Membaca Selaput Daramu Masih Utuh, Kau Hanya Terluka Sedikit, saya menemukan beberapa kejanggalan. Dari pemahaman saya yang mungkin keliru mengenai tulisan ini dan pengalaman saya yang masih terbatas dalam kasus-kasus pemerkosaan, saya coba menuliskan artikel ini.   

Memahami dan  mengakui luka-luka korban, dan izinkan korban memeluk luka-lukanya

Pertama, menyatakan pada korban pemerkosaan bahwa selaput daranya masih utuh dan ia hanya terluka sedikit, saya melihatnya sebagai bentuk pengecilan (minimalisasi) luka-luka korban, yang menjadi semacam penyangkalan terhadap kondisi korban yang sebenarnya. 

Tulisan ini berbicara mengenai korban pemerkosaan berulang, yang sampai mengandung dan melahirkan akibat pemerkosaan. 

Menyatakan bahwa selaput daranya masih utuh dan ia hanya terluka sedikit, saya kira bukan hanya tidak menghibur atau menenangkan korban (jika ini tujuannya), tetapi juga menyangkal statusnya sebagai korban. 

Bagaimana kita dapat membantu korban untuk menemukan aspek-aspek diri jika pendampingan kita mulai dengan penyangkalan bagian diri korban itu sendiri (bahkan yang sangat penting karena sifatnya yang traumatis)? 

Korban pemerkosaan tidak terluka sedikit. Meski tingkat dan dampak kekerasan yang ia terima sering kali harus dikuantifikasikan oleh aparat penegak hukum yang mengacu kepada prinsip-prinsip hukum positif. Luka-luka korban sendiri tidak seharusnya dikuantifikasikan apalagi dinyatakan “sedikit”. 

Saya yakin bukan ini yang hendak dimaksud oleh Masthuriyah Sa'dan, salah satu dari yang sedikit yang bergerak di isu ini. Dari isi tulisan, saya ikut merasakan kepedulian beliau terhadap korban. Namun menujukkan kalimat ini kepada korban terdengar “meremehkan” luka-luka korban.  

Dalam pandangan saya, luka-luka korban harus diakui, sebelum kita sebagai pendamping/terapis dapat membantunya untuk menerima luka-luka tersebut, memeluknya menjadi bagian dari diri. Ini adalah bagian hidupnya; masa lalu, yang akan membangun dirinya yang sekarang dan akan datang. 

Realistis dan optimis

Mengacu kepada salah satu prinsip dasar trauma therapy, hendaknya kita membangkitkan sikap realistis tetapi optimis pada diri korban.

Realistis dalam bentuk menerima bahwa peristiwa buruk sudah terjadi; ia tidak dapat diubah; ia tidak dapat dibatalkan. Realistis bahwa korban pemerkosaan sudah mengalami pemerkosaan (dan bahwa selaput daranya mungkin saja sudah tidak utuh).

Optimis dalam bentuk pemahaman baru bahwa tidak semua yang dihasilkan dari peristiwa buruk hanyalah yang buruk saja. Meskipun peristiwa itu tidak dapat diubah, namun kehidupan tidak berhenti sampai di sini, masa depan yang indah masih sangat mungkin dimiliki.

Luka korban tidak sebatas pada “tidak lagi perawan”

Kedua, dengan memberikan judul Selaput daramu masih utuh untuk tulisan mengenai korban pemerkosaan, (yang berulang, dan mengalami banyak dampak lanjutan akibat tindakan pemerkosaan ini), saya mendapat kesan bahwa penulis (atau pemberi judul?) berfokus pada selaput dara korban. 

Di sini saya hendak mengutip Friska Melani, alumnus Kajian Wanita UI: ”Seolah-olah luka korban pemerkosaan hanya dimaknai sebatas keperawanannya yang “terenggut” (saya kurang sreg dengan istilah ini yang masih bernuansa patriarkal, mungkin ada rekan pembaca yang dapat memberikan padanan kata yang lebih cocok?)”

Dengan memaknai luka-luka korban pemerkosaan sebatas pada selaput daranya, kita mengukuhkan ide-ide patriarkal tentang keperawanan dan mitos (patriarkal) tentang selaput dara. 

Hal ini tentu bertentangan dengan salah satu tujuan dari terapi feminis itu sendiri: membawa perubahan dalam masyarakat; dalam arti, mendobrak sistem patriarki. 

Saya kira penulis tidak bermaksud demikian mengingat beliau merekomendasikan pendampingan korban oleh konselor feminis, dan menyinggung perihal ketimpangan relasi gender. Saya yakin penulis tidak membatasi luka-luka korban hanya pada keperawanan yang “terenggut”. 

Dalam artikel, penulis menyebutkan beberapa konsekuensi yang harus ditanggung korban akibat tindak pemerkosaan berulang ini: menjadi bahan obrolan dan gunjingan dari masyarakat sekitar, dikeluarkan dari sekolah, putus sekolah, tak punya ijazah, tak punya pekerjaan, termiskinkan secara struktural.”

"Kematian" korban dan traumatisasi tubuh

Bayangkan remaja 15 tahun mengalami pemerkosaan berulang di tengah hutan yang sepi dan mencekam.

Bayangkan intensitas rasa takutnya, ekstremitas stres-nya, ketidakmampuannya melawan, ketidakmampuannya bergerak (baik fisik maupun psikologis, dalam arti ketidakberdayaan). 

Korban pemerkosaan merasa dirinya sudah mati pada hari pemerkosaan itu. Pemerkosaan merampas kepemilikan korban atas dirinya. Korban merasa dirinya bukan lagi miliknya karena tubuhnya telah dikuasai pelaku. 

Korban merasa asing dengan dirinya sendiri, korban merasa jijik dengan tubuhnya, merasa pelaku (makhluk asing; sesuatu yang asing) terus menempel pada setiap milimeter kulit tubuhnya.  

Tidak, pemerkosaan tidak sebatas persoalan selaput dara. Pemerkosaan bukan sekadar persoalan keperawanan yang “terenggut”. Dalam pemerkosaan, kepemilikan atas tubuh dan diri seutuhnya yang dirampas. 

Ada korban yang mengalami apa yang dinamakan disosiasi traumatis, yaitu kehilangan ingatan akan peristiwa (-peristiwa itu, untuk kasus pemerkosaan berulang), dan semua yang mereka alami pada tahun-tahun itu. 

Ada pula korban yang menjalani hidupnya dengan mengalami depersonalisasi, salah satu bentuk lain dari disosiasi. Mereka melihat dirinya dari kejauhan, mengamati dirinya sendiri. Ini adalah akibat dari stres ekstrem saat peristiwa berlangsung yang seperti memutus koneksi syaraf-syaraf otak. 

Korban seperti membelah tubuh dan jiwa; jiwanya keluar dari tubuh untuk mampu bertahan dalam momen-momen penyiksaan itu, untuk tetap bertahan hidup meski dikuasai rasa takut luar biasa. Bertahun-tahun pasca-pemerkosaan, mereka tetap merasa terjebak dalam tubuh yang tidak lagi mereka hayati sebagai tubuhnya.

Dalam kasus Ayu, saya kira ia mengalami berulang kali traumatisasi tubuh. Pemerkosaan berulang, kehamilan tak diinginkan, dan kematian bayi yang baru saja ia lahirkan (baca: keluar dari tubuhnya)... 

(Mengenai kehamilan, pengalaman perempuan bersifat personal. Kehadiran makhluk “lain” di rahim dapat dihayati secara berbeda-beda pada diri tiap perempuan, korban pemerkosaan ataupun bukan).

Tidak harus dengan bicara

Keluarga Ayu tampaknya berharap Ayu mau bicara. Bicara apa? Pengalaman traumatisnya yang telah terjadi hampir 20 tahun silam? Dengan orang yang baru saja dikenal? 

Baca Juga: Perawan?

Kita cenderung berpikir bahwa berbicara dapat membantu melegakan korban. Mungkin, bagi yang memang ingin bicara. Ketika rasa percaya sudah terbentuk antara korban dengan konselor, korban dapat mulai bercerita. 

Tetapi korban pemerkosaan cenderung tidak ingin bicara. Karena bicara berarti menayangkan ulang kejadian. Miris hati saya membaca bahwa keluarga Ayu bercerita tentang pengalaman tragis ini kepada penulis di depan Ayu sendiri.  

Jean-Pierre Klein, salah satu pelopor terapi seni di Prancis, menyatakan bahwa “memaksa” korban untuk bicara tentang peristiwa itu sama saja dengan kita melakukan kembali pemerkosaan itu. 

Terapi dengan melakukan aktivitas kreatif seperti menulis, berdansa, melukis, menggambar, menenun, memotret, bermain drama/teater, dll, kini makin banyak dilakukan.

Laurence Fisher, peraih gelar Juara Dunia Karate, membantu pemulihan korban pemerkosaan dengan ber-karate.  Karena tubuh mereka yang teraniaya; untuk memulihkannya, perlu ada re-koneksi antara pikiran, tubuh, dan jiwa. Laurence meyakini karate dapat membantu korban untuk melakukan re-koneksi ini.

Sebagai penutup, Masthuriyah Sa’dan menuliskan bahwa perempuan tetap berharga meski ia tidak perawan. Saya setuju, tetapi kata “meski” menunjukkan betapa budaya kita masih melekatkan keperawanan pada identitas perempuan. 

Perawan atau tidak perawan tidak seharusnya menjadi bagian identitas diri perempuan. Saatnya kita bebaskan harga diri perempuan dari persoalan keperawanan.

Catatan:

Ilustrasi saya ambil dari karya Elisa Iannacone, cinematographer yang juga rape survivor. Foto bertutur tentang penghayatan seperti tenggelam, dan rel kereta adalah satu-satunya objek (pada saat kejadian) yang terekam dalam ingatan korban. Foto adalah cara lain bercerita ketika bibir tak mampu bertutur (Iannacone, 2016).

Terima kasih untuk Friska Melani dan Kristi Poerwandari (mengenai pengukuhan ide patriarkal).