Mahasiswa
1 tahun lalu · 40 view · 4 menit baca · Lainnya 91506_62437.jpg
www.kardyfebrian.wordpress.com

Pemuda dan Tanggung Jawabnya

Sosial

Jika kita bertanya kepada diri sendiri kenapa hidup ini berada dalam keterpurukan? Maka jawaban yang ada di benak kita bermacam-macam. 

Semua itu tergantung latar belakang dan kemampuan masing-masing dalam menyikapi masalah kehidupan. 

Setiap orang hendaknya berpikir positif agar energi yang dihasilkan berbuah sesuatu yang baik. Jika seseorang berpikiran negatif, maka setiap tindakannya akan berbuah tidak baik.

Saya merasa terpanggil untuk menulis ini ketika melihat realitas pemuda yang semakin menunjukkan kemunduran dan keterbelakangan. Banyak di antara mereka yang tidak mampu mengimplementasikan ilmu yang mereka dapat di sekolah. 

Padahal proses menuntut ilmu di sekolah saja hampir 12 tahun lebih, belum untuk program S1, pasca sarjana, doktoral. Di daerah tertinggal rata-rata pendidikan hanya sampai tingkat SLTA. 

Biaya pendidikan yang cukup mahal juga faktor lingkungan yang terkadang kurang peduli menjadi alasannya.

Realitas yang tidak bisa kita pungkiri, yaitu meskipun banyak masyarakat yang tidak mengamalkan ilmu yang mereka pelajari di sekolah. 

Mungkin karena beberapa faktor, antara lain kurangnya kesungguhan saat belajar, guru yang tidak jelas saat mengajar atau kapasitas kecerdasan yang memungkinkan pelajaran sulit diterima pada saat mengikuti proses belajar mengajar. 

Ironi ini membuat sebagian masyarakat merasa percuma menyekolahkan anak-anak mereka yang seharusnya memberkan kebanggaan terhadap keluarga, akan tetapi justru sebaliknya. 

Tak ada yang patut dipersalahkan. Lebih baik kita memperbaiki generasi kita agar mempunyai daya saing di masa depan.

Pemuda intelektual adalah para pemuda yang memiliki kecerdasan memadai untuk berperan di tengah masyarakat. Menurut Gunarsa, 1991, intelektual adalah suatu kumpulan seseorang untuk memperoleh imu pengetahuan dan mengamalkannya dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah masalah yang timbul. 

Lalu bagaimana bila sebagai kaum intelektual yang mampu mendapatkan ilmu namun tidak dapat mengamalkannya?

Pemuda Sebagai Kaum Intelektual

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa kemerdekaan diraih oleh semangat pemuda yang berpikir. Pemuda semestinya menjadi kaum intelektual yang selalu ada dan bisa memberikan jalan keluar menyelesaikan persoalan-persoalan. 

Presiden Republik Indonesia Sukarno pernah berkata, “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia.”. Ini bukan berarti semua pemuda bisa menjadi referensi perubahan. 

Hanya pemuda pilihan yang dapat mengguncang dunia seperti yang dikatakan oleh Presiden Soekarno. Intelektualitas menjadi faktor penting yang harus dimiliki pemuda sebagai agen perubahan bangsa dan negara.

Namun belakangan ini banyak pemuda tidak lagi menjadi superhero seperti dulu. Jangan dulu memikirkan mempertahankan bangsa dan harga diri negara. 

Pikirkan dahulu krisis moral yang melanda pemuda kita. Pemerkosaan, perampokan, premanisme dan tindakan tak bermoral lainnya kerap dilakukan oleh sebagian generasi muda. 

Walaupun demikian pemuda tetap menjadi referensi serta tulang punggung bangsa dan negara. Keberadaannya tetap diperhitungkan dalam setiap kegiatan yang ada.

Penjajahan dalam bentuk lain sedang kita alami di era globalisasi ini. Banyak tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. 

Pemerintah dalam mencari tenaga kerja yang handal lebih percaya kepada pihak asing daripa dan masyarakat pribumi. Ha ini akhirnya berimbas pada masalah social, seperti pengangguran. 

Cepat atau lambat jika masalah ini terus dibiarkan akan menjadi kesenjangan yang panjang.

Realita ini hanya disikapi oleh segelintir pemuda yang merasa harga diri bangsa telah diinjak-injak. Namun sebagian besar yang lainnya terkesan tidak mau tahu dengan apa yang terjadi di lingkungannya. 

Hal ini menunjukan bahwa ada keterpurukan atas intelektualitas pemuda saat ini.

Menanggulangi Keterpurukan

Karena masalah kita adalah keterpurukan intelektualitas pemuda, maka hal ini harus ditanggulangi sejak dini. Mulai dari tingkat dasar sampai dengan tingkat atas generasi kita harus dibekali dengan ilmu yang bermanfaat. 

Jika ilmu yang bermanfaat telah disampaikan, tetapi dalam prosesnya tidak menghasilkan peserta didik yang berkualitas, maka bisa jadi ada faktor tersembunyi yang menyebabkan hal tersebut.

Imam Syafi’I pernah mengatakan bahwa seseorang tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara. Enam hal tersebut yang pertama cerdas, seseorang harus cerdas dalam melakukan proses mencari ilmu. 

Cerdas yang dimaksud adalah mampu membedakan mana yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, yang baik dan yang buruk, yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan.

Kedua tamak, artinya dalam mencari ilmu seseorang harus bernafsu, seperti makan saat lapar tiba, menikmati dan selalu tak sabar ingin melahap makanan. 

Ketiga ijtihad (sungguh-sungguh), keempat dirham (biaya), kelima bergaul dengan guru, dalam hal ini seorang murid jika ilmunya ingin bermanfaat maka harus bersikap baik kepada gurunya. Keenam dalam mencari ilmu harus dengan waktu yang sangat panjang.

Dari uraian di atas saya ingin membahas poin nomor 5, yaitu hormat kepada guru. Dijelaskan pula di atas bahwa seseorang tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara , salah satunya hormat atau bergaul baik dengan guru. 

Mari kita renungkan bersama merenungkan apakah ilmu yang kita dapatkan dapat kita terima jikan bukan karena keikhlasan sang guru yang memberikannya? Percuma jika kita belajar namun kita tidak pernah hormat kepada guru kita. 

Sebuah pelajaran berharga bagi kita, kenapa terkadang ilmu yang diterima tidak bermanfaat. Hendaknya kita mengingat kembali apakah kita pernah melakukan tindakan yang menyakiti guru kita, sehingga ilmu yang kita dapatkan tak bisa menjadi manfaat.

Jika dikaitkan dengan kondisi moral anak bangsa saat ini, sikap hormat seorang murid terhadap gurunya sangat memprihatinkan. 

Banyak murid yang tidak menghormati guru, padahal mereka tak sadar akibat yang akan diterimanya di masa depan. Mungkin saja ini yang menyebabkan bangsa ini belum mempunyai generasi muda yang handal.

Merenung Sejenak

Hilangnya sikap pemuda sebagai kaum perubahan harus menyadari sebab akibat yang terjadi atas kondisi moral di negeri ini. Sikap hormat terhadap guru memang sudah seharusnya dilakukan, karena guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. 

Ilmu yang dapat membuat seseorang mempunyai derajat yang tinggi dan piawai dalam melakukan perubahan.

Perubahan harus segera dimulai semua kalangan terutama kalangan muda. Keterpurukan intelektualitas bisa ditanggulangi jika kesadaran berhasil dibangun di tengah masyarakat luas. 

Memang sulit mengajak seseorang melakukan kebaikan. Namun lebih sulit membiarkan keterpurukan yang akan berdampak pada hilangnya harapan bangsa ini.

Para pemuda harus bangkit, sejarah pernah mencatat berbagai perjuangan pemuda sebagai insan intelektual. Pemuda adalah tulang punggung bangsa, penerus bangsa, calon pemimpin bangsa di hari esok. 

Jika keterpurukan pemuda dibiarkan maka agen perubahan bangsa ini akan musnah. Sebuah harapan besar berada di tangan pemuda, dialah yang menentukan akan dibawa ke mana bangsa ini.

Artikel Terkait