Sebagai agent of change, pemuda memiliki peranan besar dalam membawa perubahan. Kini, pemuda memiliki tantangan-tantangan baru dalam beradaptasi dengan globalisasi seperti ini. Permuda seringkali dituntut untuk membuat kemajuan negara seolah-olah diharuskan berkreasi dalam berbagai bidang.

Globalisasi yang terus meningkat kini dibarengi dengan teknologi yang perkembangannya sangat pesat. Kecanggihan yang ditawarkan oleh teknologi di era ini telah mendorong pemuda untuk lebih berinovasi dan berkontribusi di bidang teknologi. 

Dengan adanya kecanggihan teknologi, pemuda lebih mudah untuk berekspresi melalui sosial media. Contohnya, banyak bisnis online yang tercipta di sosial media. Hal ini adalah sebuah bukti bahwa banyak pemuda yang sudah berpartisipasi dalam berinovasi dalam kewirausahaan. 

Bersama dengan itu, banyak pula pemuda yang ikut berkontribusi dalam memajukan negara dengan membuka lapangan kerja dengan cara merektrut dan mengembangkan sumber daya manusia, mulai dari mengembangkan keterampilan, pengetahuan, dan organisasi.

Konsep tersebut sudah terlihat dengan jelas bahwa kecangihan teknologi dan sosial media bisa membawa manfaat bagi banyak orang. Sayangnya, tidak semua orang menyadari akan media sosial bisa menjadi wadah berbagi kebaikan. 

Bayangkakan ketika pemuda memiliki semangat dalam berkontribusi dengan inovasi dan kreativitas yang mereka miliki. Ternyata, adanya sosial media telah memudahkan anak muda untuk meraih keinginan-keinginannya. 

Namun kondisi berbicara lain, pemuda saat ini memiliki semakin banyak tantangan di era digital, dengan masuknya berbagai informasi yang ada, justru tidak terfilternya informasi sehingga menyebabkan berperilaku yang cederung praktis. Seperti membeli barang yang dengan cara yang mudah. 

Hal tersebut nantinya bisa menjadi kebiasaan karena dilakukan dengan berulah-ulang. Keadaaan tersebut nantinya akan menghasilkan pemuda dengan gaya hidup yang cenderung komsumtif. Dampak dari gaya hidup konsumtif yaitu pemborosan biaya. 

Perilaku konsumtif ini bisa menyebabkan pemuda mengalami kecemasan dikarnakan adanya sebuah rasa untuk membeli barang yang diinginkannya, tetapi kegiatan pembelian tidak ditunjang dengan biaya yang memadai sehingga timbulnya rasa cemas karena keinginannya tidak terpenuhi. 

Peristiwa ini membuat pemuda menjadi individualis, dengan kebebasan melanjutkan percapaian atas pemenuhan kehendak pribadi dan tidak sempat memikirkan kepentingan orang lain.  Hingga parahnya lagi kurangnya rasa bersosialisasi.

Coffee shop dan budaya konsumtif

Tidak terlepas dari pemuda, kopi merupakan merupakan budaya minuman pemuda pada era digital seperti ini  yang dimana biasanya pemuda meminum kopi di coffee shop guna mengisi waktu senggang dengan menikmati seduhan kopi.

Tidak haya menunjang kebutuhan untuk mengatasi rasa ngantuk karena adanya kafein didalam kopi, serta coffee shop juga menjadi wadah untuk mengisi waktu luang guna bersosialisasi atau nongkrong dengan teman. 

Tapi kini telah bergeser fungsinya karena adanya era digitalisasi, coffee shop bukan lagi untuk bersosial tapi adanya suatu tindakan pemuda dengan mengupdate status di sosial media entah berupa penilaian rasa dari minuman kopi tersebut,  pelayanan yang ditawarkan di coffee shop tersebut. 

Hal tersebut merupakan tindakan yang wajar dilakukan pemuda pada era digital. Namun jika diteliti lebih mendalam tindakan tersebut adalah sebuah pengungkapan diri, di mana status yang telah diupdate di sosial media mempuyai alasan yaitu ingin dilihat guna mendapatkan apresiasi dari orang lain. 

Seakan akan sebuah tuntutan validasi demi mendapatkan eksistensi popularitas. Lebih jauh lagi ketika keberadaan pemilik modal memasarkan coffee shop dengan mengikuti gaya hidup modernisasi pemuda yang mewah dan megah. 

Tidak hanya bedasarkan produk yang ditawarkan, tapi dari berkegiatan di dalamnya juga ikut mempengaruhi proses konsumsi. Peristiwa terkait dengan konsumsi ini adalah sebagai pembentuk konsumerisme cara hidup.

Menggambarkan secara implusif dimensi konsumerisme sebagai kebutuhan gaya hidup. Baik sadar maupun tidak sadar pemuda akan mengalami kebangkrutan kebudayaan yang di mana suatu keterputusan antara daya kebudayaan setempat dengan sistim kebudayaan yang disebabkan oleh individualisasi kebudayaan. 

Pemuda sebagai penerima kebudayaan yang menjadi sasaran dari pengaruh budaya yang destruktif. Dalam hal ini, pemuda sebagai individu memiliki sikap, tingkah laku dan nilai nilai yang dibagikan individu lain dan mempengaruhinya. 

Pemuda sebagai pengosumsi dari produk coffee shop mengalami pergeseran logika konsumsi yaitu dari logika kebutuhan menjadi logika hasrat.  Secara sederhana pemuda sebagai subjektif yang menyadari keberadaannya sesuatu yang berlawanan dengan posisi objek yakni modernisasi coffee shop. 

Proses ini mengakibatkan pembentukkan sistem kebudayaan, yang pada dasarnya budaya minum kopi di Indonesia sebagai sarana untuk bersosialisasi ataupun alasan memberdayakan petani, kini terabaikan bahkan bisa pudar, hingga mengalami kebangkrutan dan tergantikan dengan pemeuhan akan gaya hidup.

Produk komoditi yang telah pemuda konsumsi berubah menjadi objek yang akan memberikan identitas bagi yang pemuda. Tidak dipungkiri, semua ini merupakan bentuk dari produk kapitalisme yang menyerang negeri ini dan sudah masuk ke dalam ruang hidup, sehingga melahirkan budaya konsumtif.

Dalam kemajuan era digital seperti ini tidak tergerus hakikatnya sebagai manusia, bersosialsiasi serta berdinamika. Keadaan seperti ini akan terjadi seiring berjalanya waktu selama era digitalisasi tak dapat terbendung dan apabila pemuda yang tidak bisa membentengi kebudayaan setempat yang kuat. 

Untuk itu keadaan seperti itu bisa dijadikan refleksi bagi keberadaan pemuda sebagai agent of change untuk melakukan manajemen tindakan dengan bijaksana, dengan cara memanfaatkan teknologi secara efektif. 

Pemuda yang merupakan bagian dari masyarakat indonesia harus melakukan suatu tidakan representative dan preventif, supaya semaksimal mungkin dapat mencegah pengaruh negatif pada terhadap generasi penerus.

Terlebih pemuda yang merupakan generasi emas (gold generation) yang nantinya akan menjadi penerus perjuangan dalam mewujudkan negara Indonesia menjadi negara maju dan makmur di masa yang akan datang.