Kerisauan yang timbul di benak pemuda merupakan hal yang wajar, sehingga pemuda banyak yang berlomba-lomba mencari wadah penumpahan kerisauannya, diantara beberapa wadahnya, berdiskusi, menulis merupakan wadah yang paling cocok bagi pemuda untuk menjadikan sarana penumpahan kerisauan tersebut. Ketika bibir tak lagi fasih berbicara maka menulis adalah hal yang cocok untuk menggantikan diskusi, sebab kenyataanya diskusi dan musyawarah sangatlah penting. Hasil diskusi pemuda yaitu berupa sumbangsih pendapat dari sebuah topik permasalahan.

Dari berbagai macam keresahan pemuda semuanya memang harus diungkapkan. Seperti yang ada pada tulisan ini yang merupakan sebuah sumbangsih pendapat berdasarkan pola pikir pemuda tentang politik yang ada di Indonesia. Nah, dari hal ini harapan dari penulis keresahan yang ada pada tulisan ini, harap di lihat dan di jadikan “pikiran kecil” di waktu santai.

Dalam memandang politik yang ada di negara Indonesia pada saat sekarang ini tentunya akan menemukan fakta bahwa politik yang ada di Indonesia sedang berada dalam kondisi kritis. Kenapa?.  Karena para pemeran politik Indonesia menggunakan politik semata-mata hanya untuk mendapat kursi kekuasaan. Ini gambaran bahwa politik Indonesia persaingan itu sudah tidak sehat.

Awal dari kerisauan yang ada pada pemuda tentang politik yaitu berdasarkan fakta politik yang ada dalam kehidupan poiltik Indonesia. Fakta-fakta politik tersebut sudah menjadi pandangan pokok bagi pemuda yang memang memiliki cap sebagai generasi bangsa yang berkualitas. Fakta-fakta lain tidak jarang kita jumpai, dari berbagai media berita-berita politik. Berita politik tersebut faktor yang menjadi bahan pola pandang pemuda dalam memandang politik.

Di dalam dunia politik sebagaimana yang tercantum dalam buku pelajaran pendidikan kewarganegaraan di dalamnya ada istilah sosialisasi politik. Istilah ini memiliki makna suatu proses pembelajaran dan pengenmbangan orientasi politik. Di buku tersebut juga dicantumkan sarana dan pra sarana dalam sosialisasi politik, di antaranya seabagai berikut.

Keluarga (family)

Keluarga merupakan wadah yang paling mendasar dalam menanamkan nilai-nilai politik yang efesien dan efektif. Hal ini lewat dari sering terjadinya obrolan politik ringan antara orang tua dan anak, sehingga tanpa sadar pula sudah ada kejadian teranfer pengetahuan dan nilai-nilai politik.

Sekolah (school)

Di sekolah politik bisa disosialisasikan melalui pelajaran pendidikan kewarganegaraan, di mana hal tersebut terjadi ketika guru memberi pelajaran tentang politik, dan akhirnya ada semacam diskusi, sharing dan lain-lainnya antara guru dengan siswa-siswa.

Partai politik

Salah satu fungsi dari partai politik adalah dapat memainkan peran dalam sosialisasi politik.ini berarti partai politik tersebut setelah merekrut anggota kader maupun simpatisannya secara periodik maupun pada saat kampanya, mampu menanamkan nilai-nilai dan norma-norma dari satu generasi ke geneari berikutnya. Partai politik harus mampu menciptakan image memperjuangkan kepentingan umum.

Dari ketiga wadah tersebut yang mempunyai pokok permasalahan yang besar yaitu berada pada poin ketiga yaitu berada di partai politik. Partai politik di Indonesia sebagaimana yang di jelaskan di awal bahwa partai politik umumnya langsung istilah politik itu sudah tidak sehat lagi persaingannya. Fakta yang ada memang sesuai dengan kenyataannya.

Sebagaimana pendapat seorang yang pernah berperan dalam politik bahwa antar partai politik yang ada itu bukan kawan melainkan lawan. Partai politik di Indonesia pada saat kampanye menjelang pemilu mereka memang menggunakan sistem demokrasi. Akan tetapi demokrasi yang ada di Indonesia pada saat sekarang ini sangatlah tidak stabil. Untuk merebut atau mempertahankan kekuasannya pada saat kampanye, politik yang dilakukan sangatlah tidak sehat. Suara yag di dapat dari rakyat bukanlah dari hati nurani.

Di lingkungan penulis, pemilu dapat di katakan sebagai “bisnis”, mengapa begitu?. Karena penulis seringkali melihat fakta sosialnya. Sebelum tiga hari atau satu minggu sebelum pencoblosan biasanya. Penentuan suara rakyat sudah di atur oleh uang. Dari gambaran tersebut, masih bisakah di sebut demokrasi yang stabil?

“Ada uang saya coblos,” begitu istilahnya. Kejadian seperti itu memang menjadi rutinitas dari setiap pemilu di kampung saya. Baik pada pemilu pemilihan kepala desa, bupati atau wali kota, DPR dan presiden. Akan tetapi yang paling marak hal semacam di atas ketika pada masa pemilihan bupati dan DPR walaupun pemilihan kepala desa itu tidak berbentuk partai, sedangkan pada pemilihan presiden itu masih jarang yang melakukan hal yang tidak stabil.

Asusimnya karena masyarakat kemungkinan masih sadar bahwa memilih prediden sebagai pemerintah pemilik tanggung jawab tinggi itu tidak sembarang memilih. Meskipun pada pemilihan presiden tetap ada yang melakukan hal semacam kecurangan, tetapi itu di lakukan sebagian masyarakat yang sangat pro terhadap pilihannya, hal ini ternyata masih ada masyarakat yang masih tergiur dengan uang, tetapi masyarakat yang terpengaruh hanyalah masyarakat yang memiliki pemahaman bahwa uang segala-galanya.

Dengan demikian, apabila calon partai politik yang menang dan mendapat banyak suara kemenangan itu bukan suara murni dari rakyat. Karena penulis mempunyai asumsi bahwa ketika para calon pada saat kampanye itu mengeluarkan dana yang cukup besar untuk memmbeli suara rakyat, maka ketika sudah terpilih dana yang di keluarkan tersebut pasti akan kembali lagi ke kantongnya.

Seperti pendapat orang yang mengatakan bahwa hal tersebut akan di tutupi kembali dengan cara lain, yakni dengan cara menyelewengkan bantuan yang dari pusat, spirit ini sudah sangat banyak di perbincangkan tetapi blum ada penanganan secara hukum.

Akankah hal seperti ini akan berlangsung?

#LombaEsaiKemanusiaan