Staf Pengajar
1 bulan lalu · 356 view · 4 min baca menit baca · Filsafat 32003_61900.jpg
Grand Canyon, United States by Matteo Di lorio

Pemikiran yang Melampaui Keimanan

Apakah ada tempat bagi kita kelak setelah kehidupan berakhir? Pertanyaan ini telah dilontarkan ribuan tahun oleh para pemikir, filsuf maupun ilmuwan. Hanya saja pertanyaan ini lebih panjang usianya dibandingkan suatu jawaban iya atau tidak adanya kehidupan itu. 

Tak ada satupun para filsuf yang berani mengambil keputusan yang pasti, tetapi kebanyakan mereka memilih jalan tengah epistemologi yaitu materialisme sebagai dasar filosofis dari tiangnya makna kehidupan.

Berfilsafat itu memang penuh tantangan, rasa tertantang itu membuat seseorang berani untuk melalui rimba kerumitan dari peristilahan serta beragam definisi yang ada. Mengulas serta mengkaji dari beragam pengalaman serta pemikiran dari orang yang sekitar dan buku yang dibaca.

Mungkin banyak diantara kita enggan untuk memikirkan hal seperti itu, terjerat pada kebingungan bukanlah pekerjaan anak-anak lagi bagi mereka yang telah tumbuh dalam kesibukan materi. 

Ada banyak hal yang harus dikerjakan dan berpikir adalah pekerjaan yang membuang waktu, disebabkan beban aktifitas yang begitu ketat dalam bekerja sehingga mengesampingkan aktifitas berpikir lebih baik dan mengutamakan aktivitas bekerja demi mencari rezeki.

Saya mencoba untuk menahan diri untuk tidak berpikir namun tidak bisa, rasa ingin tahu secara lebih mendorong saya untuk memilih jalan sunyi bersama buku-buku.

Terbiasa dengan beragam bacaan membuat saya semakin termotivasi untuk menghabiskan waktu dengan buku-buku ketimbang berkumpul Mabar PUBG. Suatu kebahagiaan yang tak terkira adalah ketika kamu suka membaca buku dan ingin membaca yang lain.


Bila luang waktu di malam hari takkala bulan terlihat terang dan bintang-bintang bertaburan diatas sana membuat saya terus merenung betapa besarnya alam ini dibanding dengan bumi yang tengah saya tempati. 

Berjalan mencari arti sambil menengadah ke bintang-bintang adalah kenikmatan berfilsafat yang begitu besar buat seseorang. Kenikmatan hidup itu memang berasa ketika kita berbagai pengetahuan, bertukar pemikiran diskusi saling menggagas ide baru demi terciptanya inspirasi. 

Kita terdorong aktif karena inspirasi dan inspirasi adalah seperti pencerahan wahyu yang selalu dicari-cari para pencipta suatu karya. Seniman, pemusik, penulis rela berburu mati-matian demi mencari inspirasi.

Inspirasi adalah semacam mood, semangat yang membuat seseorang terdorong aktif berkarya lepas tanpa tekanan akan alasan tapi. Saya menghabiskan satu buku bacaan filsafat dalam satu hari karena tergerak untuk mencari inspirasi. 

Setiap orang membutuhkan inspirasi, mereka yang haus akan inspirasi adalah orang yang gigih untuk menghasilkan ide.

Pertanyaan mengenai apakah ada tempat bagi kita kelak setelah kehidupan berakhir? sebenarnya jika dikaji sejauh mungkin hingga sedalam-dalamnya bisa berakibat pada kesia-siaan yaitu hilangnya waktu. 

Sementara pada kenyataannya setiap orang memiliki waktu yang berbeda-beda hingga ia memilih untuk menjalani kehidupannya dengan seadanya tanpa harus berbelit dahi untuk memikirkan ada atau tidaknya kehidupan setelah berakhirnya nafas. 

Taubatnya seorang caleg yang gagal duduk misalnya akibat suara yang diperoleh minim, ia lebih memilih menghabiskan uangnya untuk makan-makanan yang enak daripada uangnya habis mubazir menempah baliho hingga ratusan ribu eksemplar dengan biaya milyaran rupiah lebih sebab trauma suaranya dipermainkan.

Pada momentumnya saat ini yang kita jalani sebagai manusia memang lebih memprioritaskan tentang kebutuhan hidup di dunia daripada sibuk memikirkan akhirat. 

Rakyat pada saat ini sudah lebih pintar daripada pemuka agama sehingga rakyat tidak ingin terjerumus pada persoalan kafir dan haram, tetapi bukan berarti seseorang melupakan diri untuk berdoa dan beribadah. 


Yang menjadi permasalahan adalah ketika satu dua kelompok sibuk mencibir agama orang lain sementara dia yang kerja di bagian dinas capil memaksa rakyat untuk membayar ratusan ribu agar e-KTP bisa didapatkan. 

Seorang bapak tukang becak datang jauh-jauh dari kampung Aek Nabara ke Rantauprapat untuk mengurus e-KTP anaknya juga harus dipaksa mengeluarkan uang. Betapa sanggupnya orang petugas Capil Rantauprapat memaksa rakyat kelas bawah mengeluarkan uang ratusan ribu yang menunjukkan bahwa pungli di Labuhanbatu sudah sangat parah, suatu dampak dari Bupati nya apabila yang diatas bagus maka dibawah takkan bagus.

Inilah yang menjadi permasalahan ketika seseorang sibuk cekcok dengan mengajak beribadah untuk kebutuhan iman, sementara untuk berlaku adil dan tidak menerima pungli saja sangat susah. 

Teriak untuk beriman namun menghindari korupsi susah adalah penyakit yang kini sangat menggangu pada kebangsaan kita. Kita harus saling mengingatkan dalam memperbaiki sistem dan kalau dibiarkan begitu saja bisa jadi pungli akan terus ada di daerah-daerah kita.

Sebab soal iman adalah soal yang diatas, sementara tanggung jawab dan tugas besar manusia ialah bagaimana ia berlaku adil dan jujur untuk tidak mengambil apa yang bukan milik kita. 

Maka pertanyaannya adalah bukan apakah ada tempat bagi kita kelak setelah kehidupan ini berakhir, melainkan adakah kesadaran bagi kita untuk bersikap adil tanpa menyusahkan rakyat menengah kebawah? Maka bulatkan lah tekad di dalam diri untuk tidak pada korupsi dan bijaklah dengan bersikap adil kepada masyarakat.

Nelson Mandela mengatakan perjuangan kita untuk kemerdekaan dan keadilan merupakan usaha kolektif. Ada di tangan kalian untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua orang yang hidup di dalamnya. 

Sehingga kesadaran kitalah yang menjadi bagian terpenting untuk memperbaiki sistem di daerah lebih awal dibandingkan dengan mengecam pluralisme seperti tidak ada memiliki kegiatan yang baik.

Artikel Terkait