyata juga bukan manusia.

Saat motor kami melaju meninggalkan toko, saya sempat menengok ke belakang. Dan percaya atau tidak, di belakang kami nggak ada apa pun kecuali jalanan yang lengang dan gelap. Padahal baru beberapa meter saja kami berlalu dari sebuah toko di belakang sana.

Ini bagian yang belum saya ceritakan ke Rozi. Semoga setelah membaca ini, dia nggak lantas menelepon saya sambil misuh-misuh. Heuheuheu.