Badrudin seorang mahasiswa didaerah Bogor. Walau berstatus sebagai mahasiswa, ia selalu takut jika harus pulang terlalu larut. Setiap hari Badrudin harus meninggalkan kampus setidaknya sebelum pukul 22:00. Lebih dari itu, Badrudin lebih memilih untuk menghabiskan malam di kampus saja. 

Suatu hari di kampus, Badrudin memutuskan menjadi ketua panitia sebuah acara tahunan yang diadakan oleh jurusannya. Tanggung jawab tersebut membuat Badrudin lebih sibuk daripada biasanya. 

Selama ini jika harus rapat hingga larut, biasanya Badrudin akan menginap dirumah teman, atau menginap dimana saja yang memungkinkan. Hingga suatu hari menjelang hari-H. Badrudin terpaksa harus pulang larut. Saat itu, banner berukuran besar yang dicetak oleh Badrudin untuk acaranya lupa ia bawa. Padahal banner tersebut harus dipasang pagi, tepat sebelum acara dimulai.

“Andra, temenin aku ambil banner di rumah.”

“Enggakah. Malam-malam motoran di Bogor, dingin, Din.”

Badrudin tidak ingin merepotkan temannya, dan jasa pengantar barang ojek online pun belum marak seperti sekarang. Tidak ada pilihan, akhirnya ia memaksakan dirinya untuk pulang kerumah setelah melewati pukul 22:00. 

Badrudin lekas menuju parkiran, dan menunggangi Suzuki Smash miliknya. Sebelum berjalan ia memanjatkan doa menggunakan bahasa Indonesia. Alasannya sederhana, sebab Badrudin tidak paham tata cara berdoa dengan bahasa Arab. Lagipula, lebih tenang rasanya jika berdoa dengan bahasa yang memang dikuasai. Setelah berdoa dengan khusyuk, Badrudin langsung mengegas motornya menuju rumah.

Jarak antara kampus dan rumah Badrudin hanya 17 kilometer. Dalam kondisi jalanan yang sepi paling hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai tujuan. Lokasi rumah Badrudin sendiri berada pada komplek perumahaan, yang agak menjauh dari ramainya kota Bogor. 

Dua kilometer sebelum memasuki komplek perumahan, Badrudin mulai melafalkan doa kembali. “Tolong... Tolong… Tolong... Semoga, aman sampe rumah,” Badrudin mengucapkannya berulang-ulang, dengan badan gemetar.

Saat memasuki komplek perumahan, Badrudin menurunkan kecepatan motornya. Walau udara Bogor ketika malam lumayan dingin, tapi badan Badrudin sangat basah akan keringatnya sendiri.

Baru saja beberapa meter masuk komplek, tiba-tiba angin kencang berhembus, motor yang dikendarai Badrudin tiba-tiba langsung oleng ke kiri. Untung saja, Badrudin sigap mengendalikan motornya. 

“Bruak”, baru saja berhasil mengendalikan motornya, tiba-tiba secara tidak sengaja Badrudin menghantam lobang besar pada jalanan komplek. Untung saja, ia tidak terjatuh dari motornya. Kesialan Badrudin malam itu belum habis, ternyata karena menghantam lobang yang cukup besar, tiba-tiba saja ban motor Smash milik Badrudin sobek. 

Melihat kondisi ban yang sudah sobek, lantas Badrudin cepat-cepat turun dari motornya. Sebenarnya, Badrudin ingin langsung lari meninggalkan motornya, dan menuju rumah. Tapi, Badrudin takut juga jika ditinggal, nanti malah motornya hilang dicuri. Badrudin lebih takut dengan kemarahan bapaknya, dibanding apapun.

Badrudin mendorong motor Smash miliknya pelan-pelan. Dalam hati, Badrudin terus berdoa dengan bahasa Indonesia. Badrudin juga tidak mau menoleh ke kanan, atau ke kiri. Badrudin takut jika tiba-tiba malah melihat hantu, di pohon, atau di rumah kosong.

Perlahan tapi pasti, dimalam dinginnya Bogor akhirnya Badrudin sampai juga di rumah. Sesampainya di rumah, dengan keringat mengucur, Badrudin mengecek keadaan motornya. “Yah, harus ganti ban baru.”

***

Lelah, Badrudin pun mandi dengan air hangat, dan memutuskan untuk tidur sebentar. Badrudin mengatur alarm pada pukul 04:00. Rencananya nanti, sekitar pukul 04:30, sebelum adzan subuh, Badrudin ingin kembali ke kampus. 

Telat bangun, pukul 04:45 Badrudin baru bersiap berangkat kembali ke kampus. Karena ban motornya rusak, maka Badrudin meminjam motor Suzuki Thunder milik ayahnya. Badrudin sebenarnya belum mahir mengendarai motor kopling, tapi ya mau gimana lagi.

Karena terlalu buru-buru saat pergi ke kampus, Badrudin lupa berdoa. Badrudin juga jadi tidak fokus, dan ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi untuk ukuran komplek perumahan. Baru saja berjalan beberapa ratus meter dari rumah, Badrudin melihat seorang anak kecil berlarian. Badrudin kehilangan fokus. Akhirnya Badrudin kembali menghantam lobang besar yang terdapat pada jalan.

Kali ini Badrudin tidak sigap, ia terbanting ke kanan jalan. “Bruak, Byurrr,” Badrudin dengan motornya terjerembap kedalam got berair hitam. 

Setelah jatuh kedalam got, Badrudin lantas berdiri kembali naik kejalanan komplek. Kecebur got dipagi hari selain bau, Badrudin juga kedinginan. Selain itu, kaki dan tangannya juga terasa sakit sekali. Tidak tahan dengan rasa sakitnya, Badrudin hanya duduk saja dipinggir jalan komplek, menunggun ada pertolongan datang.

Untung saja ada tetangga melintas, Pak Arya baru saja hendak pergi kekantor. Pak Arya, yang melihat keadaan Badrudin lantas menghentikan motornya, dan langsung buru-buru membantu Badrudin. Dengan kebaikan hatinya, Pak Arya sampai rela mengantarkan Badrudin kembali kerumah. 

Setelah kejadiaan tersebut, selain mendapatkan luka memar, Badrudin juga terserang demam. Badrudin bahkan harus istirahat memulihakan badannya selama seminggu. Seminggu setelah merasa pulih, Badrudin memutuskan ke rumah Pak Arya untuk mengucapkan terima kasih secara pribadi. 

“Pak Arya, terima kasih ya sudah nolongin saya waktu itu.”

“Iya, nggak masalah. Ngomong-ngomong sebelum jatuh, kamu liat anak kecil ya?”

“Iya, bapak kok tahu?”

Pak Arya akhirnya bercerita, bahwa yang dilihat Badrudin sebenarnya adalah ruh anak kecil. Dulunya anak tersebut adalah warga komplek. Suatu pagi ketika bulan ramadhan, saat kembali dari masjid selepas melaksanakan salat subuh, anak kecil tersebut tertabrak sepeda motor, jatuh ke got, dan meninggal di rumah sakit. Dulu, kondisi komplek sangat sepi, tidak seperti sekarang.

Makadari itu, roh anak kecil tersebut, sangat tidak suka ketika ada pengendara motor yang melaju kencang pada kompleknya. Saat ada pengendara motor yang melaju kencang, anak kecil tersebut akan menjailinya. Pak Arya, sangat mempercayai cerita tersebut, apalagi anak kecil tersebut merupakan temannya 24 tahun lalu.

“Sebenarnya ada yang lebih penting lagi, Badrudin.”

“Apa itu, Pak Arya?”

“Suruh Pak RT, untuk memperbaiki jalanan komplek.” Tutup Pak Arya.