“JAS MERAH!” Apa sih yang terlintas  di pikiranmu ketika membaca kalimat tersebut? Pastinya tidaklah asing bagi kita yang telah menikmati masa kemerdekaan saat ini. 

Benar, kalimat tersebut adalah wejangan dari Presiden pertama kita, “Jangan sekali-sekali melupakan Sejarah!”. Ucapan itulah yang sampai saat ini ditanamkan kepada pemuda khususnya kita “Mahasiswa” yang dianggap sebagai Ujung Tombak Negara.

Jika ditarik dari masa lalu hingga sekarang, peran pemuda pada masa ke masa sangatlah berpengaruh dalam perkembangan suatu negara. Pasalnya jika ditelaah secara mendalam, yang menyebabkan Indonesia berkembang hingga sekarang ini sebagian besar adalah peran dari pemuda. 

Sebagai contoh peristiwa Rengasdengklok, lengsernya Presiden Soeharto adalah peran pemuda. Itulah mengapa pemuda disebut sebagai Agent of Change. Lantas, apa sih yang sudah kita lakukan pada masa era Globalisasi sekarang?

Tidak dapat dipungkiri bahwa di era globalisasi ini perlahan namun pasti telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk pola pikir manusia khususnya “Pemuda”. 

Sadar atau tidak pemuda-pemudi di zaman sekarang nampaknya mulai acuh tak acuh terhadap permasalahan yang sedang dihadapi oleh negara, mereka (para pemuda) lebih mementingkan kesenangan pribadi ketimbang memikirkan bagaimana nasib bangsa ini yang kelak bakal diteruskan tongkat estafetnya kepada kita generasi pemuda.

Sangat disayangkan, banyak perilaku pemuda pada zaman sekarang yang menyebabkan kemunduran pola pikir akan kesadaran perkembangan suatu negara. Nampaknya seiring berjalannya waktu, para pemuda cenderung semakin pasif untuk berpikir “kritis” akan permasalahan yang sedang dihadapi oleh negara. Walaupun, sebenarnya masih ada para pemuda yang mau berpikir dan sadar akan permasalahan yang terjadi di negara.

Lain halnya dengan pemuda zaman dulu dimasa sebelum reformasi, mereka sangat aktif memikirkan tentang ke mana arah tujuan suatu negara. Kita tidak bisa mengelak bahwasanya pemuda pada era tersebut memang memiliki peran yang sangat signifikan. Peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Indonesia, para pemuda hampir selalu ambil peran di dalamnya.

Sebut saja peristiwa Rengas Dengklok, kalian pasti pernah mendengar atau membaca sejarah tersebut. Dalam peristiwa itu para pemuda mendesak “golongan tua” untuk segera mempercepat proses kemerdekaan dengan cara membawa Soekarno ke daerah Rengas Dengklok, kemudian terjadilah proklamasi kemerdekaan. Hal itu membuktikkan bahwa betapa berpengaruhnya pemuda terhadap kemajuan bangsa.

Sebagai contoh lain pada tahun 1998, generasi pemuda khususnya “mahasiswa” dapat melengserkan Presiden Soeharto yang waktu itu dianggap sebagai diktator. 

Karena memang pada saat itu kita sebagai rakyat seolah-olah dibungkam oleh sistem pemerintahan yang tidak jelas dan kebal kritik. Apalagi, ditambah tidak keterbukaannya pemerintah terhadap rakyat seperti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di setiap kabinetnya. 

Kejadian itu diperkuat dengan adanya bukti bahwa media pada saat itu seakan-akan ditunggangi oleh pemerintah. Seperti tidak adanya media yang berani mengkritik orde baru saat itu selama 32 tahun, sampai akhirnya terjadi peristiwa “Reformasi 98”.

Berbeda dengan pemuda saat ini, pada zaman yang serba ada sekaligus cepat ini, mereka pemuda zaman now seolah-olah dibutakan oleh teknologi. Sebagai contoh kecil kita kadang  lebih sering memikirkan  feeds instagram atau mengikuti trend-trend di sosial media ketimbang memikirkan nasib Negara Indonesia ini yang sebenarnya telah “bobrok”, entah penurunan ekonomi maupun korupsi dimana-mana. 

Sekali lagi, walaupun tidak semua pemuda seperti itu pada zaman sekarang, namun di sini kita mengambil skala “mayoritas”.

Selain memudarnya pola pikir kritis, pemuda zaman now juga telah berubah dari segi gaya hidup. Kebanyakan dari mereka lebih suka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, bersikap hedonisme, dan individualisme. 

Apalagi ditambah pengaruh dari budaya barat yang tidak disaring dengan baik mengakibatkan perubahan gaya hidup generasi muda saat ini. 

Pemuda kini cenderung lebih suka mencontoh daripada dicontoh, hal itulah yang menyebabkan merosotnya kreativitas yang ada dalam generasi pemuda  saat ini.

Gagasan ini dibuat bukan sebatas untuk menilai, meremehkan, atau memandang sebelah mata pemuda zaman sekarang. Namun, gagasan dibuat sebagai reminder untuk kita para pemuda zaman sekarang agar lebih memperhatikan keadaan sekitar khususnya kondisi negara saat ini. 

Kita sebagai pemuda tentunya harus lebih prihatin agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya. Bung Karno pernah berkata, “aku lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini, daripada pemuda kutu buku mementingkan diri sendiri”.

Dari perkataan bung Karno tersebut, secara tersirat sebagai pemuda harus memupuk pola pikir kritis dan kreatif agar dapat menghasilkan sebuah solusi ketika dihadapkan dengan suatu masalah tidak hanya sebatas menghabiskan waktu dengan hal yang tidak ada manfaatnya. Nah, arti dari kalimat daripada pemuda kutu buku mementingkan diri sendiri adalah jika hanya membaca buku namun tidak mau menyebarkan, berbagi, atau melakukan suatu yang bisa bermanfaat sama saja

Tentunya perilaku seperti ini sangat tidak baik untuk terus dipelihara karena akan sangat berdampak buruk untuk Indonesia ke depannya. Parahnya, Negara ini bisa menjadi semakin tertinggal dari bangsa-bangsa yang lain. 

Perilaku seperti menyenangkan diri sendiri , hedonisme, merosotnya nilai moral adalah tindakan yang sangat merugikan baik skala  terkecil hingga skala terbesar. 

Anehnya, banyak dari pemuda zaman sekarang yang tidak sadar  atau bahkan seolah-olah menutup telinga tentang semua hal yang terjadi seperti ini.  Sama saja, kita membuang hasil usaha para pemuda yang dahulu telah bersusah payah berjuang  untuk kepentingan Negara Indonesia tercinta kita ini.

Sebagai generasi pemuda penerus bangsa tentu harus kembali sadar bahwa kita ini harapan bangsa Indonesia, penentu arah bangsa  dimasa yang akan datang nanti. 

Semuanya ini belum terlambat, masih ada kesempatan untuk berbenah. Banyak cara untuk mengatasi permasalahan ini, antara lain yaitu dari kecil sudah ditanamkan pola pikir kritis dari skala kecil contohnya dalam keluarga seperti mencari solusi saat menghadapi masalah, bertanggungjawab, dan disiplin. 

Cara yang lain adalah dengan mengikuti berbagai organisasi-organisasi, karena dengan mengikuti organisasi dapat mengasah kreativitas kita menjadi lebih inovatif, terbiasa berpikir cepat dalam mengatasi masalah, dan melatih jiwa kepemimpinan

Semoga gagasan ini dapat ditandai sebagai pengingat. Karena pemuda merupakan  garda terdepan dalam proses perjuangan, pembaruan, dan pembangunan suatu bangsa. 

Untuk itu generasi pemuda diharapkan mampu  meningkatkan apa yang  telah diwariskan oleh generasi pendahulu dan memiliki semangat pengabdian terhadap masyarakat, bangsa, dan negara. 

Pada penutup tulisan ini saya ingin mengutip salah satu pepatah dari sang proklamator Ir. Soekarno yang berbunyi “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut gunung semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan seluruh dunia”.