Peneliti
2 bulan lalu · 197 view · 4 menit baca · Tips & Trick 27994_96349.jpg

Pemikiran Jenius Seorang Buruh Tani

Setiap perubahan yang terjadi tidak terlepas dari pemikir-pemikir jenius manusia. Sebagai makhluk satu-satunya yang diberikan kemampuan dan pertanggungjawaban terhadap setiap apapun yang terjadi di alam semesta ini.

Manusia tidak dapat melakukan suatu perubahan apa pun kalau manusia tidak mampu untuk berpikir. Umumnya hilang pikir (aql) manusia akan menyebabkan orang jadi gila, sehingga tidak mungkin perubahan darinya diharapkan. 

Apalagi kebanyakan (umumnya) dalam masyarakat, orang gila merupakan seseorang manusia yang tidak lagi dipandang sebagai keberuntungan namun lebih menempatkan diri pada manusia yang negatif (diskriminasi sosial).

Disalah satu daerah hiduplah seorang petani kopi, sebut saja namanya pak BK. Ia merupakan salah satu dari beberapa petani di desa tersebut yang berhasil dan memiliki motivasi tinggi untuk mampu mengelola hasil panen/ladangnya sendiri (merdeka ekonomi dan merdeka politik).

Merdeka ekonomi dan politik merupakan gambaran standar kehidupan untuk kategori menengah ke atas, yakni secara politik ia bebas untuk berekspresi sedangkan secara ekonomi ia sudah mandiri dari kerja kerasnya sendiri.

Malam itu, pertemuan antara penulis dan pak BK (inisial dari buruh tani), memberikan beberapa strategi yang sangat penting bila petani maupun buruh tani juga menerapkan strategi ini dalam merubah kehidupan yang lebih layak dari sekarang.

Dalam kesempatan ini, penulis akan membeberkan beberapa poin penting yang dapat diambil dari pemikiran jenius pak buruh tani tersebut, antara lain: pertama, memperbaiki/menjaga perawatan lahan tanah (sawah/ladang) dengan baik. 

Pada tahap ini (pertama), seorang petani perlu memperbaiki dan melakukan perawatan dari kebun/sawahnya dengan baik. Karena suatu harapan agar tumbuhan yang dihasilkan baik tidak terlepas dari lahan yang baik dan terawat.

Catatan untuk tahap ini, kebanyakan orang lebih berfokus pada tanaman atau hasilnya, sehingga kemungkinan yang ada lahan jarang sekali lebih difokuskan untuk perawatan. Bayangkan jika lahan tidak terawat, ke mana tanaman dapat mencari makan karena tumbuhan juga makan (membutuhkan makanan sebagai makhluk hidup). 

"Sawah atau ladang yang baik akan menumbuhkan tanaman yang baik." - Pak Buruh Tani (BK).

Kedua, ini merupakan berbarengan dengan poin pertama, yakni mengubah pola pikir petani atau buruh tani. Kesamaan dengan poin pertama karena pada poin kedua juga merupakan hal yang sangat penting dilakukan sebelum memfokuskan pada tanaman yang dihasilkan dari suatu sawah atau ladang.

Pada tahap ini, seorang buruh tani atau petani harus melakukan pendidikan yang memperhatikan bahwa petani adalah kemerdekaan yang tidak terpandang. Merdeka petani sesungguhnya tidak terlepas dari pola pikir yang digunakan.

Ada alasan kenapa petani perlu mengubah pola pikir, antara lain: petani semustinya menanam apa yang menjadi kebutuhannya, petani semustinya menjaga ladang/sawahnya agar tetap produktif (hindari perusakan sawah dan ladang), petani harusnya mau berusaha untuk menjadi pekerja agar menghindari menjadi agen konsumen (artinya tanaman yang ditanam adalah kebutuhan bukan sekadar berorientasi pada penjualan).

Kemungkinan agar tidak terjadi pola pikir sebagai konsumen adalah petani perlu merdeka untuk menentukan tanaman yang akan ditanam dalam lahan-lahan sawah atau kebunnya. Dengan melihat kebanyakan sekarang petani lebih memilih untuk melakukan dunia sawah hanya sebatas untuk meraup keuntungan atau berorientasi pada uang yang dilakukan dengan menanam apa yang diperintahkan atau diminta dari produsen.

Inilah yang menjadi poin ketinggalan kaum petani terhadap kemerdekaan politiknya bahwa mereka hanya sebatas pada konsumen bukan lagi sebagai petani yang merdeka (produsen).

Ketiga, petani perlu untuk menjadi produsen seperti yang sedikit penulis singgung di poin ke dua.

Dengan melihat saat ini kebanyakan petani lebih memilih sebagai konsumen, artinya sawah dan ladang mereka lebih menyediakan bahan mentah yang nantinya tergantung pada produsen dari luar dirinya yang menentukan harga guna (jual beli). 

Ini pula yang menjadi dominan dalam pemikiran petani, sangat berbeda dengan dunia pertanian nenek moyang kita dahulu yang dari ladang atau sawah mereka menunjukan bahwa mereka adalah produsen kehidupan, maka tidak heran kalau Mbah Hasyim Asy'ari pernah mengatakan bahwa petani adalah penolong negeri.

Kemungkinan dari memilih sebagai konsumen maka tidak lain kemerdekaannya tidak akan tercapai selama petani tidak memiliki peran sebagai produsen. Produsen pula yang nantinya akan menentukan pasar jual beli maka tidak heran kalau petani akan selamanya hidup dalam ketiadaan kecukupan hidup selama itu petani masih sebagai konsumen (pola pikir konsumen).

Dari ke tiga poin di atas merupakan hasil yang penulis ambil ketika beberapa hari lalu ketemu dan berdiskusi dengan seorang buruh tani.

Dalam pesan terakhir diskusi dengan penulis, ia sempat berpesan dengan berkata bahwa: "sesungguhnya petani adalah merdeka, yang mampu mengelola tanah/sawah dengan menjaga produksi sawah yang baik akan menghasilkan tanaman yang baik, begitu pula meninggalkan pikiran sebagai konsumen adalah kemerdekaan dalam berpikir."

Lanjutnya: "orang akan mencari anda jika kualitas hasil tanaman dari sawah anda bagus, sawah yang dirawat akan menghasilkan tanaman yang berkualitas."

Catatan penting untuk pembaca, bahwa ia sendiri tidak mau disebut sebagai petani karena ia juga merupakan buruh artinya bekerja di sawah sendiri, dan Tani artinya memiliki sawah yang dirawatinya sendiri. Maka jika digabungkan, Buruh Tani memiliki makna bahwa seorang petani yang bekerja di sawah sendiri, menghasilkan tanaman dengan kerja keras sendiri dan merdeka karena juga memproduksi sekaligus konsumen dari hasil dari sawah sendiri.

Maka jika petani memiliki keinginan yang kuat untuk melangsungkan kehidupan tentu tidak ingin hanya sebagai konsumen, lebih dari itu harus sebagai produsen.