Aktivis
4 bulan lalu · 566 view · 6 menit baca · Politik 48447_63177.jpg

Pemilu Lawak-Lawak

Setiap orang menyukai komedi. Karena bisa memberi kebahagiaan. Meskipun hanya sesaat. Tetapi, canda tawa mampu mengurangi beban pikiran. 

Itulah kenapa beberapa di antara kita menyukai standup comedy. Para pelawak mampu menghilangkan keresahan. Bahkan, menabur bibit kebahagiaan di setiap jiwa pendengar.

Acara komedi ini cukup terkenal. Setiap pelawak menyampaikan cerita, sulit bagi pendengar untuk tidak tertawa. Kadang-kadang, perut sampai sakit untuk menahan tawa. Suara bahagia itupun memeriahi setiap ruang penonton. Begitulah para komedian bekerja, dia bicara, kita yang tertawa lepas.

Lalu, apa hubungannya komedi dengan pemilu serentak tahun 2019? Cukup banyak. Bagi yang memiliki selera humor, para kontestan seakan memainkan peran untuk melawak. Mencoba menghibur para pemilih yang menonton mereka. 

Bila cukup lucu, tepuk tangan dan tawa menjadi hadiah politisi tersebut. Bila kurang lucu, senyum atau sumpah serapah bertaburan di media sosial.

Mungkin kejam, jika upaya serius para politisi dianggap sebagai bayolan. Namun, itulah kenyataan yang harus kita terima. Agar kita tidak stres mendengar seluruh janji-janji manis saat kampanye. 


Terlalu berharap malah membuka peluang terjangkit darah tinggi. Lebih baik santai dan mendengarkan pelawak-pelawak berbaju partai politik melucu.

Sekarang, coba kita renungkan beberapa kelucuan para politisi. Jangan bilang mereka badut. Bisa jadi, wajahnya merah padam. Cukup perhatikan saja secara seksama. Berbagai tingkah pola dan cerita politik yang disampaikan. 

Misalnya, setiap orang cukup tahu bagaimana cara menghitung. Satu tambah satu sama dengan dua. Itu contoh sederhana.

Komedi Presidential Threshold

Nah, coba lihat komedi politik pembentuk undang-undang. Saat pemilu menerima stempel kata serentak. Semua orang seharusnya memahami bahwa pemilu 2019 adalah waktunya pemilih mencoblos lima surat suara. Mulai dari surat suara Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, calon anggota DPD, calon anggota DPR, calon anggota DPRD Provinsi dan calon anggota DPRD Kabupaten/Kota.

Sehingga, partai politik peserta pemilu 2019 adalah pemain utama. Merekalah yang mendaftarkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. Parpol juga yang mendaftarkan calon anggota legislatif. 

Jika, sebelumnya syarat pendaftaran pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden mengharuskan ambang batas pencalonan. Itu sah-sah saja, toh pemilunya terpisah. Kita memilih caleg, baru memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Sekarang, bagaimana cara kita menggunakan alat hitung. Saat pemilu serentak, tetapi masih menggunakan Presidential Threshold

Sejak semula, pengertian PT sudah salah kaprah. PT di luar negeri adalah syarat kemenangan. Di negeri tercinta ini, PT adalah syarat pendaftaran dan kemenangan. Mungkin bisa kita terima.

Lucunya, pemilu serentak 2019 masih menggunakan PT dari pemilu 2014. Bagaimana mungkin kita tidak tertawa. Pemilu serentak disamakan dengan pemilu terpisah. Bagaimana cara menghitungnya? Mungkin, bagaikan rumus hitung, ada angka X yang menentukan alat hitung pemilu serentak 2019.


Lucunya Dua Paslon

Apabila kita kembali mengingat beberapa hari terahir, saat detik-detik penyampaian calon Wakil Presiden, kita akan mendapati standup comedy terbaik sepanjang masa. Pertama, searang guru besar yang sudah memesan baju. Karena mendapat kabar akan menjadi pendamping Presiden Joko Widodo. Terpaksa merelakan diri untuk balik kanan. Karena pilihan koalisi tidak menghendakinya.

Alasannya sederhana, Mahfud MD, adalah seoarang Gusdurian. Dia dikenal dekat dengan Yenny Wahid. Apabila Mahfud menjadi pendamping Jokowi. Lalu memenangkan pemilu. Tentu saja, kekuatan sebagai Wakil Presiden akan mengganggu stabilitas Partai Kebangkitan Bangsa. Yenny dikabarkan akan kembali merebut partai tersebut.

Jadi, memilih Mahfud, tidak cukup meyakinkan koalisi Jokowi. Lebih baik mereka memilih Kiayi Ma’ruf Amin. Selain mantan politisi. Posisinya yang cukup tinggi di organisasi Nahdhatul Ulama membuka peluang pemersatu santri. Akan tetapi, apakah tidak lucu, jika penyampaian kabar buruk kepada sang guru besar. Pas sebelum pertemuan pers? Sungguh kejam politik itu kawan.

Di lain sisi, Prabowo Subianto menghadapi serangan mitra koalisi. Tuduhan Jenderal Kardus membuat gaduh. Sampai-sampai Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) terpaksa menerima sindiran. Padahal, konsep penegakan hukum pemilu yang belum memberi kuasa kepada Bawaslu untuk pemanggilan paksa.

Ternyata, Jenderal Kardus adalah tanda bahwa Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno. Apa tidak lucu? Bukankah Prabowo maju dengan koalisinya. Ada Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional. Kemana para pemimpin partai tersebut? Sungguh menggelikan. Maju dengan kata koalisi, tetapi paslon berasal dari satu partai yaitu Gerindra.

Komedi DPD

Lain lagi soal senator, lucunya buat kita terheran-heran. Coba bayangkan saja, bagaimana Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengakomodir keinginan sang petaha ketua DPD. Pada kesempatan sebelumnya, melalui putusan, Mahkamah Konstitusi melarang anggota parpol menjadi calon anggota DPD. Ini sudah tepat, bagaimana mungkin seorang anggota parpol maju DPD. Bukankah dia memiliki ruang sebagai calon anggota legislatif?

Tahan dulu tawa anda. Mari kita lihat, KPU kelimpungan menghadapi perlawanan Oesman Sapta Oedang. Melalui PTUN dan MA, OSO mendapatkan kembali hak untuk dipilih sebagai calon anggota DPD. Padahal, disaat yang bersamaan, dia adalah ketua Partai Hanura. Lalu, bagaimana dengan kepatuhan terhadap putusan MK?

Sekarang tertawalah. Putusan pengadilan yang penyelamat OSO memberikan pemilih waktu untuk sedikit bernafas. Kita memang mengerutkan kening. Kalau OSO menjadi calon anggota legislatif. Bagaimana posisi putusan MK? Pada akhirnya, MK tidak lagi sebagai penafsir tunggal konstitusi. Tapi ya sudahlah, toh hak OSO juga mencari jalur-jalur hukum yang diakui oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu.

Sehingga ada istilah lucu terkait DPD. Jangan melawan OSO. Karena sudah berkali-kali OSO memang. Mulai dari mengambil alih Ketua DPD. Lalu menjadi Ketua Umum Partai Hanura. Sempat menganti dan menukar pengurus, sehingga terjadi perlawanan di tubuh partai. Sekarang, sudah dilarang maju. Tetap saja mendapatkan legalitas untuk menjadi calon anggota DPD.

Jewer-Jeweran

Durhaka melawan orang tua. Nasehat nenek pada cucunya. Tetapi, kalau orang tua itu membuat kesal? Ya anggap saja sudah uzur. Jadi lupa diri. Hal ini terjadi pada Amin Rais yang dikabarkan akan menjewer Haedar Nashir. Mantan mengancam Ketua PP Muhammadiyah. Lucu engga?

Pertama, seandaianya Amin bisa menjewer Haedar. Apakah itu akan terjadi. Coba bayangkan, Amin menghampiri Haedar. Lalu tangannya memegang telinga Hader. Kemudian ditarik ke bawah. Seperti guru memberi hukuman kepada murid. Apakah situasi itu akan terjadi? Mana mungkin. Haedar Nashir tentu bisa menepis tangan Amin Rais. Atau bisa saja menggunakan sedikit pukulan hook ke dagu sang mantan.

Kedua, Amin Rais tiba-tiba datang ke PP Muhammadiyah. Atau kemana saja. Dimana Haedar Nashir berada. Sebelum menghampiri untuk menjewer. Sudah banyak orang yang memeluk Amin. Agar dia tidak melangkah maju menghampiri Ketua PP Muhammadiyah saat ini. Apabila kita ada di lokasi kejadian. Sulit untuk tidak tersenyum, tertawa dan menyindir Amin yang dirangkul oleh beberapa orang.


Kalau sudah tua, seharusnya Amin Rais menjaga ucapan. Tidak baik mengancam Ketua PP Muhammadiyah yang sedang menjabat. Kualat. Karena menjewer Ketua Umum sama dengan menyakiti seluruh pengurusnya. Bagaimana kalau ada jiwa muda dari pengurus yang khilaf. Lalu dengan jurus silat menerjang tubuh tua Amin? Jangan sampai terjadi. Bisa jadi bahan cemooh dan memalukan.

Menuntaskan Acara

Sebagaimana sebuah acara komedi, pentas lawak atau jenis lainnya. Selalu ada akhir acara. Saat pelawak mengucapkan terima kasih kepada penonton. Yang mereka telah menertawai dengan sangat bahagia. Begitu juga dengan pemilu 2019. Mungkin sulit untuk mengahiri sekarang juga. Sebab masa kampanye masih lama. Dan cerita-cerita lucu akan bermunculan.

Tetapi, saat di ruang rahasia. Dimana tangan memegang paku untuk melubangi surat suara. Itulah akhir semua lelucon politik. Perhatikan dengan baik setiap calon. Jangan sampai kita menertawai politisi. Tetapi, kita ikut melucu dengan memilih mereka. Ada banyak pilihan yang tersedia. Tidak perlu tergesa-gesa. Timang-timang dan tentukan.

Pemilih juga jangan melucu. Hanya dengan beberapa lembar uang. Lalu menggadaikan daulat rakyat untuk ima tahun. Itu namanya, menertawai diri sendiri. Menyangka diri lihai dengan mengakali para kontestan pemilu. 

Tetapi, saat pemilu berakhir, hanya bisa mengumpat dan menyesali nasib. Sudahilah pertikaian di media sosial. Jangan terlalu serius. Terlalu mahal persaudaraan hancur akibat politik.

Artikel Terkait