Indonesia Emas 2045? Pernyataan ini merupakan sebuah prediksi yang digadang-gadang akan panen sumber daya manusia, terlihat dari bonus demografi yang sekarang sedang kita banggakan. Memang tak sedikit yang mengutarakan pernyataan tersebut, baik akademisi, ahli ekonomi maupun pengamat sosial.

Tak jauh dari harapan emas, masyarakat perlu menekankan fokus pada aspek sebuah pendidikan sebagai lembaga pemerintah guna Mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

Banyak yang memaknai pendidikan merupakan sarana seseorang untuk melakukan mobilitas vertikal. Mengapa demikian? Bagi kaum menengah ke bawah pendidikan adalah sarana naik tingkat untuk terdidik di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan harus mampu menyentuh dan mencerdaskan anak bangsa dari semua kalangan baik di kota-kota megapolitan seperti Surabaya, metropolitan seperti Jakarta dan juga Papua, NTT dan daerah di seluruh Nusantara.

Di dalam dunia pendidikan harus mampu memberikan khazanah berpikir dan bersikap bagi setiap siswa, terlebih mengenai sikap jujur, banyak dikalangan pejabat kita yang bergelar prestisius namun tak mencerminkan sikap jujur, terbukti dari banyak kasus korupsi dan gratifikasi yang menimpa kaum terpelajar dikalangan institusi akademis.

Korupsi adalah sebuah aib negara yang sangat memalukan dan selalu terulang disetiap generasi rezime, dalam penelitian World Economic Forum (WEF) menempatkan Indonesia pada ranking ke-44 dari 139 negara. Sedangkan Indonesia jelas-jelas mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah.

Khususnya, para intelektual muda, pengaku akademis yang idealis. Para pejuang ilmu demi menuju manusia paripurna yang berbudi. Embel-embel akademis disematkan oleh struktur kemasyarakatan, Selayaknyadiajarkan kritis terhadap praktik penindasan dan dilatih kepekaan dengan masyarakat di sekitar. Para pejuang ilmu harusnya tak takut.

Pada kenyataannya sepertinya birokrasi yang basi sudah membudaya di Indonesia, dalam kaitannya dengan upaya pemerintah “mendidik” itupun penuh dengan “hidden will” (keinginan tersembunyi) dari para elite penguasa dan elite pemilik modal.

Banyak disinyalir dan terbukti dari apa yang memang menjadi kepentingannya mereka, yaitu keuntungan diri sendiri,  manusia yang dianggap tidak punya kuasa pun ditindas dan dieksploitir potensinya guna mempertahankan status quonya, yang tidak seragam dibungkam.

Kaum terpelajar yang kritis tak lagi bebas, kebebasan terenggut oleh budaya massa, budayanya para oknum yang mendominasi, kami “diperkosa” secara ideologis, seolah kami ini tidak berbudaya dari lahir. Perkosaan itupun merambah di dunia kami, dunia pendidikan, dunianya kumpulan orang-orang rasional, yang maju membela ketertindasan.

Dunia pendidikan yang syarat akan kepentingan, alih-alih karena keinginan manusia cenderung untuk mempertahankan eksistensinya, tak peduli dengan cara memperolehnya. Upaya pelanggengan eksistensinya itulah yang menjadi persoalan, ketentuan akan sesama manusia ada yang harus dikorbankan itu pun dilupakan.

Kehidupan sungguh kejam bagi para minoritas yang disesatkan oleh budaya dominan yang dimediasi oleh media dominan, selanjutnya digulirkan ke khalayak dengan bahasa yang syarat dengan simbol-simbol pembelaan kepada koalisi dan penjelek-jelekkan bagi kaum lawan.

Dunia pendidikan sudah mengalami kemunduran moral dan budi pekerti, karena di dalam institusi pendidikan tidak lagi memproduksi pengetahuan namun terus menerus mereproduksi pengetahuan kaum dominan. Banyak pelaku didunia pendidikan baik kalangan Guru, Dosen dan pegawai lain mempunyai rasa krirtis, namun mereka terbelenggu sistem yang mengancam karir mereka, transformasi birokrasi harus terus dilakukan.

Sistem yang merongrong leluasanya para oknum penguasa despotis, Idealisme dan tingkat religiusitas tidak lagi menjadi dogma bagi para orang-orang rasional. Pakem dari budaya yang sakral maupun profan dibolak-balik demi kepentingan kekuasaan. Anak muda harus sadar, sadar akan diri dan kekuatan mudanya dengan berani membentengi diri dari rasa menindas.

Anak muda harus lantang menjadi garda depannya orang-orang tertindas. Bukan justru menjadi penerus budaya kolonial. Kaum intelektual telah dibungkam secara ideologis, diredam semangatnya, dipaksa kembali pada masa lalu tentang “budaya bisu”. Perampasan kekritisannya kaum intelektual adalah merupakan perbutan hak asasi dari hakikat pendidikan yang sesungguhnya.

Kita harus merebut kembali khittah pendidikan, yang pada dasarnya mewaraskan bukan mengajarkan keberingasan akan hasrat kuasa, pendidikan harus mampu mengedepankan hati nurani, dan kearifan sebuah akal budi, agar tak dipenuhi dengan oknum pengkhianat pendidikan.

Belajar merupakan cara manusia menggunakan kenikmatan yang dikaruniakan Tuhan yaitu berupa akal untuk berpikir, belajar adalah kebutuhan bagi siapa yang mengaku kaum intelektual yang terdidik. Korupsi dan melakukan gratifikasi bukanlah sikap terdidik dari manusia yang pada hakikatnya belajar kemudian “mengerti”.

Sejarah negara Indonesia memang adalah “budaya lisan”, generasi emas harus mengembalikan hakikat dari kebutuhan pendidikan dan filsafat mengenai pendidikan. Berpikir dan belajar adalah kompetensi yang harus dimiliki dari manusia Indonesia.

Budaya tulis adalah budaya berkarya tulis, diawali dengan kegemaran membaca dan mensintagsis lalu melakukan analisis kritis beserta pembaruan yang ditawarkan. Generasi Indonesia kedepan harus mampu berkompetisi dengan kompetensi yang dipunya, berkompetisi disini bukan melulu tentang global yang digadang-gadang penguasa namun, generasi yang mampu mengoptimalkan segala potensi kecerdasannya biasa disebut Multiple Intellegences.

Dengan kata lain, sebenarnya Indonesia mampu untuk maju dan berkembang dibandingkan negara lain, hal yang paling sustansional adalah lewat pendidikan dalam rangka melakukan optimalisasi sumber daya manusia, apalah guna  luasnya alam dan laut apabila sumber daya Manusianya (SDA) tak bijak dalam merawat dan memanfaatkannya.

Pendidikan merupakan hak dari setiap anak Bangsa maka penting bagi kalangan manapun termasuk orang tua untuk memberikan pendidikan pertama bagi anaknya, pendidikan mengenai budi pekerti, kejujuran, kearifan yang kelak akan bedampak pada generasi yang mampu survive dengan kehidupan sosialnya, yang berwatak jujur demi tercapainya Indonesia Emas 2045.

Dewasa ini, persoalan pendidikan sebagai salah satu wujud pengejawentahan dari pembukaan undang-undang tentang mencerdaskan kehidupan Bangsa adalah hak dan kewajiban yang diterima sebagai warga negara, persoalannya bukan hanya tentang sumber daya manusia maupun sumber daya alam namun ada persoalan lain yang amat urgen dan pelik yaitu “Moral”.

Moral generasi emas adalah moral autentik budaya Ibu, budaya luhur, setiap keunikan daerah. Moral adalah kompetensi sebagai seorang akademisi dan seorang ilmuan dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berkomunikasi dengan baik, bersikap emansipatoris, melakukan dialogis.

Pendidikan di Indonesia harus dikembalikan kepada falsafah pendidikan, falsafah dan hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Generasi emas lahir karena terdidik dan tertampung potensinya oleh Negara. Pendidikan adalah arena pengadaban moral manusia, sehingga pendidikan bukan lagi melahirkan embrio-embrio pembiadaban namun pengadaban.

Sikap kritis adalah prasyarat dalam mencapai bahkan memaknai qittoh pendidikan di negara kita, dimulai dari aktif bertanya, aktif diskusi, aktif membaca dan aktif menulis, ini toh merupakan budaya akademis. Bagi kaum akademis, berbaca ria dan berkoar ria itupun belum cukup, antara literatur stok pengetahuan dari bacaan dan diskusi harus dirupakan ke dalam arti berkarya yaitu menjadi menulis.

Sikap kritis adalah upaya memerdekakan manusia, membebaskannya dari belenggu dominasi dan subyektivitas struktur. Sikap kritis adalah upaya praksis emansipatoris yang mampu hadir bersama semua stakeholder dimasyarakat. Generasi emas adalah generasi yang mampu diterima didunia sosialnya, yang mampu menghadirkan pembaharuan-pembaharuan cerdas untuk masyarakat.

Pendidikan adalah proses belajar untuk memahami dan menemukan kompetensi, kompetensi adalah prasyarat untuk merdeka. Merdeka di kehidupan seperti sekarang ini tentu multitafsir. Banyak yang memaknai merdeka itu mampu berdaya dengan sumber ekonomi.

Ada yang berpendapat bahwa merdeka adalah kebebasan tanpa ditindas, merdeka adalah seni sebuah kehidupan bercampur perlawanan, ada juga yang bilang kalau merdeka itu berarti sebuah perebutan kembali hak sebagai manusia agar lebih manusiawi.

Bagi Freire, penindasan apa pun nama dan alasannya, adalah tidak manusiawi, sesuatu yang menafikan harkat kemanusiaan. Secara dialektis, suatu kenyataan tidak mesti menjadi suatu keharusan. Jika kenyataan menyimpang dari keharusan, maka menjadi tugas manusia untuk mengubahnya sesuai dengan apa yang seharusnya. Bagi Freire fitrah manusia sejati adalah sebagai subjek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi manusia sadar. (Freire, 2007).

Melalui pendidikan kita mampu mencetak jiwa kepemimpinan dengan kegiatan organisasi intrasekolah, pelatihan leadership atau yang lainnya. Pendidikan baik birokrasi maupun Guru dan Siswa harus diajak untuk optimis dalam menjalankan proses pembelajaran, agar proses-proses internalisasi dari nilai-nilai budaya luhur menjadi hal yang secara sadar dilakukan oleh siswa kelak ketika menjadi manusia-manusia dewasa yang syarat akan kepentingan di dunia sosial.

Semangat untuk selalu terpelajar dan terdidik harus terus dipupuk, agar Sumber daya manusia Indonesia lebih produktif dalam memahami potensi kecerdasannya, ada kalanya Guru menjadi murid, dan murid menjadi Guru. Khazanah berpikir kritis harus terus ditanamkan kepada anak didik, pendidikan dimulai dari keluarga dan masyarakat. Anak-anak Indonesia layak mendapatkan hak memperoleh pendidikan, anak-anak Indonesia bukanlah percobaan sistem.

Teori kritis menyadari kritisisme yang menolak status quo, dan menjadikan nilai kritis untuk mengkritisi diri, teori kritis bersifat transformatif dan antipembekuan pandangannya menjadi “ideologi” (Akhyar:2015).

Segera sadar akan kehadiran kita sebagai manusia dan memaknai apa dan bagaimana pendidikan selama ini apakah mewaraskan, membebaskan atau justru membelenggu kita untuk ikut-ikutan melanggengkan status quo dan keberingasan hasrat untuk berkuasa?

Tanyakan padi hati nuranimu, berani menggunakan bahasa kritik, harus pula menawarkan bahasa pembaruan (alternative). Tanyakan mudamu dengan sadar! Benarkah kita muda atau hanya usia yang muda namun kesadaran telah menua?

Indonesia harus segera berbenah mengenai pendidikan karena pendidikan ialah hak setiap warga negara untuk mendapatkannya. Pendidikan akan budi pekerti yang luhur akan menghasilkan calon-calon pemimpin masa depan yang tak suka masa lalu yang palsu, anak muda Indonesia akan menawarkan masa depan dengan jiwa kepemimpinan yang arif dan jujur.

Pendidikan adalah wadah bagi anak Bangsa menyadari dan menemukan kompetensinya untuk berkompetisi dengan sportif untuk Indonesia Emas, dengan terus memperjuangkan budaya baca, budaya tulis dan terus berkarya di bidang kompetensinya masing-masing.