Mahasiswa
1 minggu lalu · 141 view · 6 min baca · Cerpen 66593_68500.jpg
Tribunnews.com

Pemuda Desa di Kota Gudeg

Pagi itu, mentari belum dewasa, burung-burung bernyanyi ria di atas ranting-ranting pohon. Angin pagi masih menyelimuti tubuh, suara motor, mobil mulai berserakan di jalanan. Ernesto adalah salah satu mahasiswa di Kota Yogyakarta. 

Sebagai seorang pemuda yang berasal dari desa terpencil di timur Indonesia, desa yang belum tersentuh dengan modernisasi dan jauh dari harapan. Betapa bahagia dirinya, Ia menjadi salah satu pemuda desa yang  menyegam pendidikan di Kota Yogyakarta.

Senin kala itu, hari pertama ia menginjakkan kali di halaman kampus. Hari bersejarah dalam hidupnya, pengelaman yang tidak temui di bangku sekolah dulu. Hari pertama mendengar orang-orang berbincang dengan dialek Jawa, Sumatra, Bali, Papua, Sulawesi dan NTT. Yah, kemajemukan dibingkai dengan persaudaraan itu indah.

Pengelaman pertama di lingkungan kampus, entah apa yang harus ia bicarakan dengan teman-teman dari berbagai kota itu. Rasa minder, takut dan keringat halus seperti orang baru selesai olahraga.  Dengan memberanikan diri ia mulai membuka percakapan dengan seorang lelaki yang bertubuh besar, rambut keriting sepertinya orang timur juga.

“Selamat pagi kawan, nama saya Ernesto dan boleh tau siapa namamu?” Ungkap Ernesto.

“Pagi juga bro, na...nama saya Tino,” dengan nama gugup ia menjawab.

“Asal dari mana, tampang ke orang timur?” sambung Ernesto yang mulai memberanikan diri.

“Saya dari Timor Leste, tepatnya di Dili,” jawab Tino

“Wah, kita semua sama. Saya juga dulu lahir di Dili dan tahun 1999 baru pindah ke timor barat (Atambua).” Dengan santai Ernesto mulai menceritakan semuanya.

Perkenalan di hari pertama memulai kuliah sebagai langkah yang mengakrabkan kedua pemuda desa itu. Dengan semangat dan motivasi sebagai orang-orang Desa, kedua pemuda itu mulai mempunyai tekad untuk bergabung dalam organisasi pergerakan belajar melatih mental, karaktek, kepemimpinan, publik speaking, penindasan di desa, penindasan di lingkup perguruan tinggi hingga penindasan yang terjadi di Indonesia.

Di suatu senja, matahari mulai beranjak ke peraduan dan gelap menghampiri. Ernesto masih bersimpul diam di bangku depan kos. Dengan penuh tanya, ia mereflesikan semua pengetahuan yang Ia dapat di organisasi. 

Ia teringat akan materi tentang wajah pendidikan di Indonesia. Pendidikan sebagai wadah untuk mencerdaskan kehidupan generasi penerus, mulai terjerumus dalam genggaman kapitalisme. Wajah pendidikan di Indonesia dikuasai oleh orang-orang ber-Jas mewah yang bermobil avansa. Ya, sebut saja para borjuasi.

Malam semakin dewasa, Ernesto beranjak menuju kamar dan berbaring di atas kasur sembari mendengarkan lagu Iwan Fals yang berjudul “Sore Tugu Pancoran.” Lirik lagu meluapkan emosi Ernesto, wajah ketidakadilan di Indonesia. Anak-anak muda, generasi penerus bertahan hidup dengan beratap langit dan berkasur tanah. 

Kisah si Budi dalam lirik lagu, di bawah langit yang menangis, Budi mengais rejeki, dingin membungkusi tubuh mungilnya ia menjajak koran di lampu merah perkotaan untuk para borjuasi, konglomerat juga para tikus berdasi. Alunan musik Iwan Fals semakin membakar emosi Ernesto. Suara jangkrik, tokek sebagai teman malam dan lagu terus berputar hingga ia terkapar ditengah kesenduan malam..

Di pagi hari, matahari belum memerah. Ernesto sudah siap berangkat ke kampus, ia bersemangat, sebagai seorang pemuda desa yang tidak mau kalah bersaing dengan orang-orang kota. Jumat pagi itu, di halaman kampus Ernesto mulai melirik tempat-tempat kantin di sekitarnya. 

Ia teringat pada sebuah buku yang telah dilahap habis seminggu kemarin. Kantin-kantin, warung-warung kopi berjejeran di samping kampus, percepatan modal ditempatkan depan mahasiswa. Yah, tempat-tempat baca (perpustakaan) harus merangkak ke atas lantai 5.

Sembari melihat lingkungan kampus, Tino menghampiri dan melambaikan tangan di dekat matanya.

He! ko pikir apa Ernesto?” ungkap Tino.

Ah, ko duduk baru sa cerita,” jawab Ernesto.

“Ya, bagaimana, apa ada?” sambung Tino.

Ko tau apa, dari segi bangun ini gedung mengarah pada perputaran modal dan keuntungan para borjuasi, kantin-kantin berjejeran di halaman kampus, coba ko cari buku untuk baca, perpustakaan di lantai 5, bro.”

Secangkir kopi kapal api dan sebungkus rokok surya yang menemani, kedua sahabat ini menyeruput kopi, menyedot rokok sembari mengonani nalar krtis tentang kehidupan kampus. Menelisik permainan borjuasi menguasi lembaga Universitas, berbagai kebijakan yang dikeluarkan untuk membungkam suara-suara kritis dari mahasiswa serta biaya kuliah yang semakin meningkat tanpa transparansi. 

Diskusi semakin hangat, kedua pemuda desa itu bertekad untuk melakukan agitasi, propaganda kepada teman-teman untuk menyadarkan akan ketertindasan yang dialami.

Waktu menunjukkan pukul 09.00, akhirinya mereka memutuskan menuju kelas untuk mengikuti mata kuliah Ekonomi Politik Internasional. Melewati lorong-lorong kelas, suasana hening tanpa suara rupanya minggu terakhir untuk menghadapi Ujian Akhir Semester. 

Para pelajar diam membisu mengikuti kuis yang diberikan dosen sebagai kisi-kisi untuk ujian nanti. Memasuki ruangan A.310, kedua sahabat ini mengucapkan salam kepada Dosen dan teman-teman semua yang telah memulai pelajaran.

Langsung menuju kursi paling belakang, mendengarkan penjelasan Dosen. Hari itu adalah pertemuan terakhir dengan materi kuliah Teori Marxisme.

Dosen muda yang telah ada dalam ruangan itu bernama Fatlimah, senyum manis bibir tipis keturunan melayu mulai  menebarkan pesona untuk semua mahasiswa. Dengan nada halus, ia menjelaskan teori marxisme sebagai salah satu teori yang mengkritisi pandangan liberalisme. 

Karl Marx sebagai penggagas teori marxis menelisik adanya dominasi kelas, eksploitasi dari borjuis terhadap proletar. Dengan nada lugas, panjang lebar menjelaskan kepada para mahasiswa, asumsi teori, pandangan menganalisis masalah serta contoh yang terjadi dalam lingkungan sosial.

Seusai mengajar, dosen itu menguji pemahaman mahasiswa akan materi yang baru saja dilahap, Dosen cantik itu memberikan pertanyaan mahasiswa terkait contoh kasus dari teori marxis.

“Ayo, yang udah ngerti silakan jelasin teori marxis beserta kasusnya?” tanya dosen Fatlimah.

“Saya, Ibu.” Ernesto tunjuk jari.

“Yah, silakan,” jawab dosen Fatlimah

“Sesuai yang saya ketahui, Karl Marx melihat dalam sistem produksi, adanya dominasi kelas borjuis terhadap proletar, kelas borjuis sebagai pemilik modal yang mempunyai alat produksi sedangkan proletar hanya menjual tenaga untuk memperoleh sesuap nasi demi menyambung hidup. 

Contohnya: Lembaga Universitas sekarang, pemilik lembaga adalah borjuis yang mempunyai modal dan para dosen, karyawan dan semua pengawai adalah proletar yang bekerja diatur oleh sang berjuasi.”

Dengan wajah memerah, dosen itu tidak menyanggah jawaban dari Ernesto. Diam, tersipu mungkin apa yang terlintas dibenak sang dosen. Seusai kuliah, para mahasiswa beranjak menuju kantin kampus yang berjejeran di lantar dasar, mengisi bangku-bangku yang bergelatakan untuk melanjutkan diskusi teori marxisme. 

Para pemuda itu terus mengasah nalar kritis, teori marxis yang baru saja dipelajari dijadikan pisau untuk membedah masalah sosial dan sudut-sudut kampus, warung-warung kopi di pinggiran jalan sebagai tempat untuk merawat akal.

Hari demi hari, kedua pemuda itu dengan tekad dan semangat untuk membangun kesadaran; agitasi, propaganda terus digelorakan. Semangat untuk membangun daerah yang terus terlintas dalam benak kedua pemuda itu, sebagai anak desa yang biasa disebut ‘kampungan’ oleh anak kota, melahirkan tekad suatu saat mereka kembali untuk mengambil mengubah wajar daerahnya dari cibiran sinis orang-orang kota.

Malam itu, Tino dan Ernesto memutuskan untuk tidak menjajaki jalanan seperti malam minggu biasanya. Kedua lelaki itu bersepakat untuk berdiam diri di kos. Sebotong sopi, sebungkus rokok surya 12 yang menemani malam menyusuri lorong-lorong cinta. 

Kembali teringat akan wajah pendidikan di Indonesia, anak-anak muda yang tidak mengeyam pendidikan, putus sekolah karena biaya mahal, para generasi desa dengan kaki beralas tanah menyusuri jalan-jalan menuju sekolah.

Sebotol sopi telah habis, asap-asap rokok bertaburan di dalam kamar, jarum dinding menunjukkan pukul 23.45 WIB. Kedua pemuda desa itu, kembali mengulas dinamika kampus. Pola pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa diam membisu, tidak seperti yang mereka pelajari lewat buku-buku mengenai mahasiswa zaman dulu. Kehidupan kampus tidak transparan, birokrasi kampus semakin tertutup dan mahasiswa sulit untuk mengkritik kebijakan kampus.

Kedua pemuda itu, terus bertekad untuk melakukan penyadaran serta membakar semangat juang para mahasiswa yang biasa dikenal dengan agent of change. Bara api yang tak sulut padam, kedua lelaki itu  terus menyelipkan kondisi ketertindasan di setiap pembahasan ringan di sudut-sudut kampus, warung kantin bersama teman-teman hingga di kos masing-masing. 

Dengan sistem yang membungkam, mereka memanfaatkan sosial media sebagai tempat untuk menuangkan aspirasi; opini di media online, menulis dirublik mading kampus dan terus melakukan penyadaran untuk memenangkan perjuangan menuju kemerdekaan mahasiswa di lingkup perguruan tinggi.

“Mahasiswa, punggawa bangsa ini, akankah kau terus bungkam. Kau pejuang merebut demokrasi Indonesia. Sejarah telah digoreskan mahasiswa pejuang merobohkan tembok orde baru hingga mengenal reformasi. Demokrasi yang penuh kebebasan telah kau gapai, kau terus dibungkam, dipermainkan akankah kau menjaga marwah dari mahasiswa?” Ernesto berteriak dengan geram.

Artikel Terkait