"Pencapaian yang luar biasa, melibatkan risiko yang luar biasa." Begitulah kira-kira terjemahan dari kutipan kata pada gambar yang saya pasang di tulisan ini.

Baru-baru ini saya menghadiri sebuah seminar tentang bagaimana menciptakan suatu budaya perusahaan, dan dalam seminar ini saya diingatkan kembali bahwa tugas utama seorang pemimpin adalah memperbarui. Memperbarui di sini tentu saja bukan asal ubah, tetapi melakukan perbaikan dan kemajuan atau sering disebut improvements. Jadi jika seorang pemimpin tidak membawa kemajuan apapun bagi organisasi yang dipimpinnya, dia bukan pemimpin sebenarnya.

Untuk bisa membawa kemajuan, seorang pemimpin tentu saja harus jadi orang pertama yang berani melangkah ke zona yang sepenuhnya baru dan belum pernah dicoba dalam organisasi tersebut. Dan di sini terkandunglah musuh yang dibenci siapa pun, bernama risiko. Risiko salah & disalahkan, risiko gagal, risiko dicemooh, risiko dibenci, dan berbagai risiko lain, adalah kawan yang harus dirangkul oleh seorang pemimpin.

Kita lihat bangsa ini. Jika urusan menjadi pemegang kekuasaan, semua orang berebut, tentu saja demi jabatan, wewenang dan uang, tapi saya yakin sedikit sekali yang mau menanggung risiko. Banyak orang tidak sadar semakin besar tanggung jawab seorang pemimpin, semakin besar pula risiko yang terkandung di dalamnya.

Akibatnya pemimpin tidak membawa kemajuan apapun bagi yang dipimpinnya. Semua sebatas pencitraan, menjalankan yang sudah ada dan mencoba membuat asal semua orang senang.

Sadarkah anda bahwa para pemimpin besar dunia yang sampe sekarang sangat dihormati, mereka semua telah membayar harga yang sangat mahal untuk risiko. Nelson Mandela harus rela dipenjara 27 tahun karena berjuang melawan perbudakan kulit hitam.

Mahatma Gandhi harus rela dibunuh karena memperjuangkan hak-hak sipil dan kebebasan. Bunda Theresa harus rela hidup miskin dan berada setara dengan kaum terbuang demi memperjuangkan kasih dan pelayanan. Tidak ada perubahan besar tanpa risiko besar yang harus dibayar mahal. 

Bagaimana Indonesia? Beruntung sekali pada masa ini kita masih dikaruniai para pemimpin hebat yang bisa kita jadikan panutan. Perhatikan Ibu Susi Pudjiastuti yang harus rela menanggung risiko diserang dan dijegal oleh pihak asing ataupun pihak internal indonesia yang kontra dengan perjuangannya menuntaskan illegal fishing.

Presiden kita, Pak Jokowi pun harus rela menanggung serangan oposisi, sandungan kebijakan, cemooh para haters, mungkin juga ancaman berbagai pihak, demi memperbaiki Indonesia dalam segala aspek.

Satu sosok istimewa yang saya kagumi, sehingga perlu saya bahas dalam satu paragraf khusus, adalah Pak Ahok. Beliau adalah contoh pemimpin sejati yang siap menanggung risiko demi kemajuan. Sudah bukan barang baru kalau Pak Ahok terancam nyawanya akibat sepak terjangnya. Beliau sendiri sudah bilang siap mati.

Hari ini saya membuka Twitter dan cukup kaget dengan adanya rekaman sosok berbusana betawi muslim, berorasi di depan sebuah bus, bahwa dia akan bayar 1 Milyar untuk siapa pun yang membunuh Ahok. Dengan kejadian ini saya berani dengan mantap menyimpulkan, Pak Ahok adalah sosok pemimpin sejati.

Saya bukan warga DKI, tapi saya iri dengan warga DKI yang punya sosok Pak Ahok. Saya tidak punya kepentingan di pilgub DKI yang akan datang, tapi saya hanya bisa berpesan untuk warga DKI, pilihlah pemimpin yang sesungguhnya. Ingat bahwa pemimpin sejati punya 2 aspek utama: memperbarui dan berani mengambil risiko.

Jangan pilih orang yang mengaku pemimpin tapi tidak sanggup membawa kemajuan apa-apa dan hanya berusaha membuat semua orang senang, tidak berani mengambil risiko, karena sejatinya, pencapaian yang luar biasa melibatkan risiko yang luar biasa.