Penikmat Kopi Senja
1 tahun lalu · 630 view · 3 menit baca · Politik 89318_32429.jpg
Sumber Foto: KPU

Pemilu dalam Ancaman Hoax

Ada dua terms judul tulisan ini, yakni pemilu dan hoax. Mengapa kedua kata ini memiliki benang merah padahal hoax tidak dikenal dalam istilah demokrasi? Bahkan hoax merupakan musuh demokrasi, termasuk penyakit yang sengaja disebarluaskan. Namun, memisahkan pemilu dan hoax merupakan kesalahan terbesar.

Hoax, kemarin dan hari ini serta ke depan, merupakan 'senjata' efektif dalam mempengaruhi pemilih. Hoax terus tumbuh dan berkembang seiring dengan kecanggihan teknologi. Konten media sosial merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya hoax. Media sosial yang menghapus geo-politik, perlahan namun pasti mampu menggeser interaksi manusia.

Pergeseran ini dimanfaatkan para gladiator politik. Mereka mengeksekusi isu politik dengan kebohongan. Hoax bukan hanya ingin membohongi, akan tetapi ingin melahirkan simpati bahkan empati. Konsepsi hoax dalam hal ini akan menciptakan victim sekaligus hero.

Satu sisi ia menjadi korban. Namun karena hoax diciptakan untuk menarik simpati, ia kemudian menjadi pahlawan dari fitnah dan hoax. Misalnya, saya dikabarkan sebagai seorang atheis. Isu itu terus disebarkan berulang kali. 

Sebagai calon presiden, saya harusnya percaya Tuhan dan memeluk salah satu agama yang diakui negara. Hoax itu cukup sukses disebarkan. Ada yang mencaci saya habis-habisan. Tim pemenangan saya sebenarnya sengaja menyebarkan hoax tadi. Tujuannya agar saya populer, dan selanjutnya tim saya yang akan mengklarifikasi isu tersebut. Sama dengan pencipta virus sekaligus anti-virusnya.

Pemilih yang sebelumnya tidak mengenal saya akhirnya akan mengenal walaupun sisi buruk. Tahapan awal ini memang bertujuan mengenalkan saya sebagai capres. Seiring perjalanan waktu, para pembenci tadi akan mulai membaca berita-berita klarifikasi. Mereka tanpa disadari mulai membaca nasab, pendidikan, dan semua yang terkait dengan sayaDari sepuluh, setidaknya ada dua orang yang awalnya membenci, namun kemudian berbalik fanatik pada saya.

Dan selanjutnya elektabilitas saya akan terus naik. Strategi ini cukup efektif dikarenakan pemilih kita belum sepenuhnya rasional, masih pemilih emosional. Isu sensitif; agama, suku, ras, maupun terkait skandal cinta akan mudah dikonsumsi masyarakat. Respons tanpa selidik apalagi penelitian merupakan pintu masuk hoax.

Ketika hoax sudah diizinkan masuk, fanatisme tumbuh dan dengan sendirinya subjektifitas terhadap saya tumbuh. Selanjutnya 'robot-robot' itu diprogram untuk menjadi pembela saya dimedia. Sisi manusianya telah hilang, pujian diberikan kepada saya dan makian akan dilontarkan kepada lawan politik saya. Langkah taktis selanjutnya tinggal menampilkan berita-berita kebaikan saya. Bila ada isu negatif terkait saya, dengan mudah dialihkan dan langsung dipercaya.

Harga sebuah domain internet yang sangat kompetitif serta mudahnya membuat sebuah akun medsos adalah bantuan tekhnologi bagi hoax. Virus informasi yang satu ini membutuhkan anti-virus yang hanya dimiliki segelintir manusia. Usaha-usaha pencerahan tidak cukup memanusiakan kembali manusia. Pendidikan di sekolah dan universitas juga belum mampu melahirkan pemikir dan analis, masih menciptakan 'robot'.

17 April 2019, pemilu presiden dan legislatif akan dilaksanakan. Hingga hari ini menuju hari itu dipastikan akan banyak hoax beredar. Peredaran hoax tak bisa dihadang dengan regulasi ITE maupun medsos.

Melimpahnya informasi di internet ternyata memalaskan kita menjadi peneliti. Sikap skeptis terhadap informasi yang kita terima lenyap. Para penyebar hoax memang memiliki kemampuan olah bahasa yang baik, akan tetapi bisa kita kalahkan, asalkan kita mau.

Institusi seperti kampus yang harusnya mampu menjadi penawar virus hoax malah berpikir mundur. Beberapa kampus malah melarang mahasiswa berpikir kritis. Haram katanya berpikir kritis. Sangat kita sayangkan sikap rektor kampus tersebut. Dampaknya, para sarjana tak lebih hebat dari mesin sejenis google, yahoo, bing, dan mesin pencari lainnya.

Kembali soal pemilu dan hoax, lalu langkah apa yang bisa kita lakukan guna mencegah penjajahan hoax? Hingga saat ini semua teori sudah sering dibagikan melalui medsos dan media online. Langkah taktis apa pun masih galau menghadapi gempuran hoax. Jiwa ilmiah yang telah menghilang harus dikembalikan segera. Salah satu tugas yang diemban para intelektual terutama penulis, tulisan yang mencerahkan harus sering dilakukan.

Dampak hoax yang kian dahsyat tak bisa dianggap remeh. Perpecahan bangsa hingga keluarga dapat terjadi dengan satu berita hoax. Kita menuju bangsa barbarbangsa yang senang mencaci, bangsa yang sensitif dan mudah tersinggung. Sebuah bangsa yang hilang keramahan, dan akhirnya kehilangan karakter hanya karena berbeda pilihan dalam politik.

Padahal konstelasinya tak sedahsyat itu bila hoax dapat kita atasi. Tentu saja hoax hanya mampu dikalahkan bila kita kembali ke khittah kita, kembali ke tujuan negeri didirikan. Indonesia didirikan atas dasar keragaman, dan salah satu tujuannya ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebuah bangsa yang cerdas tidak akan mampu dimanipulasi oleh berita yang tidak benar.