Udara di luar nampaknya sangat sejuk, hiasan bunga berbaur apik dengan dedaunan nan hijau di setiap mata memandang. 

Meja akad telah rapih dipersiapkan dengan balutan kain sutra putih dan rangkaian lilitan bunga di sekitarnya. 

Mas Pras sudah datang dan duduk di depan Ayahku, penghulu, dan dua orang saksi. Acara akad akan segera dimulai. Saudara dan kerabat dekat  ikut menyaksikan acara sakral janji suci pernikahan yang digelar pagi ini.

Aku duduk di kamar, rasanya grogi, bahagia dan haru campur aduk menjadi satu. Tangan mendadak gemetar dan keringat dingin. Jantung berdegup kencang, nafas tak teratur.

"Saya terima nikahnya Ana Annisya Fitri dengan maskawin tersebut dibayar tunai."  

Janji suci dan kalimat akad sudah diungkapkan di depan penghulu oleh mas Pras, sekarang aku resmi menjadi seorang istri pengusaha muda.

****

Dari balik kamar, perlahan aku berjalan keluar menuju tempat akad. Di setiap sudut sejauh mata memandang, banyak sanak saudara yang menyaksikan hari bahagiaku.

Mas Pras menyematkan cincin ikatan pernikahan kami. Tanganku gemetar saat ia menyematkan cincin di jariku. Begitu pun aku, sangat grogi saat  menyematkan cicin perak di jarinya.

Cincin sudah terikat di jariku dan di jari mas Pras. Bapak penghulu menganjurkan mas Pras untuk mencium keningku. Jantungku berdebar penuh gejolak, ada rasa gemetar dalam jiwa.

"Inikah rasanya jatuh cinta ?, bahkan menatapnya saja tak kuat, sungguh aku malu." Perasaanku saat itu.

Rasanya aku hampir pingsan saat tangannya ia sematkan tepat di ubun – ubun kepalaku, dan memanjatkan doa dengan khusyuk.

Aku pejamkan mata dan berdoa dalam hati, “semoga mas Pras menjadi imam terbaik untukku."

****

Baru kali ini, aku merasakan jatuh cinta pada lelaki yang tak pernah aku kenal sebelumnya. Laki - laki yang aku ucap dalam doa setiap kali  salat istiqhoroh untuk memantapkan hati dalam proses taaruf selama tiga bulan lamanya.

Perkenalan yang sangat singkat melalui guru ngaji. Sebelumnya pernah ada beberapa laki - laki yang melakukan taaruf denganku. Akan tetapi,  setelah aku meminta petunjuk kepada Tuhan melalui salat  istiqhoroh, Allah memberi jawaban  tak ada  ketetapan hati dan rasa condong terhadap siapa pun.

Mas Pras adalah laki - laki kelima yang dikenalkan oleh guru ngajiku. Saat pertama kali bertemu  mas Pras dengan didampingi oleh guru ngaji, hati bergetar, jantung berdebar. Aku merasakan ada semacam chemistry dari pertemuan pertamaku dengan mas Pras.

Entah itu sinyal ia benar jodohku, atau memang godaan setan. Sudah lama aku menunggu jodoh datang bertamu, tak hanya mampir di persimpangan waktu, lalu menghilang perlahan bersama waktu yang terus bergulir.

***

Suatu hari, tepat di hari kelahiranku, ayah dan ibu selalu memberikan wejangan dan memberi sinyal pertanyaan, mengenai usia lajangku.

Ana, ibu dan ayah sangat merindukan cucu, kamu sudah cukup usia, mau sampai kapan menunggu laki – laki yang terlihat sempurna di matamu?”

Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman dan meyakinkan kedua orangtuaku bahwa Allah sudah mempersiapkan jodohku 50.000 tahun yang lalu, jauh sebelum aku diciptakan. Lalu aku berusah menenangkan hati mereka.

"Ayah ibu tak usah khawatir dengan jodoh Ana, insha Allah ia akan datang bertamu ke rumah untuk melamar dalam waktu dekat."

Aku tahu mereka sangat kecewa, karena setiap kali aku menjalani taaruf selalu gagal dan gagal. Sampai akhirnya, kedua orangtuaku sudah pasrah dan bosan menanyakan hal yang sama.

Tak hanya dari kedua orangtuaku, tetangga di sekitar rumah pun selalu usil dan ikut campur dengan hidupku. Mereka bahkan sering menjuluki aku dengan sebutan “Perawan Tua”.

Aku belajar sabar dan ikhlas melewati semua ujian hidup. Tak peduli banyak orang disekitar sibuk membicarakan tentang hidupku.

"Ana,  kamu sih menolak lamaran beberap cowok, jadi sampe sekarang nggak laku kan, makanya jadi cewe itu nggak usah pilah pilih."

Sahut tetangga sebelah yang sedang berkunjung ke rumahku. Hatiku begitu rapuh ketika ada yang menghujatku dengan kata - kata seperti itu. Rasanya sakit sekali. Namun, aku harus tetap sabar menghadapi semua ujian yang sudah Allah takdirkan.

Berbagai hujatan aku terima dengan hati lapang. Walaupun, selalu terngiang di hati kata – kata yang seharusnya tak pantas aku terima.

Aku yakin suatu hari dipertemukan dengan pemilik tulang rusukku. Aku terus berdoa agar diberikan kekuatan untuk bisa menghadapi hujatan dari orang sekitar.

Buah dari kesabaran, setelah sekian purnama aku menanti pemilik tulang rusuk menjemputku ke pelaminan, dengan melalui berbagai rintangan yang cukup berat,  sekarang Allah mempertemukan aku dengan pemilik tulang rusuk yang sudah Allah catat di lauhulmahfuznya.

Hari ini, adalah hari bahagiaku untuk menempuh hidup baru dengan partner pilihan Allah. Pada akhirnya, aku bisa membuktikan pada mereka yang selalu menghujatku dengan kata – kata kasar, bahwasanya Allah itu adil, dan sayang pada hamba-Nya yang terus memujinya dalam sabar dan ikhlas.

Pagi ini, burung gereja berterbangan di langit yang cerah,  seolah ikut  menyaksikan kebahagiaanku pada momen bersejarah ini. Momen yang telah aku tunggu dari waktu ke waktu.

Mas Pras, sungguh bahagianya aku dipertemukan dengan seorang laki – laki saleh dan sangat menginspirasi banyak orang. Semoga kau adalah calon imam terbaik pilihan Allah yang bisa mewujudkan mimpi – mimpiku.