3 minggu lalu · 91 view · 3 min baca menit baca · Politik 28350_20014.jpg
Ilustrasi: supplychainbeyond.com

Pemuda, Dobrak Dunia Politik Indonesia!

Pemuda dan politik adalah dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan. Pemuda adalah agen perubahan dalam kehidupan bangsa. 

Politik adalah salah satu bidang terpenting dalam kehidupan tersebut. Sehingga, bangsa Indonesia tidak akan bisa melangkah ke depan tanpa generasi muda yang aktif dalam kancah politik. 

Mengapa? Mohammad Hatta memiliki dua alasan untuk menjelaskan premis ini. Pertama, pemuda itu masih murni jiwanya dan ingin melihat pelaksanaan secara jujur apa-apa yang telah dijanjikan kepada rakyat. Terlihat keinginan generasi muda menginginkan sebuah pemerintahan yang jujur, bersih, dan bertanggung jawab. 

Kedua, pemuda dididik untuk berpikir secara ilmiah. Pendidikan ini membantu pemuda untuk memenuhi keinginan yang pertama. Logika dan dialektika ini menjadi senjata untuk membawa pemerintahan yang ada untuk bertanggung jawab atas kebijakan publik yang ditelurkan. 

Keinginan pemuda to take the governance of their nation into account dengan didasari cara berpikir ilmiah adalah salah satu faktor kunci kemajuan politik suatu negara (Hatta, 2015:452-453). Tanpa keinginan aktif ini, maka bangsa kita tidak akan maju pada tahun 2045. 

Lalu, bagaimana dengan generasi milenial sebagai pemuda masa kini? Ternyata, pemuda-pemuda bangsa ini sedang memainkan politik pasif (Saubani dalam nasional.republika.co.id, 2019). Ketika idealisme mulia bentrok dengan kenyataan kancah politik yang (masih) buruk, millenials ogah terjun ke dalam politik. “Daripada ikut kotor-kotoran, lebih baik diam saja, toh?” 

Ini adalah pertanda bahwa pemuda Indonesia apatis terhadap politik di negaranya sendiri. Sungguh berbahaya? Mengapa? Apatisme adalah bom waktu berdaya ledak hebat bagi perpolitikan Indonesia. 

Apa saja bahaya apatisme politik? Pertama, penguasa bisa bertindak secara sewenang-wenang. Mengapa? Sebab masyarakat, khususnya generasi milenial, tidak peduli dengan apa pun yang dilakukan oleh pemerintah. 


Kedua, hal ini juga dapat menghambat perbaikan kinerja pemerintahan di dalam negeri, karena tindakan apa pun yang diambil tidak memiliki feedback dari rakyat (sosialpolitik.filsafat.ugm.ac.id, 2017). 

Tetapi, tidak ada sekam kalau tidak ada api. Tentu ada penyebab dari apatisme ini. Apa penyebab tersebut? 

Pertama, tingginya tingkat kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang kekuasaan di Indonesia. Hal ini membuat generasi milenial kehilangan kepercayaan terhadap politik sebagai cara memperoleh kekuasaan. 

Kedua, kurangnya upaya sistem politik yang ada untuk menciptakan inklusi politik bagi generasi muda. Ketiadaan inklusi sama saja dengan pemagaran sistem politik terhadap generasi milenial (sosialpolitik.filsafat.ugm.ac.id, 2017). 

Pagar ini harus segera dihancurkan, agar generasi milenial bisa menjadi aktor perubahan dalam perpolitikan Indonesia. Siapa yang menghancurkannya? Tentu saja generasi milenial itu sendiri. Generasi milenil harus menjadi disruptor dalam dunia politik Indonesia! 

Disruptor artinya menjadi generasi yang mendobrak batasan yang ada. Politik Indonesia harus lebih youthful dan inklusif. 

Partisipasi generasi milenial sangat diperlukan untuk mengubah pusat perdebatan dan percaturan politik di Indonesia. Sehingga, dunia politik Indonesia tidak lagi menjadi penghalang, melainkan pendorong kemajuan bangsa Indonesia. 

Mari kita mulai dari pengubahan pusat perdebatan politik. Berdasarkan pengamatan penulis, pusat perdebatan politik Indonesia saat ini bersifat non-substantif. 

Hal utama yang diperdebatkan adalah retorika kosong belaka. Kita lebih berfokus kepada apa yang dikatakan oleh seorang aktor politik, bukan apa yang ia kerjakan dan percaya. Padahal, syarat suatu sistem politik yang maju adalah work record and merit-based judgement on politicians

Tugas partisipasi aktif generasi milenial adalah untuk mengubah pusat ini. Generasi milenial itu sendiri harus melahirkan aktor-aktor politik yang work-oriented, convictionful, and meritful

Memang, sudah ada politisi-politisi milenial seperti Tsamara Amany atau Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, namun jumlahnya masih kurang. Selain itu, generasi milenial juga harus memiliki corong aspirasi politik yang unik dan tersendiri. 

Sehingga, suara dan aspirasi generasi milenial bisa bergaung lebih kencang dalam dunia politik Indonesia; aspirasi yang menekankan transparansi, profesionalitas, serta penegakkan hukum yang lebih kuat di negeri ini. 

Ketika aspirasi itu bergaung, maka langkah untuk mengubah percaturan dunia politik Indonesia pasti lebih mudah. Mengapa? Muncul sebuah sayap baru dalam percaturan politik. 


Keberadaan suara millenials mendobrak batas-batas nasionalis dan religius. Inilah suara untuk perubahan menuju arah yang lebih benar; Sayap Reformis dalam percaturan dunia politik Indonesia. 

Menurut pandangan penulis, sayap reformis millenials harus mendasarkan ideologi politiknya dengan satu premis, “Menjaga Pancasila sebagai ideologi terbuka dengan langkah-langkah reformasi ekonomi, politik, dan sipil yang terpadu.” Langkah-langkah reformasi ini dilakukan untuk mencapai Indonesia maju, yaitu Indonesia yang bebas dan makmur. 

Maka dari itu, sayap reformis ini perlu dibentuk oleh generasi milenial yang aktif dan sadar politik. Supaya dunia politik Indonesia bisa mendorong upaya untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045. 

Bagi para pemuda, ayo disrupt dunia politik Indonesia! Upaya dan kesadaranmu sangat penting untuk memajukan negeri ini!  

Sumber

Hatta, Mohammad. 2015. Mohammad Hatta: Politik, Kebangsaan, dan Ekonomi (1926-1977). Jakarta: Kompas Media Nusantara. 

https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/19/01/21/plo6wf409-generasi-milenial-dinilai-tengah-mainkan-politik-pasif. Diakses pada 2 Februari 2019. 

https://sosialpolitik.filsafat.ugm.ac.id/2017/07/28/fenomena-apatisme-masyarakat-terhadap-politik-di-indonesia/. Diakses pada 2 Februari 2019. 

Artikel Terkait