Kemarin, penulis menonton sebuah dokumenter yang menarik. Judulnya adalah “The Living Dead: The Attic”. Tayangan yang dibuat oleh Adam Curtis ini memiliki poin yang menarik. Poin tersebut mengupas tentang hubungan seorang pemimpin dengan mimpi yang dia angkat.

Dalam mengupas hubungan tersebut, Curtis menggunakan studi kasus dua pemimpin besar Britania Raya; Margaret Thatcher dan Winston Churchill. Menurut Beliau, kepemimpinan Thatcher didorong oleh keinginannya untuk mewujudkan impian Churchill. Sebuah mimpi akan Britania Raya yang kuat dan berdaulat, bak singa yang mengaum kepada dunia.

Lebih jauh lagi, mimpi tersebut memiliki dua efek. Dalam jangka pendek, mimpi itu mendorong pendirian sang pemimpin di mata rakyat. Sementara dalam jangka panjang, mimpi tersebut justru menyerang balik sang pemimpin. Dengan kata lain, dia menjadi bumerang yang menjatuhkan pendirian pemimpin tersebut. Bagaimana bisa?

Ternyata, ada sebuah jeda (time lag) yang terjadi. Populi butuh beberapa waktu untuk menyadari bahwa impian pemimpin tersebut tidak mungkin terwujud. The past will never come to the present. Inggris era Victoria tidak akan terjadi kembali di era 90an. Ketika rakyat sadar akan realita ini, maka apresiasi mereka terhadap sang pemimpin langsung gembos.

Dokumenter ini membuktikannya dengan menyajikan dua peristiwa pada masa Thatcher (1979-1990). Saat Inggris memenangkan Perang Falkland (1982), patriotisme Churchillian menyapu Britania Raya. Mereka kembali bangga menjadi British. Lantas, PM Thatcher dipuji sebagai pemimpin yang memberikan Inggris it’s long-lost pride.

Akan tetapi, ketika kebijakan poll tax diterapkan pada tahun 1989, London malah digeruduk massa. Banyak orang yang bahkan sebelumnya mendukung Thatcher marah. Mereka tidak terima bahwa sebuah pajak yang memberatkan diterapkan secara tiba-tiba kepada mereka. “The problem was that she forgot it was a tax. She’s a tax cutter, now she introduced a new tax. People just don’t get it,” tandas Tim Bell.

Menurut Curtis, mayhem ini terjadi karena Thatcher kehilangan kontak dengan impian Churchill. Penulis berpendapat bahwa penilaian ini kurang tepat. Beliau justru kehilangan arah untuk mewujudkan impian tersebut. Kompas tersebut hilang karena kualitas Thatcher sebagai pemimpin yang bermimpi mulai lepas dari genggaman. Apa kualitas yang hilang itu?

Pemimpin yang bermimpi (visionary leaders) adalah seorang yang memiliki pandangan akan potensi dunia di masa depan dan mengambil langkah untuk mewujudkannya. Jadi, mereka punya mimpi dan mempunyai rencana konkret untuk mewujudkannya. Dalam memimpin, visionary leaders memiliki tiga karakter utama.

Pertama, berani mengambil risiko. Kedua, memiliki kemampuan mendengar yang baik. Ketiga, bertanggung jawab atas pekerjaannya (Lucas dalam thebalancecareers.com, 2020). Jika satu saja dari karakter ini terkikis, maka kemampuan seorang pemimpin sebagai visioner akan menghilang.

Menurut hemat penulis, Margaret Thatcher kehilangan karakter kedua pada akhir kekuasaannya. Beliau mulai tidak mendengarkan saran orang lain dalam membuat kebijakan. Akibatnya, hubris started to take over. Kebijakan diambil hanya berlandaskan insting jangka pendek yang belum diverifikasi. Inilah yang memicu blunder seperti poll tax.

Dalam kasus Indonesia, fenomena serupa terjadi kepada Bapak Proklamator kita. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 memulai melemahnya kemampuan mendengar seorang Bung Karno. Bahkan, Bung Hatta sendiri sampai menjuluki Beliau “diktator Sukarno” (pwmu.co, 2020).

Akibatnya, era Demokrasi Terpimpin menjadi era di mana Presiden Sukarno berkuasa secara diktatorial. Pola pengambilan keputusan terpusat di tangan presiden sebagai mandataris MPRS. Apalagi sampai terjadi pemberian jabatan “Presiden Seumur Hidup” pada tahun 1963.  

Sejak itu, berbagai krisis melanda negeri kita. Ekonomi kita goyah begitu parah sampai didera hiperinflasi 650%. Hubungan kita dengan negara tetangga juga buruk akibat konfrontasi dengan Malaysia. Terlebih lagi, energi bangsa kita tersedot menuju proyek mercusuar dan upaya merebut Irian Barat. Akibatnya, bangsa Indonesia malah kalut dan jatuh.

Bayangkan, pemimpin yang bermimpi saja bisa kehilangan arah. Apalagi kalau yang sebaliknya terjadi. Alias pemimpi yang memimpin. Para pemimpi ini sering tidak memiliki arah untuk mewujudkan impian yang ada dalam benak mereka. Sehingga, bangsa yang mereka pimpin justru berderap menuju kekacauan.

Lihat saja Mao Zedong atau Hugo Chavez. Keduanya sama-sama memiliki impian besar untuk bangsanya. Mao ingin menjadikan Tiongkok sebagai negara komunis terkuat di dunia. Sementara Chavez ingin membuat Venezuela kuat dan berdikari lewat jalur redistribusi dan state developmentalism. Namun apa yang terjadi? Impian keduanya tidak tercapai.

Justru, mereka memicu kekacauan dalam kehidupan bangsanya. They left their respective nations worst than they found it. Mao menciptakan bencana pangan lewat Lompatan Besar ke Depan (Great Leap Forward) dan bencana sosial lewat Revolusi Kultural (Cultural Revolution). Begitu pula dengan Chavez yang membentuk sebuah perekonomian yang tidak sehat, sampai rakyat Venezuela menderita kelaparan dan hiperinflasi tahun kemarin.

Jadi, kita harus bisa membedakan antara pemimpin yang bermimpi dan pemimpi yang memimpin. Pemimpin yang bermimpi memiliki arah yang jelas untuk menjemput impiannya. Sebaliknya dengan pemimpi yang memimpin. Mereka bak nakhoda tanpa kompas yang tak tahu arah tujuan.

Indonesia butuh pemimpin yang bermimpi. Tidak hanya satu, namun jutaan pemimpin yang bermimpi. Dan pemimpin itu dimulai dari dirimu.

REFERENSI