Peneliti
1 bulan lalu · 602 view · 14 min baca menit baca · Buku 63010_90326.jpg

Pemikiran Murtadha Muthahhari

Mengapa kita diciptakan

"Apa yang membantu manusia dalam perjalanannya menuju kebenaran dan Tuhan adalah cinta, kasih sayang, dan keakraban. Jalan menuju pada-Nya adalah melalui hati, bukan melalui rasionalitas dan bukan dengan filsafat. Semua bentuk penyempurnaan bersumber dari penyempurnaan hati, sehingga sebenarnya capaian rasionalitas juga disebut penyempurnaan." (Muthahhari, 2019:106).

“Perkenalan” saya dengan Murtadha Muthahhari awalnya bermula dari ketika saya baru-baru ini bergabung dengan teman-teman mahasiswa, organisasi Perubahan. Dari mereka, mahasiswa Islam ini, saya mengetahui sedikit tentang beliau yang bukunya terkadang menjadi rujukan materi keperubahan mereka. 

Buku Murtadha Muthahhari pun menjadi bahan referensi kajian diskusi disini. misalnya, Falfasah Pergerakan Islam.

Selain itu, seorang teman pengajar yang merupakan anggota organisasi himpunan juga menggunakan buku-buku Murtadha Muthahhari. Dia menjadikan buku-buku beliau sebagai referensi bahan bacaannya sebelum mengajar seperti buku yang berudul Falfasah Akhlak. Kemudian, dari sini, mulailah saya mencari buku Murtadha Muthahhari terutama pada teman di organisasi perubahan. Saya lalu mendapatkan buku beliau yang berjudul, Dasar-dasar Epistemologi Pendidikan Islam.

Saya Tertarik Pada Buku, "Mengapa Kita Diciptakan?"

Ketika saya berada di suatu toko buku. Saya tertarik melihat buku Murtadha Muthahhari yang dijual dan terletak didekat meja kasir. Buku yang sampulnya berwarna dominan hijau itu sangat mungil dengan ukuran panjang sekitar enam belas centimeter, dan lebar sekitar sepuluh sentimeter. Buku ini terlihat sangat ringan namun dengan judul yang berat, “Mengapa Kita Diciptakan. Dari Etika, Agama, dan Mazhab Pemikiran Menuju Penyempurnaan Manusia.”

Saya melihat cover belakangnya yang berisi selintas informasi buku; Mengapa kita diciptakan. Salah satu masalah fundamental yang harus diselesaikan oleh manusia adalah mencari tujuan hidupnya. Manusia selalu mengajukan beberapa pertanyaan seperti “Untuk apa dia hidup” dan “Apakah semestinya menjadi tujuan hidupnya”. Dalam pandangan Islam, seseorang juga semestinya bertanya tentang, “Apakah tujuan dan filosofi misi kenabian?” (Agama dan ideologi).

Saya melanjutkan membaca: setiap ideologi harus berdasarkan pada perspektif universal yang memandang alam ini sebagaimana mestinya, juga memandang manusia sebagaimana seharusnya. Sebaliknya, roh dari sebuah mazhab pemikiran harus memiliki wawasan dan evaluasi terhadap eksistensi, bukan hanya pada aspek filosofis tapi juga aspek religiusnya. Mazhab pemikiran tersebut harus menawarkan sesuatu untuk dicintai, pun memuat moralitas seperti halnya sistem sosial lainnya.

Pembahasan dalam buku ini: Tujuan Penciptaan, Landasan Etika Personal dan Etika Sosial. Agama, Mahzab Pemikiran dan Pandangan Dunia. Islam dan Penyempurnaan Manusia, Tauhid.

Saya lalu membelinya dengan harga, Rp. 35.000,. rupiah. Sesampai di rumah, saya segera membuka buku itu yang masih dalam bungkusan plastik itu. Dari keterangan didalam buku, saya melihat informasi buku ini.

Mengapa Kita Diciptakan. Dari Etika, Agama, dan Mazhab Pemikiran Menuju Penyempurnaan Manusia. Diterjemahkan dari buku Goal of Life karya Murtadha Muthahhari. Pernah diterbitkan oleh Pustaka Zahra dengan judul, Mengapa Kita Diciptakan? Penjelasan Islam tentang Tujuan Hidup Manusia. Cetakan Pertama, Syawal 1423H/ Januari 2003. Cetakan Ketujuh, Syakban 1440/ April 2019. Cetakan terbaru sejak Januari 2003. Namun, tidak ada kata terlambat untuk membaca dan belajar.

Kemudian, informasi selanjutnya. Penerjemah: Mustamin Al Mandary. Penyunting Yudi. Desain Sampul : Abdul Adnan. Penata Letak : M. Ruh. Diterbitkan oleh: Rausyan Fikr Institute. Jl. Kaliurang km 5,6 gg. Pandega Wreksa No. 1B Yogyakarta, Tep/Fax: 0274 540161. Website: www.rausyanfikr.org. FB: Rausyan Fikr. Twitter : rausyanfikr_ Hotline SMS: 0817 27 27 05. Kerjasama dengan Yayasan Fatimah Jakarta. ISBN : 978-602-1602-04-1.

Saya membaca ulang dibagian penerjemah. Penerjemah Mustamin Al Mandary. Suatu nama yang familiar. Apalagi kata Al Mandary-nya merujuk pada sukuku, Mandar. Saya kemudian mencari nama beliau di media sosialku, Face book (FB). Benar! Kami berteman. Saya pun menghubunginya melalui Messenger.

“Tabe, terjemahan ta ini, pak?”  

“Betul sekali.”

“Mantap, pak. Keren.”

“Makasih apresiasinya. Sudah dibaca?”

“Sama-sama, pak. Lagi mau membaca ini, pak. Ini kajian yang berat.”

“Ah, biasa itu.”

“Hebat, pak. Murtadha Mutahhari.”

“Kalau sudah khatam, bikin resensi di FB ya, lalu tag saya.”

“Wow keren. Semoga, pak. Makasih semangatnya, pak.”

Maksud pak Mustamin Al Mandary tentu saja untuk membesarkanku agar semangat untuk membaca pemikiran Murtadha Mutahhari yang kuanggap sangat berat. Ia pun meminta untuk membuat resensinya. Waduh, bisakah saya membedahnya? Rasanya tak mungkin, apalah diri ini.

Tapi kemudian saya menjadi tertantang juga untuk segera membacanya dan mungkin meresensinya walau memang buku ini bukanlah hasil dari pemikiran yang sederhana. Apalagi, bagi pemula bagi saya yang baru “berorganisasi Islam” dan belajar untuk mengerti tentang pemikiran model begini.

Daftar Isi:

Beberapa minggu kemudian karena adanya kesibukan lainnya. Saya pun akan mencoba meringkas buku “Mengapa kita diciptakan” dengan memulai membaca dari daftar isi: Memotret Muthahhari lebih dekat (Sebuah biografi). Oleh: M. Sadi Marsaoly, halaman 7. Ziarah Intelektual, halaman 10. Karya Holistik Muthahhari, halaman 16. Syahadah dan Mimpi yang Benar, halaman 19. Pengantar Penerjemah, halaman 23. Catatan Penyunting, halaman 27. Pengantar Penerbit Pertama, halaman 33. I. Tujuan Penciptaan halaman, 37. II. Landasan Etika Personal Dan Etika Sosial, halaman 57. III. Agama, Mazhab, Pemikiran dan Pandangan Dunia (World view), halaman 83. IV. Islam dan Penyempurnaan Manusia, halaman 97. V. Tauhid Islam, halaman 112. Dan terakhir, Lampiran, halaman 129.

Pepatah “Tak kenal, maka tak sayang” berlaku bagi saya yang ingin mengetahui tentang beliau, Murtadha Mutahhari. Dari bagian buku,  Memotret Muthahhari lebih dekat (Sebuah biografi) sampai Pengantar Penerjemah, menceritakan sedikit tentang biografi beliau.

Muthahhari dilahirkan di dusun Fariman, Masyhad, Khurazan, Iran Timur tahun 1918. Masyhad merupakan pusat belajar dan ziarah kaum Syi’ah. Menurut Dr. Wahidi Muthahhari, anak perempuannya, bahwa sejak di dalam kandungan, ibunya (Muthahhari) telah bermimpi yang luar biasa, yaitu ia disirami oleh air bunga yang sangat banyak oleh perempuan karena alasan janin dalam rahimnya.

Muthahhari memang berasal dari keluarga religious yang taat. Ayahnya Hujjatul Islam, Muhammad Husein Muthahhari, seorang ulama cukup terkemuka. Pada usia 12 tahun, Mutahhari memulai belajar agama secara formal. Cara belajar beliau yaitu mencatat semua yang telah dibaca (poin-poin penting dan garis besar pembahasan), hingga beliau memiliki buku catatan berdasarkan abjad. Bahkan beliau selalu menyarankan kepada kita ketika ingin membaca sebuah buku maka bacalah sebayak tiga kali: Pertama, bacalah! Kedua, pahamilah! Dan ketiga, dalamilah! Sampai beliau menghafal setiap buku yang beliau baca (halaman 9).

Mendapat pengajaran dari Mirza Mahdi Syahidi Ravavi seorang guru filsafat, Imam Khomeni. Beliau kemudian muncul sebagai seorang pemikir yang terpelajar dan berpandangan luas.

 Pada tahun 1954, beliau mengajar di universitas di Teheran pada fakultas Teologi dan ilmu-ilmu keislaman. Yang membuatnya menjadi pengajar masyhur dan efektif di univesitas. Beliau juga menjadi aktifis pada banyak organisasi keislaman yang profesional yang berada pada pengawasan Mahdi Bazargan dan Ayatullah Taleqani. Sejumlah karya-karya Muthahhari terbit dari organisasi ini (halaman 16).

Muthahhari mewakili kelompok "moderat" yang mengusung kebebasan berpikir yang bertanggung jawab dan bermartabat. Beliau adalah sosok pemikir dan ulama yang memiliki kualitas dalam penguasaan ilmu-ilmu Islam tradisional, pemikiran-pemikiran filsafat kontemporer, ilmu-ilmu sosial dan kemasyarakatan. Disisi lain, beliau merupakan sosok yang sangat sederhana, bersahaja, akhlaknya menjadi teladan, dan pejuang yang syahid tahun 1980 di Teheran (halaman 23-24).

Buku ini merupakan buku yang dikumpulkan dari ceramah Muthahhari ketika beliau membicarakan hal pandangan Islam tentang tujuan dan keniscayaan proses penyempurnaan manusia (halaman 24).

Ringkasan Bab I. Tujuan Penciptaan.

Pada bab ini dimulai dari pertanyaan yang melahirkan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan manusia yang mencari tujuan hidupnya. Pertanyaan: 1. Untuk apa manusia hidup? 2. Apakah yang menjadi tujuan hidupnya? 3. Apakah tujuan dan filosofi misi kenabian (bagi orang Islam)? Yang jawabannya adalah nabi diutus untuk membimbing manusia menemukan tujuan hidupnya.

Dan akhirnya, konsep ini melahirkan pertanyaan, apakah tujuan penciptaan manusia dan seluruh mahluk?

Tujuan Sang Pencipta dalam penciptaan merupakan manifestasi kehendak dan keinginan Sang Pencipta. Yang harus dipahami adalah tujuan penciptaan adalah untuk keperluan mahluk itu sendiri, bukan untuk khalik, Sang Pencipta. 

Manusia diciptakan dengan fitrahnya, fitrah (sebagai) manusia bahwa setiap orang memiliki potensi yang sama dalam dirinya serta mempunyai kemampuan yang sama dalam mencapai penyempurnaannya.

Topik tentang manusia dan kemampuan potensialnya menjadi hal penting dalam bab ini. 

Tujuan hidup manusia untuk mencari kebahagiaan dan ketenangan karena hidup adalah mencari kebahagian semaksimal mungkin dan menghindari penderitaan semampu mungkin. Dengan menikmati manifestasi yang (diberikan) oleh Pencipta dan (berharap) tidak mengalami gangguan oleh mahluk lain. 

Para nabi diutus untuk untuk membimbing manusia dalam mencari kebahagiaan, yang hanya bisa ditemukan dalam penghambaan tulus kepada Tuhan (halaman 44-45).

Manusia diciptakan untuk mengabdi, dan pengabdian kepada Tuhan adalah tujuan itu sendiri. Manusia harus menemukan Tuhan mana yang akan dia sembah. Sehingga, tujuan penciptaan manusia adalah kembali ke Tuhan. Dan itulah yang ditawarkan Islam. 

Seperti firman Allah SWT dalam Q.S. 6:162. "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Ringkasan Bab II. Landasan Etika Personal Dan Etika Sosial.

Pada bab ini, Muthahhari masih membahas manusia. Manusia adalah individu yang hidup berkelompok. Mereka sebagai mahluk sosial yang mempunyai kehidupan sosial. 

Kehidupan sosial berarti kebersamaan seluruh komponennya dalam mencapai tujuan, baik tujuan material maupun spiritual (halaman 57).

Setiap manusia memiliki kerangka pikiran yang berbeda. Disini, Muthahhari mengutip pendapat Betrand Russel yang mengatakan bahwa dasar dan asal etika sosial adalah kepentingan individu dalam anggota masyarakat yang merupakan bentuk kesepakatan antarindividu dalam suatu komunitas sehingga kesepakatan itu melindungi kepentingan-kepentingannya. 

Dalam Muthahhari, Russel mencontohkan: "Jika saya ingin memiliki sapi tetangga saya, (pasti) tetangga saya juga akan memiliki sapi saya. Saya tidak akan mendapatkan keuntungan malah kerugian. Maka, lebih baik, saya menghargai (kepemilikan) sapi milik tetangga saya, jadi dia pun menghargai (kepemilikan) sapi milik saya sendiri."

Muthahhari juga mengkritisi pemikiran Marxisme, yang menurutnya tidak memperhitungkan nilai-nilai spiritualitas manusia serta kesadaran moral. Menurut Muthahhari, penekanan prinsip ini hanya pada kepemilikan sebagai sumber kezaliman dan penindasan.

(Karena) kepemilikan pribadi harus diganti dengan kepemilikan negara atau komunal sehingga dengan sistem ini setiap orang akan bekerja berdasarkan kemampuannya serta menerima kompensasi dari negara sesuai dengan kebutuhannya (halaman 62).

Menurut kelompok yang bermazhab Marxisme ini, dengan jalan kepemilikan negara akan mewujudkan keadilan, ketenangan, ketentraman yang didalamnya akan terbentuk moral yang baik pula.

Namun konsep ini menurut Muthahhari, tidak dapat dibenarkan dengan alasan bahwa ketika kepemilikan pribadi dihapuskan, kita (akan) masih melihat penyelewengan dan penindasan. 

Sehingga, anggapan bahwa sistem komunisme yang terbaik dalam sistem kemasyarakayan adalah klaim yang non sense. 

Pemikiran dua tokoh diatas, Betrand Russel dan Marx masih bersifat materi. Sehingga, Muthahhari mempertanyakan konsep nilai dan spiritualnya. 

Apakah ada "nilai" dari setiap sikap dan tindakan manusia? Walau kata nilai itu sendiri, dapat dipadankan baik dengan sesuatu yang bersifat materi maupun spiritual.

Sedangkan hidup ini perlu tindakan yang bertujuan spiritual. Spiritual adalah sesuatu yang paling penting bagi kehidupan manusia. Sehingga melahirkan pertanyaan-pertanyaan, apakah spiritual berhubungan dengan Tuhan, atau spiritual tidak berhubungan dengan kepercayaan kepada Tuhan. Atau spiritual yang tidak berhubungan dengan Tuhan namun memberikan nilai-nilai pada kehidupan spiritual manusia?

Pada akhirnya, semua mazhab pemikiran dan sistem sosial memerlukan nilai-nilai spiritual. Sebuah ideologi (baru) yang membuat nilai-nilai materi akan menjadi kuat dan suci. Kesucian ini membuat orang mengorbankan apa saja termasuk kehidupannya sendiri.

Oleh karena itu, setiap mahluk mempunyai tujuan dalam penciptaannya, kepada tujuan itulah ia harus merujuk dalam melakukan semua tugas dan tanggung jawabnya.

Ringkasan Bab III: Agama, Mazhab Pemikiran, Dan Pandangan Dunia (World View). 

Agama dan ideologi dapat dipahami secara logis. Ideologi memerlukan defenisi intelektual maupun batasan filosofis. Baik agama dan ideologi mensyaratkan adanya perspektif universal yaitu logika dan wawasan khusus yang juga didukung oleh argumentasi sistematis tentang dunia dan alam. 

Agama memberikan kekuatan kepada sebuah ideologi untuk menciptakan kasih sayang dan cinta terhadap tujuan-tujuan yang lebih tinggi dibanding tujuan-tujuan individualistik saja (halaman 84).

Lalu, bab ini juga membahas tentang mazhab pemikiran. Mazhab pemikiran adalah suatu sistem praktis tunggal yang berhubungan dengan sains teoritis.

Sebuah mazhab pemikiran adalah kumpulan ide-ide harmonis yang berhubungan dengan kehidupan nyata, yakni tentang apa yang diizinkan dan apa yang tidak dibolehkan (halaman 86).

Ada kalimat menarik dibawah ini, yang biasa kita dengar dan baca, menjadi kutipan dalam hidup.

"Agar bisa konstruktif, manusia itu harus selalu melihat ke masa depan, bukan terbelenggu oleh masa lalu, dan terpenjara oleh masa kini."

Setiap pandangan dunia berbeda dengan pandangan dunia lainnya. Namun, pandangan hidup tauhid mensyaratkan kewajiban Ilahiah, sementara eksistensialisme, kehilangan landasan spiritualnya. 

Lebih lanjut dari paragraf ini adalah bahwa setiap orang memiliki kebebasannya masing-masing. Namun yang menjadi pertanyaan apakah kebebasan (itu) bertanggung jawab? Bertanggung jawab buat diri sendiri dan (bermanfaat) bagi orang lain?

Lalu Muthahhari kembali pada pandangan dunia tauhid. Tauhid memberikan cita-cita, kewajiban, dan tanggung jawab sehingga menjadi petunjuk hidup.

Dengan pandangan tauhid, tujuan hidup sudah ditentukan dari awal, jelas, dan tanpa batas. Pandangan ini menjafi mahzab pemikiran untuk mencapai cita-cita sekaligus menjadi kekuatan motivasi (halaman 94). 

Ringkasan Bab. IV. Islam dan Penyempurnaan Manusia. 

Awal bab ini kita akan langsung disuguhkan pertanyaan, Apakah yang dimaksud dengan Iman? 

Iman adalah:

1. Keyakinan terhadap Allah.

2. Kepercayaan akan keberadaan malaikat, kitab-kitab-Nya, para nabi, hari kebangkitan, dan sebagainya.

Kemudian, pertanyaan selanjurnya: apakah iman menjadi tujuan hidup manusia atau hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lain?

Semua tujuan (iman) ini adalah untuk manusia. Tak ada satupun tujuan yang dinisbatkan kepada Allah sendiri. Tujuan tersebut merupakan capaian-capaian manusia menuju penyempurnaannya (halaman 97).

Berbicara tentang penyempurnaan, kesempurnaan. Bab ini juga membahas pandangan spiritual dalam melihat kesempurnaan manusia adalah dengan berbagai versi sebagai berikut:

1. Pandangan Gnostik (sufi) tentang konsep "Manusia Sempurna" atau disebut juga Insan Kamil. Pandangan ini dari ajaran agama dan ide-ide seperti Adam, para nabi, para wali, dan manusia sempurna yaitu Mahdi yang dinantikan. 

Seseorang disebut sempurna jika dia telah memahami kebenaran dan menyatu di dalamnya. Itulah mengapa, siapa yang mengenal kebenaran itu dengan sempurna, maka dia mengenal dirinya. Dengan menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan manusia dan melebur kedalam sifat Tuhan. 

Mungkin ini sesuai dengan prinsip Syeh Siti Jenar, manunggaling kawula gusti yang berarti ruh yang bersatu dengan Tuhan menghilangkan diri sendiri.

Dan manusia yang sempurna itu telah melewati banyak tahapan perjalanan spiritual, maqam. Jalan menuju pada-Nya melalui hati, bukan rasionalitas, dan bukan dengan filsafat.

2. Pandangan Teosofi (ahli teosofi, perpaduan teologi dan filsafat).

Mereka menganggap penyempurnaan manusia adalah 

a. konteks umum dari pengetahuan tentang alam dan ilmiah yang menyeluruh. Alam yang subjektif adalah alam yang ilmiah dan berada dalam wilayah intelektualitas. Alam subjektif berkorespondensi dengan alam objektif. Contoh, benda material dan non material. 

b. Manusia sempurna memiliki hikmah dan keadilan. Keadilan moral lalu sosial. 

Lalu pendapat bahwa kesempurnaan manusia terletak pafa perasaanya, yaitu rasa cinta yang dimilikinya. Seseorang yang lebih memiliki kasih sayang (etika)

Pendapat lain, kesempurnaan manusia pada keindahannya, keindahan batinnya atau jiwanya.

Kemudian ada pandangan barat yang berpaham materialistik, teori Darwin bahwa, manusia sempurna adalah manusia yang kuat, Survival of the fittest. Kesempurnaan terletak pada kekuatannya. Sama halnya juga filsafat Nietsche (dan Bacon) bahwa kesempurnaan manusia terletak pada kekuasaannya. 

Ringkasan Bab. V. Tauhid Islam.

Bab ini merupakan lanjutan dari bab sebelumnya, bab IV. Bab ini akan merangkum semua konsep yang dijelaskan sebelumnya.

Sehingga, kalimat awal yang kita baca adalah, bagaimana pandangan Islam tentang kesempurnaan manusia? Jika sebuah mazhab pemikiran ingin mendapatkan pengikut, maka ia harus memberikan petunjuk dan jalan bagi penyelesaian bagi pengikutnya, menunjukkan arah dan tujuannya, serta mengajak pengikutnya menuju tujuan tersebut (halaman 113).

Muthahhari mengatakan konseptualisasi dari manusia sempurna merupakan sesuatu yang fundamental. Maksudnya, ini menjadi bagian dari kajian diskusi tentang ajaran dan ideologi Islam.

Bahwa kaum sufi mengatakan manusia yang sempurna itu adalah manusia yang telah sampai pada kebenaran, kebenaran Tuhan (kembali ke Tuhan). 

Bagi kaum teosof, puncak pencapaian mereka dengan hikmah,  pemikiran dan pemahaman (akal dan logika). 

Kelompok lain menganggap kesempurnaan manusia dengan cinta.

Ada lagi mazhab pemikiran (Socratis) yang beranggapan keindahan adalah esensi kesempurnaan manusia. 

Kemudian, bagaimana Islam memandang semua pendapat ini?

1. Menurut para sufi, penyempurnaan manusia hanya melalui kebenaran. Pendapat ini tidak dapat diterima sepenuhnya. Karena jika Tuhan dianggap sebagai seorang bapak yang mempunyai anak-anak maka Muthahhari menganggap logika Islam tentang Tuhan jauh lebih tinggi dari itu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat diperbandingkan dengan Allah. Jika Allah adalah Realitas, maka selain-Nya hanyalah fotomorgana, atau bayang-bayang (halaman 118).

2. Untuk hikmah, seperti klaim para teosof, sebagai 'wujud' penyempurnaan manusia. Hikmah merupakan karunia bagi manusia. Al quran berkata, "Allah memberikan karunia hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberikan kebajikan yang banyak." (Q.S. 2:269). 

3.  Tentang konsep keadilan, yakni keadilan sosial, Islam memandang bahwa ia merupakan keniscayaan (sesuatu yang harus ada) dalam penyempurnaan manusia. Keadilan sosial ini sangat berhubungan dengan moralitas sosial yang menjadi syarat kesempurnaan manusia (halaman 120-121). 

4. Jika berbicara cinta sebagai wujud kesempurnaan manusia, maka riwayat tentang "Kebaikan dan saling menyayangi" adalah jawabannya. Saat itu Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya, apakah yang membuat iman menjadi kuat? Lalu dijawab dengan berbeda-beda, dengan jawaban, salat, puasa, haji, dan lain sebagainya. Namun, jawaban itu belum benar. Rasulullah kemudian bersabda, "Kecintaan terhadap sesama karena Allah, itulah yang membuat iman kuat." (halaman 121).

Sehingga, kesimpulan akhir dari Muthahhari adalah iman. Iman kepada Allah adalah tujuan itu sendiri. Adanya iman dengan semua pengaruhnya dalam hidup manusia menjadikan iman sebagai penghubung antara manusia dan Allah. Dan Islam memandang, hubungan seperti inilah yang menjadi jalan dalam proses penyempurnaan kemanusiaan, jalan yang tanpa batas dalam perjalanan panjang manusia kembali ke asalnya (halaman 126-127).

Respon (pada) buku.

Finally, saya bisa menamatkan buku kecil tapi besar ini. Setelah saya bolak balik membaca, dan mencoba untuk mengerti isinya (walau tak banyak mengerti-mengerti juga!). Semuanya, karena keterbatasan saya. 

Buku ini merupakan pemikiran besar Ayatullah Murtadha Muthahhari, dari kumpulan ceramah beliau. Setiap bab dalam buku ini memiliki kesinambungan dengan bab lainnya. Dan selalu ada benang merah antara bab satu dengan bab lainnya. 

Menurut saya buku ini merupakan buku filsafat, dimana setiap melangkah dari paragraf satu ke paragraf lainnya, kita akan selalu diajak berpikir dengan berbagai pertanyaan. Buku ini juga selalu membandingkan pemikiran-pemikiran ala barat yang (kurang) sesuai dengan konsep Islam.

Benar saja, kata pengantar penerbit pertama bahwa buku ini membantu generasi muda kita dalam melakukan revolusi spiritual dengan (mencoba) menyuguhkan sebuah pemahaman yang matang mengenai tujuan hidup yang sebenarnya.

Alhamdulillah, pemikiran beliau, Ayatullah Murtadha Muthahhari, yang merupakan pemikir Islam. Semoga menjadi sumber pemikiran yang baik bagi generasi muda juga generasi tua yang mau berpikir untuk masa depannya, untuk apa kita diciptakan. Dan jawabannya akan kembali ke Tuhan (Islam). 

Nobody's perfect, ini berlaku bagi saya, yang baru belajar membaca pemikiran beliau. Semoga ringkasan ini berkenan bagi kita semua. Terima kasih. 

LA, 180619







Artikel Terkait