Mahasiswa
2 tahun lalu · 187 view · 4 min baca menit baca · Budaya puisi-anak-bangsa-450x298.jpg
Foto: Google

Pemuda Anak Zaman

Pemuda saat ini adalah pemimpin di masa depan.

Seutas kalimat di atas sekiranya ingin berbicara kepada kita bahwa sungguh baik-buruknya nasib suatu bangsa tergantung dari kualitas pemuda yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Jika pemuda berkualitas baik, maka masa depan yang cerah tentu merupakan konsekuensi logis yang harus didapat oleh bangsa tersebut, dan begitu pun sebaliknya.

Tinta sejarah tentang perjalanan suatu bangsa selalu menggoreskan cerita tentang kobar semangat pemuda yang berperan sebagai aktor utama bagi setiap gerak perubahan. Keaktorannya tersebut selalu dihiasi dengan cerita yang sangat heroik dan dramatis, tentu melebihi cerita dalam drama FTV ataupun drama Korea.

Idealisme dan independensi merupakan dua karakter utama, sehingga dalam alur ceritanya tak jarang pemuda menjadi sosok yang konyol, keras kepala, nekad, dan bahkan aksinya sampai membahayakan diri sendiri.

Sebutlah Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Syafruddin, dan sederet nama lainnya, mereka adalah pemuda anak zaman yang atas dasar kekonyolan dan kenekatannya, Indonesia terlepas dari beleggu thagut dan berhasil menjadi satu bangsa yang merdeka. 

Pemuda adalah anak zaman, ia selalu bertanya tentang siapa dirinya, masalah apa yang sedang terjadi, bagaimana sikap dan tindakan yang harus dilakukan, serta selalu mengandaikan realitas ideal seperti apa yang kelak harus terwujud. Di situlah problem utama prihal satu tanya; mengapa pemuda harus ada?

Problem Eksistensi

Sebelum melangkah lebih jauh ke arah aksi heroik yang konyol dan nekat itu, langkah pertama yang harus dilakukan oleh pemuda saat ini adalah bertanya tentang siapa dirinya dan untuk apa ia hadir di tengah-tengan masyarakat ini. Apakah kehadirannya saat ini dibutuhkan, atau malah sebaliknya; terabai, sama seperti rindu yang tak sempat tersampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. #eaa

Pemuda Jaman bukanlah Sinterklas atau Jamaah Tabligh yang datang secara tiba-tiba ke suatu tempat, melainkan ia yang tersadar dan tercerahkan jiwanya sebelum ia menjalankan skenario takdir tentang perjalanan suatu bangsa demi satu perubahan. Tanpa kesadaran tentang dirinya, pemuda bak bagaikan jasad tanpa ruh; mati tak berarti.

Saat ini, tentu kita melihat banyak sekali pemuda yang kehilangan arah dan mereka tidak tahu harus berbuat apa. Maka tak salah jika nyatanya pemuda yang seperti itu kelak akan dijadikan sebagai komoditas industri dan kehadirannya hanya sebatas piguran atau hiasan pelengkap suatu hiburan di acara tivi-tivi.

Tak sampai di situ, problemnya adalah mereka terbuai, tak sadar, dan bahkan merasa bangga di saat ke-Aku-annya sebagai subjek pelaku sejarah kini hanya menjadi objek semata yang tak bisa berbuat apa-apa.

Jika kita sedikit melirik ke belakang, seorang filsuf kelahiran Jerman, Martin Heidegger (1889-1976) mencoba untuk memberikan jawaban atas problem eksistesi manusia. Heidegger mencoba untuk memberikan satu kata kunci tentang arti kehadiran manusia di dunia ini, yaitu dengan istilah ‘sorge’ atau ‘keterlibatan’.

Dalam konteks pembahasan ini, perilaku seorang pemuda adalah sebuah keterlibatan secara aktif dengan objek keseharian di sekelilingnya. Dia bukan seorang pengamat pasif yang mengambil jarak dari dunianya. Pendapatnya ini sekaligus sebuah kritik bagi pemikiran Cartesian yang mengagungkan ‘aku’ sebagai objek berpikir murni yang terpisah dari dunianya.

Lebih lanjut, Erikson mencoba untuk mengartikan bahwa pemuda seharusnya menjadi orang dewasa dalam pembentukan dirinya sendiri, di mana karakteristik ini terbentuk selama perkembangan melalui suatu perubahan yang beraneka ragam, tidak hanya terjadi perubahan pada pertumbuhan fisik dan kematangan jenis kelamin, melainkan juga dalam aspek kesadaran sosial.

Di saat pemuda tidak menyadari atas eksistensi dirinya, maka yang terjadi adalah ke-enggan-an dirinya untuk terlibat secara aktif dalam melakukan upaya-upaya kongkrit ke arah perubahan yang positif di lingkungan sekitarnya. Mereka akan bersikap tak acuh dan apatis terhadap ketimpangan, penindasan, dan ketidakadilan yang terjadi di dalam tatanan masarakat. Padahal sejatinya, pemuda adalah sosok ideal yang penuh api semangat dalam membela kaum yang tertindas dan terpinggirkan.

Pemuda sejati tidak hanya peka terhadap perasaan seorang perempuan pujaan hati, melainkan ia yang peka jua terhadap semangat dan kebutuhan jamannya. Di saat pemuda tersebut terlibat dan berhubungan dengan lingkungan sekitarnya, maka ialah pemuda anak jaman.

Garis Takdir Anak Jaman

Pemuda adalah anak jaman yang memiliki garis takdir khusus yang tidak dimiliki oleh orang tua ataupun janda. Karena pada prinsipnya pemuda merupakan calon pemimpin bangsa di masa depan, maka wajib hukumnya pemuda bertanggung jawab atas perubahan-perubahan yang terjadi di masarakat.

Ada beberapa alasan mengapa pemuda memiliki tanggung jawab besar dalam tatanan masyarakat tersebut, antara lain (1) Kemurnian idealismenya; (2) Keberanian dan keterbukaannya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan-gagasan baru; (3) Semangat pengabdiannya; (4) Spontanitas tindakannya; (5) Inovasi dan kreativitasnya; (6) Keinginan untuk segera mewujudkan gagasan-gagasan baru; dan (7) Nilai komitmen yang tinggi.

 Di samping itu, takdir juga menggariskan pemuda untuk menjadi sosok pemimpin. Menurut dawuh Ki Hadjar Dewantara, bahwa seorang pemimpin itu harus memiliki karakter yang sesuai dengan kalimat: Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani (Di depan memberi contoh, di tengah membangun karsa, di belakang memberi semangat).

Artinya memang tugas dan tanggung jawab menjadi pemuda sangat berat, seberat jomblo memikul rindu yang entah kepada siapa.  Namun demikian, tentu ada hal unik lain yang di miliki oleh pemuda, sehingga dengan ke-pede-annya Soekarno sesumbar meminta Sepuluh Orang Pemuda demi untuk menggoncangkan dunia.

Pada akhirnya sampailah pada satu kesimpulan bahwa derajat kemuliaan seorang pemuda tidaklah ditentukan oleh jomblo atau tidaknya status sosialnya, melainkan ia yang sadar dan terlibat aktif dalam upaya memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan di tengah-tengan kehidupan bermasyarakat.

Bagi kalian yang jomblo, janganlah takut dan sedih, karena selama engkau masih berstatus pemuda, asa dan harapan 250 juta lebih rakyat Indonesia ada di pundak anda. Wahai Pemuda Anak Zaman, bergegaslah sebelum malam Minggu tiba!

Artikel Terkait