1 tahun lalu · 147 view · 4 menit baca · Agama 33972_42041.jpg
https://pixabay.com

Pemikiran-Pemikiran Liar, Ekstremisme dan Intoleransi

Akar-Akar Radikalisme di Negeri Ini

Seseorang pernah berkata padaku, “Apa itu masjid? Masjid itu tempat menebar kebencian, mengganggu kenyamanan orang lain. Mengeluarkan suara yang keras tiap lima kali dalam sehari, saat banyak orang tidur lelap di siang bolong tiba-tiba berbunyi dengan keras suara azan, bukankah itu merusak kenyamanan orang lain? Mengganggu hak orang lain?

Ditambah lagi hari Jumat, hari dimana kebencian disebar dengan buas. Khatib-khatib berteriak dengan lantang, 'musuh kita adalah Zionis, musuh kita adalah Kafir!', sungguh kita telah tersesat di jalan yang lurus lagi benar”.

Kalimat-kalimat itu terngiang di kepalaku tiap waktu, mengganggu tidur nyenyakku, merusak malamku. Betapa banyak orang-orang berpikir se-ekstrem ini, menilai kegiatan keagamaan sebagai benih kebencian yang mengakar dalam dan bertumbuh rindang di dataran bumi manusia. Bukankah pemikiran seperti ini yang akan menumbuhkan benih kebencian itu sendiri?.

Radikalisme muncul dari pemikiran liar yang tak berdasar. Padahal berkali-kali telah kita baca, telah kita dengar, Islam adalah agama damai, Islam adalah agama moderat dan toleran. Tak pernahkah kita berpikir mengapa kiblat utama kaum Muslim adalah Kakbah?, sebuah bangun berbentuk kotak yang hanya berwarna hitam pekat.

Mengapa sang Kiblat tak megah seperti Taj Mahal? Tak artistik seperti istana para raja? Mengapa tak berwarna indah seperti pelangi? Atau menentramkan seperti warna langit?. Karena sang Kakbah ingin mengajarkan tentang kesederhanaan, bahwa warna, kedudukan, dan bentuk bukanlah hal yang diperlukan dihadapan Tuhan.

Meski tak dapat dipungkiri bahwa temuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tentang maraknya penyebaran paham-paham radikal di tempat-tempat ibadah adalah aktual. 

Salah satu penyebab dari tragedi ini ialah penempatan orang-orang yang bukan ahli di bidangnya sehingga timbullah pemikiran liar dari benak mereka yang sama sekali tak mendasar. Padahal jika kita mau membaca dan mencari di kitab suci manapun tidak ditemukan perintah melakukan ekstremisme sesama manusia dengan agama apapun ia.

Sang Guru Bangsa, Gus Dur, pernah menyatakan “Tuhan tak perlu dibela”. Yah, terkadang Tuhan memang tak perlu dibela, karena atas dasar dari pembelaan ini, karena atas penafsiran liar dari kata “pembelaan” ini pertumpahan darah terjadi dimana-mana.

Karena atas dasar pembelaan Tuhan dengan sejarahnya kaum Yahudi, Israel dengan tega memporak-porandakan tetangganya, Pelestina. Tulang-belulang manusia berserakan dinama-mana, lautan darah, tangis histeris adalah pemandangan yang dapat ditemukan hampir di setiap sudut kota Gaza.

Belum lagi di Rohingya, sebuah tragedi keji yang belum juga hilang dari benak kita semua, pelecehan atas hak asasi kemanusiaan, juga atas dasar pembelaan Tuhan. 

Tak perlu jauh-jauh, di negeri ini, perang saudara Ambon, peristiwa Poso, pengeboman gereja di Samarinda bahkan Papua, sampai  aksi pemboikotan ceramah ustad-ustad anyar di berbagai tempat atas tuduhan radikalisme hingga menelan korban jiwa. Semua ini atas satu alasan, pembelaan Tuhan.

Pernahkah kita berpikir apakah Tuhan mengingingkan semua ini? Pertumpahan darah, perang, kekejaman, kebencian sesama, seperti inikah? Betulkah pembelaan seperti ini yang diinginkan-Nya?.

Bangsa ini perlu membuka mata lebar-lebar, di dinding tertinggi tiap kantoran hingga sekolah-sekolah di negeri ini terpampang dengan jelas semboyan hasil pemikiran dan perjuangan keras para Founding Father kita, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu.

Mari renungkan bersama bagaimana bangsa ini merebut kemerdekaannya hingga dapat bertahan di usianya yang beranjak 73 tahun. Pahlawan-pahlawan bangsa ini bukan hanya berasal dari kaum-kaum Muslimin, tetapi juga dari pemeluk beragam agama di Bumi Pertiwi; Hindu, Buddha, Kristen.

Para pendahulu kita dengan latar belakang dan warna yang bermacam-macam mengesampingkan perbedaan mereka dengan satu tujuan mulia, menyatukan ribuan pulau-pulau Indonesia. Mengajarkan secara tidak langsung kepada anak, cucu dan cicitnya bahwa kiat terbaik mempertahankan apa yang telah mereka rebut susah payah bertahun-tahun silam adalah semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam tiap kitab suci kita yang mungkin saat ini terparkir dengan rapi berselimut debu di lemari-lemari rumah memang tak pernah terdapat satu kata pun tentang Pancasila, tentang Bhinneka Tunggal Ika. Tetapi cobalah baca kembali, akan kita temukan dalil-dalil tentang indahnya perdamaian, indahnya hidup saling memahami dalam perbedaan antara sesama bukan saling sikut, bukan saling serang.

Bukankah Nabi Muhammad pernah tiap harinya menyuapi makanan seorang buta yahudi yang tiap waktu mengolok-olok dirinya. Bukankah Mahatma Gandhi menghembuskan nafas terakhirnya di saat ia membela rakyat Muslim. 

Bukankah hari ini berbagai negara di penjuru dunia ramai-ramai menolak klaim bahwa Yerussalem adalah ibu kota Israel termasuk Paus Fransiskus. Maka, mari bersama-sama kita belajar dan mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa di sekitar termasuk bagaimana para pemimpin-pemimpin dunia bersatu menolak kegiatan-kegiatan yang berbau intoleransi.

Radikalisme, ekstremisme, dan intoleransi memang bukanlah barang baru di negeri ini. Generasi penerus bangsa  perlu menyadari bahwa barang yang bukan baru ini dapat menjadi senjata pamungkas bagi diri sendiri.

Pihak asing sudah lama menyadari akan hadirnya senjata pamungkas yang dapat memecah belah persatuan dan memicu kehancuran Bumi Ibu Pertiwi. Dan hal ini dapat menjadi keuntungan besar bagi mereka.

Coba lihat dengan seksama, negeri ini terdiri dari 1340 suku bangsa dengan 546 macam bahasa dan 6 agama yang diakui; Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu. Sungguh indah dalam keberagaman namun sejatinya penuh celah kehancuran.

Sedari dulu negeri kita tercatat sebagai negeri yang paling mudah diadu domba. Pada pelajaran sejarah sejak tingkat sekolah dasar telah kita dengar secara berulang-ulang, jatuhnya bangsa ini ke tangan para penjajah dikarenakan satu taktik, politik adu domba, hingga berakhir saling serangnya antar kerajaan-kerajaan Nusantara. Jangan sampai tragedi pelik terulang kembali.

Hari ini, para pemimpin dan khususnya para calon pemimpin negeri harus mampu membaca dan mengikapi dengan sigap polemik-polemik yang terjadi. Negeri ini adalah negeri besar dengan sumber daya alam yang besar. Dan pasar besar dengan pengerukan sumber daya alam yang besar pula, disertai penguasaan pasar yang besar.

Maka tak heran jika para penguasa dan pengusaha berlomba-lomba menyebar berbagai macam isu hingga mencoba menghidupkan kembali hantu besar, hantu dari sejarah kelam negeri ini, hantu PKI.

Hantu itu dihidupkan kembali oleh mereka, agar selalu punya alasan untuk mengeruk lebih dalam perut negeri ini. Persis ketika mereka enam puluh tahun yang lalu harus menumpas banyak anak bangsa karena eksploitasi sumber daya alam yang ingin mereka lakukan tak akan berjalan lancar jika masih ada jutaan manusia cinta tanah air yang berkepala sosialis.

Benarlah perkataan Bung Karno, perjuangannya bukanlah yang terberat karena hanya melawan para penjajah, tetapi perjuangan kitalah yang terberat karena melawan bangsa sendiri.