Sebenarnya, sudah banyak tulisan yang mengulik tokoh pergerakan ini. Namun, kali ini kita akan membahasnya dalam segi pemikiran sosok yang dijuluki sebagai raja Jawa tanpa mahkota tersebut. Tokoh yang kerap dianggap sebagai singa mimbar ini, karena kepiawaiannya dalam berorasi dengan lantang tanpa pengeras suara, lahir 16 Agustus 1882.

Nama kecilnya ialah Oemar Said. Terlahir di sebuah kampung kecil di Madiun, beliau berasal dari keluarga Raden Mas Tjokromiseno. Sedangkan, ibunya merupakan putri dari ulama masyhur di Madiun, yang bernama Kyai Bagus Kasan Besari. Dengan latar belakang keluarganya, beliau mendapatkan pendidikan agama secara intens, sekaligus pendidikan Barat yang beliau dapat karena lazimnya bangsawan pada masa itu.

HOS. Tjokroaminoto memang sering kali dikenal sebagai pemimpin Sarekat Islam dan juga guru para pendiri bangsa, seperti Ir. Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo, yang nantinya ketiga orang tersebut saling mempunyai ideologi tersendiri dalam mendirikan Negara. Namun, barangkali kita terlalu sering membahas tentang sepak terjang HOS. Tjokroaminoto dalam berpolitik di Sarekat Islam.

Padahal, di samping sebagai pemimpin sebuah organisasi perjuangan kemerdekaan yang berbasis keislaman, beliau juga merupakan seorang penulis dan pemikir, yang selama ini jarang kita kaji lagi pemikiran beliau. HOS. Tjokroaminoto menulis sebuah buku yang autentik memuat pemikiran beliau yang berjudul “Islam dan Sosialisme.”

Dalam buku tersebut, memuat berbagai sudut pandang beliau tentang Sosialisme yang berbeda dari kebanyakan pemikiran lainnya, karena beliau membahasnya dengan menyangkutkan Sosialisme dengan Islam. Dalam tulisan di buku tersebut, HOS. Tjokroaminoto berusaha memaparkan Sosialisme yang terkandung dalam nilai-nilai Islam.

Menurut HOS. Tjokroaminoto, dengan mengutip Surah Al-Baqarah ayat 213 yang berbunyi “Kānan-nāsu ummataw wāḥidah” yang berarti “Manusia itu adalah umat yang satu,” beliau menjelaskan selanjutnya bahwa segenap umat manusia kita anggap sebagai satu persatuan, tak boleh tidak kita wajib berusaha untuk mencapai keselamatan bagi mereka semuanya. Oleh karena itu, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan “Sosialisme cara Islam.”

Tidak hanya itu, dalam penuturan beliau dalam buku tersebut, terdapat penjelasan tentang perintah-perintah dalam Islam yang bersifat Sosialistik. Seperti yang dilakukan oleh kaum muslim yang wajib menunaikan Sholat Jum’at dengan berkumpul menjadi satu, meskipun dengan berbeda latar belakang, kaya ataupun miskin, dari berbeda suku bangsa dan warna kulit.

Dan hal ini, beliau jelaskan juga tentang Sholat Id di dua hari raya, maupun ibadah Haji yang menurut HOS. Tjokroaminoto sebagai satu pertunjukkan Sosialisme cara Islam dan merupakan contoh besar persamaan dan persaudaraan yang terkandung dalam nilai-nilai Islam. Islam sangat memerhatikan persaudaraan sebagai pondasi dalam membangun peradaban, serta mencegah permusuhan.

HOS. Tjokroaminoto juga menjelaskan tentang perkawinan yang berdasarkan Sosialisme dalam nilai-nilai Islam, bahwa perkawinan merupakan perjanjian(kontrak) sesuai hukum Islam, dan perkawinan seharusnya dilaksanakan dengan sederhana saja, tidak berlebihan.

Tidak hanya itu, HOS. Tjokroaminoto menjelaskan bahwa jika seorang istri dipoligami oleh suaminya, si istri dapat mengajukan gugatan cerai dengan berbagai tuntutan, dengan cara sebelum menerima sebuah lamaran, pihak perempuan dapat terlebih dahulu mengajukan dalam kontrak perkawinan.

Dengan begitu, suami tidak dapat berlaku sewewenang memperlakukan istrinya. Maka dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa HOS. Tjokroaminoto sangat menghormati hak-hak perempuan dalam perkawinan.

Sedangkan, dalam memperjuangkan kemerdekaan, HOS. Tjokroaminoto menjelaskan bahwa tiap-tiap orang Islam tidak harus takut kepada siapa atau apapun juga, melainkan diwajibkan takut kepada Allah saja, sehingga hal ini beliau buktikan ketika dalam menjadi pemimpin Sarekat Islam yang dalam sejarah, enggan untuk berkompromi dengan Belanda.

Beliau menghabiskan waktunya dengan menghimpun kekuatan masyarakat, terutama umat Islam yang terhimpun dalam Sarekat Islam, yang waktu itu merupakan organisasi dengan massa terbesar untuk melawan Belanda. Tak dipungkiri, bahwa Sarekat Islam mempunyai andil besar dalam membawahi umat Islam pribumi untuk melakukan kemandirian dalam bidang ekonomi.

Dengan begitu, masyarakat Islam pribumi dapat bersaing dengan masyarakat Arab maupun masyarakat Cina dalam perdagangan. Dengan memupuk spirit ekonomi yang berdikari, hal demikian secara tidak langsung dapat memengaruhi masyarakat pribumi untuk memperjuangan kemerdekaan bangsa.

Bahkan, beliau merupakan sosok guru bagi Ir. Soekarno yang nantinya akan menjadi Proklamator kemerdekaan Indonesia. Dengan kata lain, perjuangan beliau akhirnya menjadi kenyataan walaupun beliau tidak sempat untuk merasakan kemerdekaan secara langsung.

Sebagai penutup, sebenarnya masih banyak sekali pemikiran beliau yang belum saya cantumkan dalam tulisan ini, karena keterbatasan ruang. Yang jelas, pemikiran beliau yang telah saya paparkan, dapat kita ambil hikmahnya.

Bagaimanapun, beliau merupakan salah satu tokoh pahlawan Nasional yang dapat kita jadikan teladan dalam bersikap dalam bersatu, sebagaimana yang beliau harapkan dalam buku dan perjuangannya. Maka, beliau telah menjadi teladan kita bersama dalam memberikan yang terbaik bagi bangsa dan agama.